
"Jadi laki-laki jangan suka berdrama" ucap seseorang tiba-tiba dari arah pintu masuk ke ruang tamu.
Seseorang itu adalah Vincent diikuti oleh Rubi dibelakangnya. Keduanya berjalan menuju kearah Aleta dan Devan kemudian dengan sigap menyembunyikan mamanya dibelakang mereka. Sedangkan Devan sedari tadi memperhatikan dengan seksama mulai dari kedatangan kedua anaknya sampai mereka kini ada dihadapannya. Sungguh Devan terpesona dengan wajah tampan Vincent yang mirip dengannya, bahkan Rubi sangat cantik seperti Aleta.
"Napa lihat-lihat? Jangan lama lihat-lihatnya, nanti naksir. Rubi nggak suka cowok yang takut hantu" ceplos Rubi dengan meledek Devan.
Mendengar hal itu sontak saja Devan langsung tersadar dari lamunannya. Dia mendengus kesal karena kejadian waktu ia ketakutan melihat hantu itu kembali diungkit oleh anaknya. Kemudian ia menjongkokkan badannya untuk menyamakan tingginya dengan kedua anaknya. Tangannya terulur untuk mengusap rambut keduanya, namun tak disangka bahwa Vincent langsung menepisnya dengan cepat.
Plakkk...
"Jangan sentuh rambutku dan juga adikku" ucap Vincent dengan menatap tajam kearah Devan.
Vincent terus menatap Devan dengan tatapan permusuhan terlebih saat tadi Aleta menitikkan air mata karena perbuatan laki-laki itu. Ia takkan membiarkan Devan mudah untuk mendapatkan maaf dari Aleta, terlebih pernikahan mereka memang harus perlu diperjelas jika akan kembali bersama. Apalagi Devan sudah tak memberikan nafkah lahir maupun batin selama ini.
Mata Devan terlihat sendu saat mendengar ucapan dari anaknya itu. Terlebih dari keduanya tak ada tatapan kerinduan saat melihatnya. Devan yakin kalau Aleta sudah memberitahu tentang dirinya kepada mereka. Buktinya saja mereka langsung tahu kalau dirinya adalah orang yang melukai mamanya.
"Aleta, aku mohon. Demi anak-anak, kita memulai semuanya dari awal ya" ucap Devan sambil menatap kearah wanita itu.
"Demi anak-anak? Memang anak-anakku selama ini kenapa? Mereka selama ini bahagia-bahagia saja tuh tanpa ada kamu" ucap Aleta dengan nada datarnya.
"Benar, tanpa anda kami baik-baik saja. Bahkan sangat baik" ucap Vincent membenarkan ucapan mamanya.
Jantung Devan begitu bergerumuh bahkan kini pikirannya amburadul karena perkataan yang keluar dari mulut Aleta dan Vincent. Ia tak menyangka jika luka yang dia tanamkan di hati mereka sangatlah dalam membuat semuanya terlihat sangat membenci dirinya. Matanya kini berkaca-kaca dihadapan ketiga orang yang sangat ia cintai itu, namun mereka sama sekali tak merasa kasihan padanya.
__ADS_1
"Ini papa, nak? Kalian tak boleh membenci papa seburuk apapun dia, dia tetaplah orangtuamu. Maafkanlah papa..." ucap Devan dengan tatapan memelasnya menghadap kearah kedua anaknya.
"Kami nggak peduli anda itu siapa. Yang kami tahu selama ini, orangtua kami hanyalah Mama Aleta. Dia yang berperan sebagai papa dan mama bagi kami" ucap Rubi.
"Ayo ma kita istirahat. Rubi udah ngantuk" lanjutnya sambil menutup mulutnya dengan tangan karena menguap.
"Huft... Tolong kamu pergi dari rumah kami. Kami ingin istirahat" ucap Aleta mengusir Devan yang masih terus menatap kedua anaknya.
Devan menggelengkan kepalanya tanda bahwa ia tak mau meninggalkan rumah ini. Dia malah berdiri dari posisi berjongkoknya kemudian merebahkan dirinya diatas sofa ruang tamu. Hal ini membuat Aleta dan kedua anaknya mendengus kesal karena sifat keras kepala laki-laki itu.
"Dev, pergi. Nggak baik laki-laki dewasa menginap di rumah seorang janda. Kalau ada yang tahu kita bisa di gerebek" usir Aleta.
"Nggak papa digerebek, biar bisa nikah ulang kalau memang status kita sudah tak sah sebagai suami istri" ucap Devan santai.
Karena kesal usirannya tak dipedulikan oleh Devan, akhirnya Aleta memilih menggandeng tangan kedua anaknya kemudian masuk kedalam kamarnya. Ia dengan pasrah membiarkan Devan menginap di rumahnya sambil memikirkan rencana untuk mengusirnya esok hari.
Sedangkan kedua anak Aleta yang melihat mamanya sudah tertidur pun akhirnya berdiskusi untuk merencanakan sesuatu. Mereka langsung saja keluar dari kamar dengan membawa spidol permanen kemudian menuju kearah ruang tamu. Rubi melambai-lambaikan tangannya didepan wajah Devan namun sama sekali tak terlihat adanya pergerakan di kelopak matanya. Hal ini berarti bahwa Devan telah tertidur pulas dan sama sekali tak terganggu dengan kegiatan keduanya.
"Aku warna merah dan biru. Kak Vincent yang hitam" ucap Rubi pelan sambil menyerahkan spidol kearah kakaknya itu.
Keduanya asyik dengan kegiatannya melukis di wajah tampan Devan sambil terkikik geli. Ia yakin bahwa esok hari mamanya akan sangat terkejut dengan rupa dari papanya itu. Setelah beberapa menit berakhir, keduanya selesai dengan aksinya. Mereka segera saja pergi dari ruang tamu setelah kegiatan itu berakhir.
***
__ADS_1
Keesokan harinya...
Aleta memulai kegiatannya dengan membersihkan rumahnya, sedangkan kedua anaknya masih tertidur dengan pulas begitu pula dengan Devan. Aleta pun akan mulai menyapu area ruang tamu namun tiba-tiba saja matanya melotot saat melihat pemandangan diatas sofa. Disana ia melihat Devan yang tertidur dengan mulutnya yang terbuka dan wajah yang penuh coretan spidol warna. Segera saja ia langsug tertawa terbahak-bahak.
Hahahaha...
Karena mendengar suara orang tertawa, akhirnya Devan pun merasa terusik dan terbangun dari tidurnya. Ia mengerjapkan kedua matanya dan melihat Aleta tengah berdiri sambil tertawa sendirian. Dengan keadaan linglung, Devan melihat kearah sekitarnya untuk menerka-nerka tentang apa yang membuat Aleta sampai tertawa seperti itu.
Namun setelah beberapa saat, ia kebingungan karena sama sekali tak melihat sesuatu yang lucu didekatnya. Devan jadi berpikir bahwa Aleta sudah tidak waras karena tertawa sendirian.
"Kamu kenapa ketawa kaya gitu sih, Leta? Perasaan nggak ada yang lucu" tanya Devan dengan bingung.
"Lah... Ya kamu itu yang lucu" ucap Aleta tertawa.
"Wah... Aku kan memang lucu dari dulu" ucap Devan dengan membanggakan dirinya sendiri.
Sontak saja mata Devan berbinar antusias saat mendengar kalau Aleta memujinya. Padahal Aleta bukan bermaksud untuk memuji Devan. Aleta yang mendengar ucapan Devan pun seketika menghentikan tawanya kemudian mencebikkan bibirnya kesal.
"Coba kau lihat tuh ke cermin, kau akan tahu kenapa aku bisa tertawa sendirian" ketus Aleta.
Devan pun dengan polosnya menuruti ucapan dari Aleta kemudian bangkit dari tidurannya di sofa. Ia segera menuju kearah cermin yang berada di pojok ruang tamu dan langsung saja matanya melotot saat melihat wajahnya sendiri.
Arrrgghhhhh.....
__ADS_1