
Devan menjalani hidupnya selama 5 tahun ini tanpa kehadiran Aleta dengan suasana yang begitu suram. Tak ada lagi Devan yang ramah pada semua orang terutama perempuan. Yang ada hanya Devan yang tak bisa menahan emosinya, temperamental, egois, dan ambisius. Bahkan sahabat-sahabatnya pun sudah mengingatkan dia untuk mengatur emosinya, namun selalu dapat amarah dari laki-laki itu.
Perubahan pada wajah dan tubuhnya pun sangat terlihat. Devan terlihat tak terurus bahkan berat badannya lebih menyusut dan wajahnya terlihat lebih tua dari usianya karena terlalu sibuk dengan pekerjaan serta memikirkan tentang Aleta. Ia mengalihkan semua pikirannya tentang Aleta dengan menyibukkan diri dengan pekerjaan tanpa mengingat waktu makan dan istirahat.
Seina, wanita yang mengaku mengandung anaknya pun sudah melahirkan sekitar 4 tahun yang lalu. Seorang anak laki-laki bernama Denandra Megantara atau dipanggil dengan nama Andra disematkan oleh wanita itu. Devan yang mengetahui jika namanya disematkan pada anak yang bukan darah dagingnya pun sempat marah besar. Namun Seina yang dasarnya bebal, tak mempedulikan hal itu.
Kedua orangtua Aleta dan Devan sudah mengetahui tentang apa yang terjadi dengan rumah tangga anaknya itu. Awalnya mereka sangat kecewa dengan apa yang dilakukan oleh Devan, namun saat ini hubungan mereka sudah sangat baik dengan membantu laki-laki itu mencari keberadaan Aleta.
Orangtua Devan juga menerima Andra sebagai cucunya karena Seina yang terus mendekati mereka. Mereka kasihan dengan Andra yang tak tahu apa-apa mengenai permasalahan orang dewasa. Walaupun sudah menerima Andra, tak berarti mereka terbuka dengan kehadiran Seina. Bahkan Devan pun enggan untuk menikahi wanita itu walaupun Seina terus saja mendekat padanya seperti saat ini.
"Pergi dari ruanganku" sentak Devan pada Seina yang tiba-tiba saja masuk kedalam ruang kerjanya.
"Dev, makan dulu yuk" ucap Seina dengan lembut mengabaikan ucapan Devan yang mengusirnya.
Seina mengajak Devan untuk makan siang bersamanya dan juga Andra. Ini adalah hari minggu dan Devan masih saja berkutat dengan banyak pekerjaan. Devan tak lagi bekerja di sebuah perusahaan, namun dia membangun sendiri usahanya. Memang belum besar, namun usaha yang dibangun oleh Devan ini sudah dikenal banyak orang. Usaha yang dibuat Devan itu tak jauh-jauh dari pembuatan design pembangunan rumah, set kitchen, dan juga gedung.
"Saya nggak lapar. Silahkan keluar dari ruangan saya sebelum saya habisi kamu di ruangan ini" ancam Devan dengan tangan yang sudah mengepal dengan erat.
__ADS_1
Devan sangat benci dengan wanita didepannya ini, karena Seina adalah orang yang telah menghancurkan kehidupan rumah tangganya. Ingin sekali dia menghabisi Seina yang tak menyerah untuk mendekatinya itu, namun keduanya akan marah besar jika ia sampai melakukan semua itu. Kedua orangtuanya masih memikirkan cucunya, Andra yang nantinya tak ada yang mengurus jika ibunya tak ada.
"Tapi Dev..."
"Pergi" sentak Devan dengan menyela ucapan Seina.
Bahkan terlihat sekali kalau Devan sudah habis kesabarannya. Matanya memerah menahan segala emosi yang kini bergejolak didalam dadanya. Devan menatap tajam kearah Seina yang badannya sudah bergetar ketakutan. Melihat wajah Devan yang sudah tak bersahabat, akhirnya Seina memilih untuk pergi dari ruangan laki-laki itu.
Mereka kini berada di rumah kedua orangtua Devan. Sejak kejujurannya 4 tahun yang lalu kepada kedua orangtuanya membuat Devan tinggal bersama mereka. Hal inilah yang dimanfaatkan oleh Seina untuk selalu datang ke rumah orangtua Devan dengan beralasan bahwa Andra kangen dengan nenek dan kakeknya.
***
Setelah berhasil meredam kemarahannya, Devan segera saja keluar dari ruang kerjanya kemudian mencari keberadaan kedua orangtuanya. Ternyata ayah Devan, Seina, dan Andra tengah berada di meja makan sedangkan ibunya tak tahu dimana keberadaannya.
Devan segera mencari ibunya yang ternyata berada di belakang rumah sedang menjemur pakaian. Ia pun segera mendekat kearah ibunya dan langsung berbicara tentang kehadiran Seina.
"Baiklah, lagi pula tak baik juga jika seorang wanita datang bertamu ke tempat oranglain yang bukan saudaranya pagi-pagi begini. Bisa saja nanti timbul fitnah" ucap Ibu Devan menenangkan anaknya.
__ADS_1
Ibu Devan yang bernama Lutfia atau Fia ini memang kurang suka dengan kehadiran Seina. Dia menrima Seina sering ke rumahnya hanya karena adanya Andra saja. Akhirnya Ibu Fia dan Devan melangkahkan kakinya kearah ruang makan. Sesampainya disana ternyata semua yang ada di ruang makan telah selesai memakan sarapannya.
"Seina, sarapan kan sudah selesai. Alangkah baiknya jika kamu pulang saja dari sini. Bukannya iu mengusir, hanya saja tak enak dengan tetangga sekitar jika kamu kelamaan di rumah kami. Kamu kan bukan istrinya Devan dan bukan pula saudara kami, jadi lebih baik kamu untuk nggak sering-sering kesini. Kalau untuk Andra biarkanlah dia disini lama nggak papa, biar kami yang mengurusnya" ucap Ibu Fia dengan nada tenangnya.
"Makanya dong bu, suruh Devan cepat nikahi Seina. Dipikir nggak capek apa dengarin omongan jelek tetangga karena punya anak hasil diluar nikah" ketus Seina.
Kedua orangtua Devan terkejut dengan ucapan Seina yang sangat ketus. Pasalnya selama bertahun-tahun ini, Seina selalu berbicara lembut bahkan sangat sopan ketika berhadapan dengan keduanya. Devan tersenyum miring diam-diam karena tanpa dia membongkar ternyata sifat asli Seina terbongkar oleh dirinya sendiri.
"Salahnya siapa dulu dimasukin siapa saja mau, murah sih" ucap Devan dengan ucapan pedasnya.
Seina yang tak terima dengan hinaan Devan pun dengan segera mengambil piring yang masih bersih dan akan melemparnya kearah laki-laki itu. Namun teriakan Andra membuat wanita itu mengurungkan niatnya.
"Mama... Jangan sakiti papa" larang Andra.
Andra lebih sering membela dan sayang pada Devan daripada ibu kandungnya sendiri. Hal ini disebabkan didikan Seina yang sangat keras pada anak kecil itu, berbeda dengan keluarga Devan yang mendidiknya dengan lembut. Namun Andra tak pernah mengadukan sikap ibunya itu kepada keluarga Devan karena takut jika dimarahi.
"Bapak sama anak sama saja. Tidak berguna dan tak ada yang menyayangiku" seru Seina yang langsung mengambil tasnya yang berada di kursi.
__ADS_1
Seina segera berlalu keluar dari rumah keluarga Devan tanpa pamit kepada pemiliknya. Kedua orangtua Devan hanya bisa menghela nafas lelahnya setelah mengetahui sifat asli Seina. Sedangkan Devan langsung saja duduk di sebelah Andra dan memakan sarapannya dengan hikmat. Andra begitu senang karena bisa melihat papanya duduk makan bersama seperti ini. Pasalnya selama ini Devan tak mau makan bersama kalau ada Seina.