
Devan terus diam sambil memperhatikan kedua anaknya yang sedari tadi sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Rubi masih sibuk memeriksa seluruh isi dalam mobilnya sedangkan Vincent hanya duduk sambil bermain dengan ponselnya. Sekarang dia tengah bingung dengan apa yang akan ia bicarakan pada keduanya setelah melihat respons mereka yang terlihat acuh pada dirinya.
"Kalian sudah menerima papa sebagai ayah kalian?" tanya Devan sambil menatap lurus kedepan.
Sedangkan Vincent dan Rubi yang mendengar pertanyaan dari papanya langsung saja menghentikan kegiatannya dan mengalihkan pandangannya kearah Devan. Terlihat sekali kalau dalam pandangan matanya itu ada banyak kekosongan seperti jiwanya. Tatapannya begitu sendu bahkan terlihat raut kecewa dalam mata itu.
"Setelah apa yang ada lakukan pada mama, apakah masih pantas pertanyaan itu kamu tanyakan pada kami?" tanya Rubi dengan senyum sinisnya.
"Kalau kau memang sungguh-sungguh ingin kembali pada kami, berjuanglah lebih banyak agar mama bisa luluh. Kedepannya, kami akan menyeleksi siapapun yang akan dekat dengan mama termasuk anda" ucap Vincent dengan senyum miringnya.
Ada banyak sekali rencana yang telah disusun oleh Vincent demi mengetahui tentang tujuan dari papanya yang mendekati keluarganya lagi. Dia tak ingin sembarangan menerima orang masuk dalam keluarganya walaupun itu papa kandungnya sendiri. Keselamatan dan kebahagiaan ibunya adalah harga mati bagi dirinya.
__ADS_1
Devan yang mendengar ucapan dari kedua anaknya pun hanya menjawabnya dengan senyuman tipis. Ia tahu kalau dirinya tak pantas dimaafkan dengan semudah itu bahkan mungkin ia harus melalui banyak rintangan kedepannya untuk mendapatkan kembali Aleta dan kedua anaknya.
"Untuk permulaan, anda bisa membantu kami agar laki-laki itu menjauh dari kehidupan mama" ucap Rubi dengan sinisnya.
Devan yang mendengar ucapan itu tentunya senang bukan main seakan mendapatkan angin segar untuk mendapatkan kembali Aleta dan kedua anaknya. Ini juga pertanda bahwa kedua anaknya kini memberikan kesempatan untuk dirinya membuktikan tentang keseriusannya.
Akhirnya Devan menyetujui ucapan dari Rubi. Ketiganya berunding untuk menghempaskan Lucas dari kehidupan Aleta. Berbagai rencana ketiganya susun didalam mobil Devan itu hingga tak berapa lama mereka melihat bahwa Aleta dan Lucas tengah berjalan menuju tempat parkir.
"Ayo sayang, kita pulang" ajak Devan dengan lembut sambil menarik tangan Aleta dengan lembut.
Perbuatan Devan ini membuat Aleta memelototkan matanya terlebih Lucas yang tak terima. Lucas pun dengan sigap menarik sebelah tangan Aleta. Kedua laki-laki itu sibuk dengan tarik-tarikan tangan Aleta membuat wanita itu kebingungan.
__ADS_1
"Kok jadi kaya orang main tarik tambang sih" gumam Rubi pelan.
Gumaman Rubi ini tentunya masih terdengar oleh Vincent yang berada disampingnya. Ia menyetujui ucapan kembarannya itu, sepertinya mereka salah dalam mengajak orang bekerjasama. Terlebih Devan tingkahnya hampir sama dengan Lucas yang terlihat kekanak-kanakan.
"Kok jadi main tarik-tarikan kaya gitu sih. Kaya anak kecil rebutan permen aja" seru Rubi memberengut kesal.
Lucas dengan segera melepaskan tangan Aleta membuat wanita itu terhuyung kesamping. Beruntungnya ada Devan yang sigap menahan Aleta agar tak jatuh ke aspal. Devan menahan Aleta dalam pelukannya bahkan mereka sempat bertatapan beberapa detik walaupun setelahnya langsung memalingkan wajahnya.
Aleta segera melepaskan pelukan Devan kemudian ditarik kedua tangannya oleh anak-anaknya. Kedua anaknya segera menarik Aleta menuju mobil milik Devan. Devan yang paham dengan hal ini pun langsung saja berlari kecil menuju mobilnya sambil memeletkan lidahnya kearah Lucas.
"Sialan..." gerutu Lucas merasa tersinggung atas tindakan Devan.
__ADS_1