
"Devan, selesaikan masalahmu dengan wanita ular itu" kesal Ibu Fia.
Saat Devan memasuki rumahnya dengan Vincent yang ada digandengan tangannya, dirinya langsung disambut dengan kekesalan ibunya. Vincent segera pergi meninggalkan Devan yang tentunya akan membicarakan tentang masalah orang dewasa. Vincent memilih bergabung dengan Andra dan Rubi yang kini tengah fokus dengan mainannya masing-masing.
"Iya, bu. Kita harus punya strategi untuk menyelesaikan semuanya. Kita tak bisa melawannya dengan kekerasan karena dia sungguh bebal" ucap Devan yag terlihat begitu frustasi.
"Benar apa yang dikatakan oleh Devan, bu. Menghadapi wanita seperti Seina itu kita harus bermain cantik" ucap Aneta mendukung apa yang akan direncanakan suaminya itu.
Ibu Fia sudah benar-benar kesal tingkat tinggi ketika melihat wajah wanita itu. Beruntungnya wajah Andra menurun dari Devan membuatnya tak bisa melampiaskan kemarahan pada bocah kecil itu.
__ADS_1
"Ya sudahlah kalian pikirkan rencana atau apa terserah. Yang jelas kami hanya ingin hidup tenang tanpa ada gangguan dari wanita itu" ucap Ibu Renita.
"Pesan kami, jaga anak-anak kalian. Jangan sampai karena masalah orang dewasa dan cinta segitiga atau empat ini membuat mereka jadi korbannya" pesan Ibu Fia.
Ibu Fia, Ayah Akbar, dan Ayah Sugeng menganggukkan kepalanya setuju dengan ucapan dari Ibu Renita. Terlebih hal ini nantinya juga akan berpengaruh pada kondisi psikis cucu-cucunya terutama Andra. Beruntung sikap Andra saat ini sudah membuktikan jika bocah kecil itu tak menuruni sifat ibunya.
Para orangtua langsung saja pergi berlalu masuk kedalam kamar meninggalkan anak dan cucu mereka di ruang keluarga. Devan memilih bergabung dengan Aneta dan anak-anaknya.
Devan menatap tak percaya kearah anaknya itu. Ia berpikir bagaimana cara anaknya itu bisa menyelesaikan masalah orang dewasa. Yang ia tahu kalau anak-anak seusia Vincent, Rubi, dan Andra adalah sibuk dengan dunia bermainnya. Selama beberapa hari tahu tentang Vincent, ia tak menemukan sebuah keanehan pada diri anak itu. Semua berjalam sesuai dengan usianya.
__ADS_1
"Anda jangan meragukan kak Vincent. Dia jauh lebih cerdas dari yang orang kira" ucap Rubi tiba-tiba saat tahu jika papanya meragukan kakaknya itu.
Bahkan Aneta sebenarnya juga ragu dengan kemampuan anaknya itu. Namun selama ia tinggal dengan Vincent, memang anak itu berbeda dengan bocah lain yang seumuran. Disaat oranglain hanya menggunakan ponsel untuk melihat kartun atau nyanyian, dia sempat melirik jika anaknya itu sedang memasukkan kode rahasia yang ia tak tahu apa maksudnya.
Selama tinggal bersama juga hidupnya sangat tenang bahkan saat ada sesuatu yang membahayakan, dengan sigap Vincent langsung tahu dan membuat mereka terhindar.
"Jangan ragukan kemampuan mereka, aku yang hidup selama 4 tahun lebih dengannya pun bisa merasakan kalau Vincent mempunyai kelebihan yang tidak aku tahu" ucap Aneta sambil mengelus bahu Devan yang ada disampingnya.
Devan menganggukkan kepalanya mengerti, bahkan ia langsung memeluk Vincent yang berada dibawahnya. Ia menggumamkan kata maaf berulangkali karena tak percaya dengan kemampuan anaknya.
__ADS_1
"Kita lawan dua orang itu sama-sama. Papa yakin jika kamu bisa membantu kami untuk memberantas siapapun yang mengganggu ketenangan keluarga kita" ucap Devan sambil tersenyum.
Vincent menganggukkan kepalanya mengerti sambil tersenyum tipis. Mereka akhirnya memutuskan untuk saling bercanda di ruang keluarga, berkumpul untuk saling melepaskan kerinduan.