ASEP (Akhir Sebuah Pengkhianatan)

ASEP (Akhir Sebuah Pengkhianatan)
Lalala


__ADS_3

Vincent dan Rubi tertawa cekikikan di kamar karena mendengar teriakan dari Devan yang begitu menggelegar. Ia yakin setelah ini mamanya akan mengomel kepada keduanya karena telah menjahili Devan. Namun mereka juga punya alasan tersendiri mengapa memilih untuk membuat lukisan di wajah papanya itu. Ini adalah awal dari kejahilan mereka untuk memberikan test kepada Devan tentang sebuah kesabaran dan ketulusan laki-laki itu.


"Vincent... Rubi..." teriak Aleta memanggil kedua anaknya yang berada di kamar.


Keduanya pun bergegas keluar dari kamar kemudian berjalan menuju kearah ruang tamu. Mereka berdua saling bergandengan tangan bahkan menampilkan raut wajah tak bersalah sama sekali. Tatapannya begitu polos saat melihat keadaan Devan yang sudah berantakan bahkan rambutnya acak-acakan.


"Ada apa, ma?" tanya keduanya bersamaan.


"Kalian ngapain wajah dia?" tanya Aleta sambil berkacak pinggang.


"Mana kita tahu mama. Kan semalam kami tidur bersama mama dan nggak keluar dari kamar sama sekali" jawab Rubi dengan menatap polos kearah mamanya.


Melihat ucapan anaknya tak serta merta membuat Aleta percaya. Pasalnya kedua anaknya ini seringkali jahil pada seseorang yang ingin mendekatinya. Dia menatap anak perempuannya itu dengan intens dan melihatnya begitu gugup pertanda bahwa anaknya itu memang berbohong.


"Jangan dimarahi, Leta. Mungkin mereka menjahiliku karena kangen bermain dan bercanda dengan papanya" ucap Devan dengan percaya diri.


Aleta berdecih mendengar jawaban dari Devan itu, terlebih sikap terlalu percaya dirinya itu membuatnya muak. Kedua anaknya pun sama langsung menatap sinis kearah Devan yang dibalas tatapan santai oleh laki-laki itu. Devan pikir kalau dengan cara bersikap acuh tak acuh inilah bisa membuatnya dekat dengan Aleta dan kedua anaknya.


"Sudah sana pulang, ngapain sih lama-lama disini. Sekalian tuh bersihkan wajahmu pakai bensin biar bersih lagi, setelahnya bisa kamu bakar" ucap Aleta dengan ketus.


"Yah... Nanti kalau pakai bensin lalu dibakar, bisa hilang dong ketampananku" ucap Devan sambil menyugar rambutnya ke belakang menggunakan tangannya.


Aleta dan kedua anaknya memutar bola matanya malas mendengar bualan dari Devan itu. Namun tiba-tiba saja dirinya tersadar akan sesuatu membuatnya langsung berteriak.


"Arrrghhhh... Ini spidol permanen kah? Kok bersihinnya harus pakai bensin" seru Devan panik.

__ADS_1


"Ya iyalah, masa ya iya dong. Disini cuma ada spidol permanen nggak ada yang biasa" jawab Rubi dengan mengejek.


Devan yang masih tak percaya dengan ucapan anaknya pun langsung saja mengambil air kemasan yang ada diatas meja. Kemudian ia mengusap wajahnya yang terkena spidol itu dengan air itu dan menggosoknya pelan. Benar saja, setelah lama digosok ternyata wajahnya memerah namun coretan spidolnya tak hilang.


Devan menekuk wajahnya lesu sedangkan Rubi dan Vincent terkekeh geli. Aleta merasa kasihan karena ulah anaknya membuat Devan seperti itu. Tanpa berpamitan, Devan pergi berlalu keluar rumah Aleta.


Aleta, Vincent, dan Rubi langsung berlari kecil untuk melihat apa yang akan dilakukan oleh Devan. Ternyata Devan memasuki mobilnya kemudian pergi berlalu dari rumah Aleta. Bahkan ia tak berpamitan sama sekali dengan Aleta dan kedua anaknya.


"Biarin aja sih, ma. Lagi pula ini bukan yang kita inginkan? Dia segera pergi dari rumah kita, kenapa jadi kalian yang sedih begini?" tanya Vincent menatap Aleta dan Rubi dengan tatapan menyelidik.


Pasalnya kini tatapan dua perempuan berbeda usia itu sangat sendu dan terus menatap kearah jalanan yang mobil Devan tadi lewati. Hal ini membuat Vincent curiga dengan tingkah keduanya, ia berpikir bahwa mereka merasa kehilangan Devan.


"Siapa bilang kita sedih? Biasa aja tuh" elak Rubi yang kemudian menggandeng tangan Aleta untuk memasuki rumah meninggalkan Vincent yang masih didepan pintu.


Vincent yang ditinggalkan begitu saja hanya bisa mendengus kesal lalu langsung menyusul keduanya setelah menutup pintu rumah.


Devan berjalan di lobby apartemen Raga dengan menggunakan masker dan juga topi untuk menutupi wajahnya. Rencananya dia akan membersihkan wajahnya ini di apartemen Raga karena kalau pulang ke rumah bisa-bisa dia hanya akan diomeli panjang lebar oleh ibunya terlebih semalam dirinya tak pulang.


Tok... Tok... Tok...


Devan terus mengetuk pintu apartemen Raga hingga sang empunya membukanya. Raga sudah terlihat rapi dengan setelan kemeja dan celana bahannya. Raga mengernyitkan dahinya bingung saat melihat seseorang didepannya yang tak ia kenali itu.


Devan segera saja masuk kedalam tanpa membuka topi dan maskernya membuat Raga segera saja menyusulnya. Dari arah belakang kini Raga tahu kalau orang yang didepannya ini adalah Devan setelah laki-laki itu membuka topinya.


"Ngapain sih loe pagi-pagi kesini? Main nyelonong masuk aja" seru Raga.

__ADS_1


Tanpa menjawab apapun, Devan membalikkan badannya dan terlihatlah coretan spidol yang ada diwajahnya. Sontak saja Raga langsung tertawa terbahak-bahak saat melihat wajah sahabatnya itu.


Hahahaha...


"Ngapain loe coret-coret wajah kaya gitu? Udah jelek makin jelek aja" ledek Raga sambil tertawa.


"Sialan loe..." ketus Devan.


Devan segera masuk kedalam kamar Raga untuk mengambil cairan pembersih wajah khusus yang sahabatnya itu punya. Setelah menemukannya, ia segera berjalan keluar kamar dan duduk di ruang tamu. Tanpa menghiraukan Raga yang masih tertawa, Devan segera saja membersihkan wajahnya dengan kapas dan cairan pembersih itu.


"Ini ulah anak-anak gue sama Aleta" ucap Devan.


"Wah... Gokil dua anak loe, baru mau ngakuin sebagai papa mereka eh udah dikerjain kaya gini" ucap Raga sambil geleng-geleng kepala.


"Gue baru tahu kelakuan mereka kaya gini sama orang yang udah nyakiti mamanya. Nggak tahu deh ntar gimana kelanjutannya, pasti berat banget nih gue harus berjuang naklukin dua pawang Aleta itu" ucap Devan.


Raga hanya menganggukkan kepalanya. Dirinya kalau menjadi Devan juga akan berpikir keras memikirkan cara agar bisa dekat dengan Aleta dan kedua anaknya. Melihat wajah Devan yang sudah bersih, Raga segera mengambilkan sarapan untuk laki-laki itu.


"Nih... Sarapan dulu" ucap Raga sambil menyerahkan sepiring nasi.


Devan segera menyambar piring itu kemudian memakan makanannya dengan lahap. Sejak kemarin malam dirinya belum makan sama sekali terlebih tadi pagi dia langsung saja pergi dari rumah Aleta tanpa meminta sarapan.


"Gue semalam nginap di rumah Aleta. Udah diusir tapi tetap kekeh disana, alhasil pas tidur dikerjain sama dua bocil itu" ucap Devan bercerita.


"Ini mah juga salahnya loe. Harusnya kalau dekatin itu pelan-pelan, ini udah langsung nyosor nginap disana" ledek Raga.

__ADS_1


Devan merasa acuh tak acuh dengan saran dari Raga. Devan merasa Raga tak mengerti perasaannya sehingga menyuruhnya seperti itu. Ia ingin hasil yang cepat sehingga lebih memilih untuk menginap disana.


__ADS_2