ASEP (Akhir Sebuah Pengkhianatan)

ASEP (Akhir Sebuah Pengkhianatan)
Cemburu


__ADS_3

Lucas menghabiskan waktunya seharian itu dengan mengecat ulang gedung yang akan dijadikan galeri lukis oleh Rubi. Tanpa dibantu oleh Rubi dan Vincent maupun Aleta. Lucas mengerjakan semuanya sendirian. Dia sangat lelah namun ditahannya demi menarik simpati dari Aleta. Sedangkan Aleta kini tengah berada di dapur untuk memasak makanan. Rubi dan Vincent menatap julid kearah Lucas yang selalu mencari perhatian kepada mamanya.


Saat Aleta tengah memasak didalam rumah, Rubi dan Vincent asyik bermain dengan kuas serta cait air. Entah apa yang akan dilakukan kedua bocah itu diatas kertas gambar itu, sedangkan Lucas langsung saja menegur keduanya agar segera membantu dirinya. Jika tak ada Aleta, Lucas tak segan-segan untuk menunjukkan ketidaksukaannya pada kedua bocah itu.


"Hei bocah... Mata kau tak lihat kalau aku ini sedang sibuk? Cepat bantu aku menyelesaikan ini, aku ingin segera pulang dan tidur di kasurku yang begitu empuk" seru Lucas dengan kesal.


"Bodo amat, anda tadi yang menawarkan maka kerjakanlah sendiri" ketus Rubi.


"Sialan... Kalau aku sudah mendapatkan ibumu, akan ku buang kalian ke selokan" kesal Lucas.


"Takkan pernah kami membiarkan anda untuk memiliki mama. Dasar laki-laki udik" ketus Rubi.


Lucas yang mendengar jawaban dari anak Aleta pun seketika mengepalkan kedua tangannya. Ingin sekali dia memusnahkan keduanya namun ia haruslah memiliki rencana matang agar semuanya tak ketahuan. Sedangkan Vincent sedari tadi mengamati ekspresi Lucas yang begitu emosi mendengar jawaban-jawaban yang dilontarkan oleh adiknya.


"Sebelum kau akan mendekati mamaku, aku pastikan jika tangan atau kakimu akan bergeser dari tempatnya" ucap Vincent dengan nada dinginnya.


Lucas yang mendengar ucapan Vincent seketika saja membuatnya gugup bahkan ia harus memegang tangga besi yang menjadi pijakannya. Lucas merasa bahwa Vincent mempunyai aura penguasa yang membuat setiap kalimat yang ia ucapkan itu seperti sebuah ancaman.


Ditengah tatapan dingin yang diarahkan Vincent pada Lucas, tiba-tiba saja Aleta datang dengan membawa nampan berisi makanan untuk makan siang. Sontak saja Vincent langsung mengubah mimik mukanya menjadi polos seperti anak kecil pada umumnya. Hal itu juga terjadi pada Lucas yang langsung tersenyum ketika Aleta datang.


"Ayo makan siang dulu. Kita lanjut lagi nanti" ucap Aleta dengan senyum tipisnya.


Lucas pun langsung turun dari tangga dan bergabung duduk lesehan untuk melaksanakan makan siang. Aleta pun menata semua makanan diatas tikar kemudian semua duduk melingkari masakan itu. Akhirnya semua mengambil makanannya masing-masing lalu makan siang dengan hikmat.

__ADS_1


***


Disisi lain, di seberang jalan gedung yang akan dijadikan galeri lukis oleh Rubi ada sebuah mobil hitam yang sedari tadi terus mengawasi pergerakan yang ada di gedung itu. Bahkan sedari tadi tangannya mengepal erat melihat pemandangan istrinya itu dekat dengan seorang laki-laki yang waktu itu ada di restorant.


"Bisa-bisanya tuh laki dekatin Aleta saat masih mempunyai hubungan dengan Seina" gumam laki-laki yang berada didalam mobil yang tak lain adalah Devan.


Devan merasa cemburu bukan karena laki-laki itu dekat dengan Seina, namun ia tak terima jika ada yang mendekati istrinya. Sebelum hasil test DNA itu keluar, dia tak bisa bergerak secara leluasa untuk mendekati mereka. Dengan amarah yang memuncak karena rasa cemburunya, Devan pun segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia sudah tak kuat jika harus melihat keakraban Aleta dan laki-laki itu walaupun kedua anaknya terlihat tak respect dengannya.


***


Setelah beberapa menit berkendara, Devan akhirnya menghentikan mobilnya di sebuah perusahaan IT terkenal. Ia segera masuk kedalam perusahaan itu setelah memarkirkan mobilnya. Dengan langkah wibawanya, Devan memasuki area lobby perusahaan itu membuat beberapa karyawan wanita menatapnya dengan kagum. Walaupun Devan bukan pekerja disana, namun ia sering keluar masuk perusahaan itu. Hal ini dikarenakan sahabatnya Raga lah yang mempunyai perusahaan ini.


Devan segera menaiki lift untuk bisa sampai di ruangan milik Raga. Setelah beberapa menit, akhirnya Devan sampai didepan ruangan Raga. Tanpa memngetuk pintu terlebih dahulu, Devan segera saja masuk kedalam ruangan itu dengan membuka pintunya secara kasar.


Orang yang didalam ruangan tentunya berjingkat kaget apalagi kini Raga tengah fokus memandang kearah laptopnya. Raga menatap datar kearah seseorang yang baru saja membuka pintu tanpa sopan itu yang langsung dibalas dengan tatapan santai oleh Devan. Devan memasuki ruangan Raga kemudian tiduran diatas sofa tanpa menyapa sang pemilik ruangan.


"Dasar nggak punya sopan santun. Untung sahabat, kalau bukan udah gue usir tuh orang dari negara ini" gumam Raga.


Devan yang mendengar gumaman Raga pun membiarkan hal itu, bahkan ia tak menanggapinya. Ia malah mengubah posisi tidurnya agar nyaman. Raga yang melihat Devan mengacuhkannya pun langsung saja menggerutu panjang lebar.


"Loe nggak punya kerjaan apa gimana sih? Tiap hari nemuin gue mulu, jangan-jangan loe cinta sama gue lagi" ucap Raga dengan bergidik ngeri.


"Amit-amit, gue masih lurus. Gue nggak kerja pun, duit ngalir terus ke rekening" sombong Devan.

__ADS_1


"Cih... Sombong, apa gunanya tuh duit kalau istri loe kabur tapi nggak bisa buat nemuin sendiri" ucap Raga dengan ketus.


Jawaban menohok dari Raga itu seketika membuat Devan membuka matanya kembali. Ia menatap Raga dengan tajamnya, sedangkan sang empu hanya menanggapinya dengan santai. Devan segera saja berjalan menuju kearah kursi yang berada didepan meja kerja Raga kemudian duduk disana.


Tujuannya ke perusahaan Raga adalah untuk mehilangkan suntuk dan rasa cemburunya tadi. Ia butuh seseorang yang bisa diajak curhat, walaupun sebenarnya ia ingin sekali bercerita kepada ibunya. Namun kedua orangtuanya itu belum diberitahu Devan tentang keberadaan Aleta yang sudah ditemukan.


"Mau apa sih loe kemari? Emang loe pengangguran sampai hampir tiap hari kesini?" tanya Raga.


"Gue lagi galau" ucap Devan lirih sambil menundukkan kepalanya.


Hahahaha...


Mendengar jawaban lirih Devan tentunya membuat Raga tertawa terbahak-bahak. Wajah Devan yang terlihat lesu dengan mengerucutkan bibirnya itu sudah seperti bebek. Namun seketika saja Raga menghentikan tawanya kemudian menatap menyelidik kearah Devan.


"Galau karena siapa loe? Nggak mungkin galauin Aleta yang udah ketemu kan?" tanya Raga.


"Justru udah ketemu Aleta tapi nggak bisa memeluk dan menatap wajahnya secara dekat itu yang bikin galau" kesal Devan.


Raga memang menyarankan sebelum hasil test DNA keluar maka Devan tak boleh menemui Aleta dulu. Hal inilah yang membuat Devan setiap harinya uring-uringan padanya. Padahal ini untuk kebaikannya juga agar nanti mudah meluluhkan Aleta.


"Bucin..." ejek Raga.


"Biarinlah... Bucin sama istri sendiri nggak salah" ucap Devan.

__ADS_1


"Heleh... Sekarang bucin, dulunya nyelingkuhin" ledek Raga membuat Devan langsung saja terkesiap.


__ADS_2