
Devan pagi-pagi sekali sudah nangkring di depan rumah milik Aleta. Bahkan tanpa mengucapkan salam atau mengetuk pintu terlebih dahulu, ia langsung menyelonong masuk terlebih rumah Aleta tak dikunci. Devan masuk kedalam sambil celingukan karena mencari dimana Aleta dan kedua anaknya berada. Menurutnya jika pintu depan sudah tak terkunci berarti ada salah satu dari mereka yang sudah bangun.
"Ngapain kamu kesini?" ucap seseorang dari belakang Devan membuat laki-laki itu berjengit kaget.
Devan mengusap dadanya pelan untuk menetralkan jantungnya yang seakan ingin melompat dari tempatnya. Devan segera membalikkan badannya kemudian memandang seorang wanita yang begitu ia cintai kini ada didepannya. Seseorang yang menegur Devan itu adalah Aleta.
Penampilan wanita itu begitu cantik tanpa riasan apapun di wajahnya. Wajah polosnya serta hanya menggunakan daster itu begitu membuat aura keibuan dari wanita itu sangat terlihat. Sesaat dirinya terpana dengan kecantikan alami istrinya, setelahnya langsung tersadar saat terdengar deheman dari Aleta.
Hmm...
Devan langsung menggaruk belakang lehernya karena salah tingkah sudah ketahuan memandangi wajah Aleta. Bahkan kini wajahnya sudah memerah malu hingga tak bisa berkata apa-apa. Entah kenapa jika didepan wanitanya ini dia selalu saja gagap seakan kehilangan kata-kata.
__ADS_1
"Kamu ngapain kesini?" tanya Aleta lagi.
Bukannya menjawab pertanyaan Aleta, Devan segera menarik tangan wanita itu untuk duduk di ruang makan. Bahkan Aleta sempat memberotak agar dilepaskan namun cengkeraman tangan Devan begitu kuat sehingga tak bisa lepas begitu saja. Dengan wajah muramnya, Aleta duduk di kursi yang ada di ruang makan diikuti oleh Devan.
"Ayah dan Ibu ingin ketemu kamu bersama anak-anak" ucap Devan langsung mengatakan tujuannya.
Aleta terlihat terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Devan. Saat ini pikirannya bimbang apakah akan menemui kedua orangtua dan mertunya di saat dia belum bisa berdamai dengan masa lalunya. Baru hitungan minggu ia kembali namun kedua orangtuanya sudah mengetahui keberadaannya dan kedua cucunya.
Aleta masih belum mengatakan apa-apa, hanya terdiam dengan pikirannya yang entah berada dimana. Devan yang melihat hal itu tentunya hanya bisa berharap kalau Aleta mau menemui kedua orangtuanya yang disini tak bersalah sedikitpun.
"Baiklah aku akan menemui mereka. Toh disini yang salah adalah dirimu bukan mereka" putus Aleta dengan sedikit menyelipkan sindiran kepada Devan.
__ADS_1
Devan hanya bisa menghela nafasnya pasrah mendengar sindiran itu. Memang benar adanya jika yang bersalah adalah dirinya bukan kedua orangtuanya ataupun mertuanya. Bahkan anak-anaknya harusnya tak menjadi korban dari pengkhianatannya.
"Kamu cuma mau bicara itu kan? Lebih baik setelah ini kamu pergi" ucapnya sambil mengusir laki-laki itu.
"Nanti aku yang akan menjemput kalian untuk bertemu mereka. Persiapkan dirimu dan anak-anak nanti malam, aku tak ingin ada bantahan" ucap Devan saat melihat Aleta akan melakukan protes.
Devan segera saja pergi dari rumah Aleta dengan senyum yang ada di bibirnya. Dia akan melakukan rencana yang telah disusunnya semalaman demi masa depannya. Melihat Devan telah pergi, Aleta segera mengunci pintu rumah agar tak ada orang yang memasuki rumahnya sembarangan.
****
Awal bulan cerita ini bakalan aku rombak total....
__ADS_1