
"Jangan pernah menuduhku, aku hanya mengenal Lucas dan merasa kasihan padanya. Gara-gara kalian, dia harus masuk penjara tanpa tahu kesalahannya" sentak Seina untuk menyembunyikan kegugupannya.
Demi menyembunyikan kegugupannya, Seina lebih memilih untuk membentak Devan. Bahkan kini matanya menatap nyalang kearah Aneta. Aneta yang ditatap seperti itu pun langsung berdiri dari duduknya kemudian berjalan kearah Seina.
"Kenapa natap saya kaya gitu? Mengenal Lucas darimana? Bukannya Lucas bukan asli orang negara ini" tanya Aneta untuk menjebak Seina.
Seina panik karena sepertinya Devan dan Aneta sudah mulai curiga dengannya juga Lucas. Terlebih dia juga yang ceroboh kenapa harus melabrak Devan hanya karena masalah Lucas. Pasti setelah ini Devan dan Aneta akan jauh lebih mengawasi pergerakannya dengan Lucas.
Plakkk...
Dengan gerakan refleksnya, Seina mengangkat tangannya kemudian menampar pipi Aneta. Aneta yang masih menatap tajam Seina pun kecolongan karena Seina berhasil menampar pipinya. Semua orang disana bahkan terkejut dengan apa yang diperbuat oleh Seina.
"Berani-beraninya kau menampar istriku" sentak Devan yang kemudian mencengkeram bahu Seina.
__ADS_1
Seina meringis kesakitan bahkan kini ia ketakutan melihat mata Devan memerah. Sedangkan Aneta tengah menenangkan hatinya sambil memegang pipinya yang memerah karena tamparan Seina. Vincent yang melihat mamanya ditampar pun langsung saja berdiri kemudian berjalan mendekat kearah Seina dan Aneta.
Tanpa diduga, Vincent mencengkeram lengan Deina dengan pandangan penuh amarah. Seina hanya bisa menggelengkan kepalanya tak percaya akan menghadapi dua orang yang kini tengah menatapnya tajam.
"Sakit..." lirih Seina dengan tatapan memohonnya meminta untuk dilepaskan.
"Kau sudah menyakiti istriku, tak ada ampun bagimu" ucap Devan dengan tatapan bengisnya.
Aneta yang sudah lebih meredakan emosinya pun kini ikut menatap tajam kearah Seina. Tangannya terangkat kemudian menampar kedua pipi wanita itu. Kedua orangtuanya sampai menutup mata Andra dan Rubi yang masih terpaku dengan kejadian tadi. Para nenek dan kakek tak ingin mata polos cucunya terkontaminasi oleh hal kekerasan seperti ini.
"Kau menamparku? Akan ku balas kau dua kali lipat" ucap Aneta.
Devan langsung menyeret tubuh Seina yang masih membeku di tempatnya bersama dengan Vincent. Bahkan dengan tanpa perasaannya, Devan mendorong tubuh Seina hingga jatuh tersungkur ke tanah setelah sampai di depan pintu rumah.
__ADS_1
Bugh...
Arrghhhh....
"Dasar laki-laki tak punya hati. Akan ku pastikan kalau kalian akan masuk penjara. Ini sudah melanggar hukum" sentak Seina tak terima diperlakukan kasar oleh Devan dan Vincent.
"Silahkan... Kami juga akan mencari bukti tentang keterlibatanmu dalam rencana menabrak kami. Aku yakin kau membantu Lucas untuk mencelakai kami" ucap Devan dengan yakin.
Seina benar-benar dibuat mati kutu oleh ucapan Devan. Terlihat sekali kalau dirinya sangat panik bahkan tak mempedulikan rasa sakitnya sama sekali. Ia segera bangkit kemudian berlari tertatih keluar dari halaman rumah Devan.
Melihat Seina masuk ke mobilnya kemudian melajukan kendaraannya pergi dari rumahnya, Devan segera menatap anaknya yang masih menatap lurus ke depan. Ia berjongkok dihadapan Vincent kemudian memegang kedua bahunya.
"Kita jaga sama-sama mama dan adek. Papa yakin kamu adalah anak papa yang paling kuat, bisa melindungi keluarga kita agar tetap utuh. Namun jika kau sudah tak kuat lagi, bersandarlah pada bahu papa karena kamu mempunyai seorang ayah yang akan menjagamu dengan nyawaku sendiri" ucap Devan yang kemudian memeluk Vincent.
__ADS_1
Dengan ragu, Vincent memeluk balik Devan dengan erat. Ia terdiam merasakan pelukan hangat dari seorang ayah yang selama ini ia inginkan.