
"Astaga... Apakah mereka cucuku, Leta?" tanya kedua orangtuanya secara bersamaan.
Kedua orangtuanya segera melepaskan pelukannya dengan sang anak kemudian menatap berbinar kearah dua bocah kecil yang sedari tadi hanya terdiam sambil memperhatikan kegiatan mereka. Keduanya segera mendekat kearah Rubi dan Vincent kemudian memeluknya secara bersamaan.
"Huaaaa... Kenapa mereka tampan dan cantik? Pasti ini keturunan dari kami" seru Ibu Renita dengan hebohnya.
Bahkan ia terus menciumi pipi dan dahi kedua cucunya dengan semangat. Tak ketinggalan, orangtua Devan pun langsung memeluk Aleta dengan erat secara bergantian. Mereka sungguh bahagia dengan hadirnya sang menantu yang kini telah kembali.
"Enak aja, pasti keturunan dari bapaknya lah kalau tampan begini" ucap Ibu Fia tak mau kalah dengan besannya.
__ADS_1
Ibu Fia juga langsung melepaskan pelukannya dari sang menantu kemudian mendekat kearah Rubi dan Vincent. Bahkan Ibu Fia dengan sengaja menyenggol bahu sang besan agar menyingkir supaya dia bisa memeluk kedua cucunya.
"Wah... Ngajak berantem nih orang" seru Ibu Renita yang tak terima jika disenggol.
Sedari dulu memang kedua wanita paruh baya itu jka bertemu pasti ada saja yang diperdebatkan. Bahkan tak jarang mereka menghiraukan sekelilingnya karena terlalu sibuk berdebat. Seperti saat ini Aleta, kedua anaknya, Devan, Ayah Akbar, dan Ayah Sugeng sudah duduk di ruang tamu meninggalkan dua orang yang masih asyik berdebat.
"Sampai kapan kalian akan berdebat seperti itu?" tegur Ayah Akbar yang sudah mulai jengah dengan adu debat dua wanita paruh baya itu.
"Kalau kalian masih belum puas adu debat, silahkan lanjutkan saja biar kami disini jadi penontonnya" sindir Ayah Sugeng.
__ADS_1
Kedua wanita itu menatap julid kearah Ayah Sugeng kemudian duduk didekat Aleta. Bahkan kini suasana seketika lebih mencair saat keduanya duduk. Memang benar kalau sebelumnya suasana terlihat canggung terutama Aleta dan kedua anaknya juga Andra yang sedari tadi menundukkan kepalanya.
"Andra, jangan menundukkan kepala dong. Lihat, mereka berdua akan menjadi saudaramu" ucap Devan dengan lembut sambil menunjuk kearah Vincent dan Rubi.
Andra yang masih menundukkan kepala pun perlahan menegakkan kepalanya kemudian memandang kearah Rubi dan Vincent. Namun saat melihat raut wajah datar dari Vincent dan Rubi membuat Andra kembali menundukkan kepalanya.
"Dibawah nggak ada uang jatuh jadi jangan nunduk terus" ketus Rubi.
Mendengar hal itu tentu semua orang yang ada disana kecuali Aleta dan Vincent hanya bisa melongo. Pasalnya Rubi yang mereka kira anak yang manis dan lemah lembut ternyata ucapannya pedas seperti kedua neneknya. Sedangkan kini Andra yang disindir seperti itu langsung saja menegakkan kembali kepalanya dan melihat kearah Rubi dengan mencebikkan bibirnya kesal.
__ADS_1
Mereka pun akhirnya berkenalan kemudian berbicang dengan santai walaupun Aleta dan kedua anaknya masih terlihat menjauh dari Devan. Namun Devan tak peduli akan hal itu pasalnya ia terus saja mencuri-curi kesempatan untuk dekat dengan Aleta. Sedangkan Rubi dan Vincent memilih untuk berbincang dengan Andra sembari mengakrabkan diri.
Vincent dan Rubi bukanlah anak-anak yang pendendam kepada orang yang bahkan tak tahu apa-apa mengenai masalah ini. Mereka juga paham kalau ini merupakan masalah orang dewasa yang tak sepatutnya ikut campur. Terlebih disini Andra juga merupakan korban dari keegoisan orang dewasa. Hidup keduanya lebih beruntung karena tak pernah mendapatkan kekerasan dari orang dewasa sejak kecil, sedangkan berbanding terbalik dengan kehidupan Andra.