
Devan pulang ke rumahnya dengan langkah lunglainya. Kedua orangtuanya yang menatap kedatangan Devan pun mengernyitkan dahinya heran melihat anaknya yang berjalan seolah tak mempunyai semangat hidup itu. Bahkan Andra langsung saja mendekati sang nenek karena takut jika nanti Devan akan memarahinya. Disaat seperti ini memang emosi dari Devan sering tak terkendali membuat orang-orang didekatnya memilih menjauh.
"Devan, kamu ini jalan kok kaya nggak ada semangat-semangatnya sih? Jangan nunduk gitu juga, nanti kalau nabrak tembok bagaimana?" tegur Ibu Fia.
Devan pun segera menegakkan kepalanya kemudian melihat orangtua dan anaknya dengan tatapan yang sulit diartikan. Devan pun akhirnya memilih untuk mendekat ekarah mereka dan langsung membanting tubuhnya diatas sofa ruang keluarga.
"Dompet Devan tipis" ucap Devan sambil menghela nafas lelahnya.
Kedua orangtuanya dan Andra mengernyitkan dahinya heran mendengar keluhan dari Devan. Mereka bingung dengan apa yang dimaksud dompet tipis oleh anaknya itu.
"Maksudnya gimana, Dev?" tanya Ayah Akbar.
__ADS_1
"Aku seharian ini jalan sama Leta dan anak-anakku. Mereka belanja sampai uang Devan di rekening mengandung bawang" ucap Devan.
"Itu kan suah tanggung jawabmu sebagai suami dan ayah, Dev. Nggak usah ngeluh, kerja keras lagi buat nafkahin mereka. Itu pun kalau kamu mau kembali sama mereka" ucap Ayah Akbar ketus.
Andra sudah mengerti tentang papanya yang telah menikah dan mempunyai anak. Namun ia tak menyangka jika mereka sudah bertemu. Ada sedikit rasa iri di hatinya kala mendengar papanya sudah bertemu dengan istri dan juga anak-anaknya. Ia yakin jika sebentar lagi dirinya semakin tak akan diperhatikan oleh papanya itu.
"Oh ya jelas... Devan akan kerja keras untuk menafkahi Aleta dan ketiga anakku" ucap Devan sambil mengepalkan satu tangannya keatas.
Tiba-tiba saja Devan berdiri dari duduknya kemudian berjalan mendekati Andra dan menggendongnya. Andra yang tengah melamun pun akhirnya tersadar dari lamunannya kemudian mengalungkan kedua tangannya di leher sang papa. Devan membawa Andra memasuki kamarnya sambil mengusap punggung bocah itu.
Devan tahu perubahan raut wajah Andra saat dirinya dan kedua orangtuanya membahas tentang Aleta juga anak-anaknya yang lain. Dia akan terus menyayangi dan mempedulikan anaknya ini bahkan berniat mengenalkannya pada Vincent dan Rubi.
__ADS_1
***
Dugh... Dugh... Dugh...
Pintu rumah Devan digedor pada malam hari oleh seseorang. Devan dan kedua orangtuanya serta Andra begitu terkejut dengan adanya gedoran itu. Pasalnya mereka berpikir kalau tak punya masalah dengan oranglain kecuali itu Seina. Namun sudah hampir satu bulan ini wanita itu sama sekali tak menunjukkan batang hidungnya didepan keluarga Devan. Bahkan Seina juga tak menanyakan kabar atau menjemput Andra yang memilih menginap di rumah Devan.
"Andra masuk kedalam kamar dulu ya" ucap Devan sambil mengelus rambut hitam Andra.
Andra menganggukkan kepalanya kemudian berlalu pergi dari ruang keluarga. Ia paham kalau ini adalah urusan orang dewasa yang tak seharusnya ia ketahui. Sedangkan Devan dan kedua orangtuanya segera saja berjalan menuju pintu rumah untuk mencari tahu siapa yang bertamu malam-malam begini.
Ceklek...
__ADS_1
Plakkk...
"Devan... Bisa-bisanya kamu menyembunyikan keberadaan Aleta dan kedua cucuku" seru seorang wanita paruh baya yang langsung menampar Devan ketika pintunya dibuka.