
Lemparan bebatuan dan pasir terus dilakukan oleh Vincent, Rubi, dan Andra kearah Lucas yang mencoba menutupi matanya dengan kedua tangannya. Namun lemparan pasir dari Andra tentunya tak bisa terelakkan hingga Lucas terpaksa membuka tangannya karena ada pasir yang masuk dalam matanya.
"Rasakan... Enak saja mau culik kami" seru Andra dengan keberanian yang luar biasa.
Walaupun awalnya dia takut saat melihat Lucas namun dengan adanya dua saudaranya membuat keberaniannya meningkat. Terlebih ini demi keselamatan mereka bertiga maka dia harus menyingkirkan segala ketakutannya.
"Berhenti..." teriak Lucas sambil berusaha mengeluarkan pasir dari matanya.
Alih-alih berhenti, ketiganya dengan semangat menambah lemparan pasirnya membuat Lucas tak bisa berkutik sama sekali. Terlebih matanya kini sudah sangat perih kemasukan pasir dan wajahnya yang sedikit neyeri terkena lemparan batu.
Tak berapa lama, bantuan datang. Bodyguard yang menjaga Devan dan keluarganya dengan sigap menangkap Lucas. Sedangkan ketiga bocah kecil itu langsung saja digandeng bodyguard lainnya untuk dibawa pulang.
"Ah... Paman nggak asyik, harusnya datang nanti saja" keluh Rubi.
__ADS_1
Mereka bertiga masih asyik dengan aksinya melukai Lucas namun harus berhenti karena laki-laki itu langsung diamankan oleh para bodyguard. Sedangkan para bodyguard hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar gerutuan tiga anak majikannya itu.
Mereka semua sampai kalang kabut karena ketiga anak yang harus dijaga ternyata kabur. Beruntung sekitar rumah dan lingkungan itu banyak CCTV sehingga dengan mudah mereka tahu kemana perginya tiga anak itu. Sedangkan Seina yang masih didalam mobil tentunya sudah melarikan diri saat melihat banyak bodyguard keluar dari rumah Devan.
Seina dan Lucas memang tak tahu jika bodyguard yang menjaga rumah Devan sangatlah banyak. Mereka hanya berpikir itu hanya satpam biasa dua orang yang menjaga saat sampai didepan rumah Devan.
***
"Astaga... Kenapa kalian kabur dari rumah? Papa hampir kena serangan jantung karena mendengar kalian pergi" omel Devan.
"Baru hampir kan, pa?" tanya Vincent dengan tatapan polosnya.
Mendengar jawaban Vincent yang tampak santai membuatnya hanya bisa mengelus dada. Walaupun ucapannya sangat polos namun begitu menohok hatinya. Devan mengamati keadaan ketiga anaknya dengan seksama ternyata mereka baik-baik saja membuatnya menghela nafas lega.
__ADS_1
"Kalau sampai mama kalian tahu, kalian pasti akan diomeli habis-habisan" gerutu Devan.
"Makanya jangan bilang sama mama" seru ketiganya bersamaan.
Astaga... Sepertinya Devan harus menyiapkan hati karena anaknya kini selalu kompak dalam segala hal. Bahkan Andra yang biasanya menurut pun ikut-ikutan menjadi pemberani seperti kedua saudaranya yang lain. Andra juga sekarang memanggil Aneta dengan sebutan mama seperti yang lainnya sesuai permintaan wanita itu.
"Kalian masuklah lalu bersih-bersih dan istirahat" titah Devan.
Ketiganya menganggukkan kepalanya kemudian berlalu pergi dari hadapan Devan. Melihat anak-anaknya sudah pergi, raut wajah Devan seketika berubah. Terlebih ia kini melihat wajah orang yang akan menculik anak-anaknya berada dihadapannya.
"Kita ke gudang belakang" titah Devan.
Para bodyguard segera menyeret Lucas yang masih menahan sakit di matanya. Devan mengikuti dari belakang sambil mendengar laporan bodyguardnya tentang anak-anak mereka yang menyerang Lucas. Tentunya Devan begitu bangga anak-anaknya mampu melawan orang yang akan berbuat jahat kepada mereka.
__ADS_1