ASEP (Akhir Sebuah Pengkhianatan)

ASEP (Akhir Sebuah Pengkhianatan)
Bukit 2


__ADS_3

"Aleta, aku mencintaimu dan anak-anak" seru Devan sambil berdiri kemudian berteriak sekencang-kencangnya menghadap kearah pemandangan kota.


Aleta yang melihat hal itu hanya terdiam. Dirinya masih belum menerima semua perbuatan Devan di masa lalu, ia takut jika memberikan kesempatan pada laki-laki itu nantinya dia akan kembali mengulang kesalahan yang sama lagi. Kini Aleta duduk termenung sambil menatap lurus kedepan tak menghiraukan Devan yang masih berteriak tak jelas.


"Aleta, ku mohon kasih aku kesempatan satu kali lagi. Jika memang nanti aku mengulanginya, bunuh aku" serunya.


Tentu saja seruan Devan kali ini mengundang atensi dari Aleta. Aleta bisa melihat bahwa Devan telah frustasi menghadapi dirinya yang bahkan tak menanggapinya sama sekali. Aleta merasa kasihan terhadap Devan yang dari kemarin sudah berusaha untuk meluluhkan hatinya dan anak-anak. Bahkan ia harus menghadapi kejahilan anak-anaknya yang super cerdas itu.


"Hei... Jika kau mati, bagaimana dengan anak-anak yang harus kau penuhi kasih sayang dan juga kebutuhannya" sentak Aleta emosi.

__ADS_1


Aleta berdiri dari duduknya kemudian menarik tangan Devan agar bisa menghadapnya. Ia menatap Devan dengan tatapan tajamnya membuat laki-laki itu sontak langsung menunduk. Melihat hal itu Aleta menggunaka tangannya untuk meraih dagu Devan agar laki-laki itu tak menunduk.


"Lihat aku..." sentah Aleta membuat Devan menatap mata tajam wanita itu.


"Jangan semudah itu kau mati. Kau harus membayar segala rasa sakit yang aku rasakan dengan kebahagiaan. Kau juga harus memikirkan ketiga anakmu yang masih membutuhkan sosok sepertimu. Jangan bodoh..." serunya.


Bahkan kini Aleta sudah mengeluarkan air matanya. Ia menangis pilu memikirkan jika sampai Devan mengulangi kesalahannya dan akhirnya dia harus menghabisi nyawa laki-laki itu. Ia tak sampai hati untuk memikirkan anak-anaknya akan kehilangan sosok ayah yang baru beberapa hari ini mengisi hari-hari mereka.


"Buat apa aku hidup jika kau dan anak-anak tak memberiku kesempatan untuk mendekati kalian?" tanya Devan dengan mata memerahnya karena menangis.

__ADS_1


"Aku mau kembali padamu asalkan kamu bisa mendapatkan hati anak-anakku" seru Aleta yang kemudian memeluk Devan erat.


Ucapan Aleta itu bagaikan sebuah sihir yang mampu membuat hatinya yang melayang. Rasanya berbunga-bunga karena belahan jiwanya mau memberikannya kesempatan sekali lagi untuk mengarungi hidup bersama. Ia akan membuat kehidupan Aleta dan anak-anaknya menjadi lebih bahagia dari ini.


"Terimakasih" ucap Devan sambil mencium lembut dahi Aleta.


Berulangkali Devan mengucapkan terimakasih pada sang kekasih hati bahkan terus memeluknya dengan erat seakan tak ada hari esok. Setelah selesai dengan mengungkapkan segala perasaannya di bukit itu, mereka memutuskan untuk pulang karena hari sudah mulai sore. Ia tak mau saat pulang nanti mendapatkan tatapan permusuhan dari ketiga anaknya karena telah menculik mamanya.


***

__ADS_1


Mobil Devan melaju dengan kecepatan sedang. Kedua tangan sejoli itu saling berkaitan seperti orang yang sedang kasmaran. Bahkan keduanya saling mencuri tatapan kemudian fokus melihat lurus kedepan. Namun kemesraan itu tiba-tiba saja terganggu saat mendengar suara seperti tabrakan dua buah benda.


Brak... Brakk... Brakkkk...


__ADS_2