ASEP (Akhir Sebuah Pengkhianatan)

ASEP (Akhir Sebuah Pengkhianatan)
Pemaksaan


__ADS_3

Aleta membiarkan Andra untuk bercerita sendiri suatu saat nanti karena ia melihat bahwa bocah kecil itu seperti memiliki trauma saat melihat Lucas. Bahkan dari wajahnya pun, Andra masih terlihat sangat shock sehingga ia takkan memaksa bocah itu untuk bercerita. Setelah dari taman, Aleta memutuskan untuk pulang ke rumah bersama ketiganya dengan menggunakan taksi.


"Mama Aleta nggak marah kan sama Andra karena belum mau cerita?" tanya Andra hati-hati saat mereka berada dalam taksi.


"Enggak dong. Kalau kamu sudah siap, ceritalah siapa tahu kami bisa bantu" ucap Aleta sambil mengelus rambut Andra.


Vincent duduk disamping sopir, sedangkan Andra dan Rubi mengapit Aleta di kursi penumpang. Andra begitu nyaman duduk disamping Aleta bahkan sedari tadi wanita itu terus mengelus kepala juga punggungnya. Baru kali ini ia merasakan kehangatan dari sosok seorang ibu. Pantas saja papanya tak mau bersama dengan mama kandungnya, ternyata wanita disampingnya ini adalah sosok seperti bidadari. Bukan hanya cantik fisiknya, namun hatinya juga.


***


Tak berapa lama, taksi yang mereka tumpangi sudah sampai di rumah keluarga Devan. Terlihat juga mobil Devan sudah terparkir apik di halaman rumah itu yang berarti mereka bertiga sudah terlalu lama berada di taman.

__ADS_1


"Papa akan marah nggak sama kita? Kita pulangnya telat" tanya Andra dengan begitu polosnya.


"Kalau dia marah ya biarin aja. Lagi pula salahnya dia nggak ngejar kita saat pergi" ucap Vincent acuh tak acuh.


Andra menganggukkan kepalanya kemudian menggandeng kedua saudaranya untuk berjalan masuk kedalam rumah. Kini ia tak lagi menjadi anak pendiam dan penakut lagi setelah hadirnya Vincent juga Rubi.


"Kalian darimana saja?" seru Devan raut wajah khawatirnya saat bertemu dengan Aleta dan ketiga anaknya didekat pintu masuk.


Tadinya Devan akan pergi mencari keempatnya karena saat pulang ternyata mereka belum pulang. Saat pulang tadi juga ia dimarahi oleh kedua orangtua dan mertuanya karena membiarkan Aleta dan ketiga anaknya pulang sendiri.


Tanpa menjawab pertanyaan sinis Aleta, Devan segera menarik pergelangan tangan wanita itu untuk mengikutinya. Bahkan ketiga anaknya hanya bisa melongo melihat kejadian itu.

__ADS_1


"Jangan bawa mama" seru Vincent.


"Papa pinjam mama sebentar. Kalian di rumah aja sama nenek dan kakek" jawab Devan.


Aleta terus meronta untuk dilepaskan namun Devan sama sekali tak mau melepaskannya. Bahkan ketiga anaknya juga langsung mengejar papa dan mamanya itu namun keduanya terlanjur masuk mobil sehingga Devan langsung melajukan mobilnya meninggalkan rumah. Ketiganya kesal bukan main kemudian masuk kedalam rumah untuk mengadukan kejadian ini pada nenek dan kakeknya biar Devan nanti dimarahi.


***


Sedangkan kini Aleta sudah mengumpati Devan dengan kata-kata tak pantas didalam mobil laki-laki itu. Dia sangat malas berurusan dengan Devan terutama saat akan membahas mengenai hubungan mereka. Dia ingin sekali mengajukan perceraian namun sepertinya Devan akan kukuh untuk mempertahankan rumah tangga mereka.


"Dev, sebenarnya kau akan membawaku kemana? Kasihan anak-anak kita tinggal. Lagian hubungan kita harusnya sudah selesai bukan?" kesal Aleta.

__ADS_1


"Kita harus membicarakan hubungan kita, anak-anak pasti akan baik-baik saja bersama kedua orangtua kita. Asal kamu tahu, hubungan kita takkan pernah selesai" sentak Devan.


Benarkan dugaan Aleta, Devan takkan pernah mau melepaskan dirinya terlebih ia sudah tahu mengenai kedua anaknya. Rasa cinta pada laki-laki itu masih ada, namun hatinya masih terlalu sakit untuk memaafkan Devan. Apalagi kini Devan memaksa untuk memastikan kelanjutan hubungan keduanya.


__ADS_2