ASEP (Akhir Sebuah Pengkhianatan)

ASEP (Akhir Sebuah Pengkhianatan)
Kemampuan Vincent


__ADS_3

Lucas keluar dari penjara karena mendapatkan jaminan dari kedua orangtuanya. Bahkan mereka menjelaskan bahwa kejadian itu hanyalah salah paham antar saudara. Mereka memberikan keterangan palsu agar bisa mendapatkan keringanan hukuman. Bahkan kedua orangtua Lucas yang sebenarnya juga memberikan jaminan uang ratusan juta sebagai pengganti apa yang telah diputuskan.


Berita ini luput dari pantauan Devan karena laki-laki itu tengah sibuk dengan memperbaiki hubungannya dengan kedua anaknya dan juga pekerjaannya. Sedangkan Aneta kini tengah disibukkan dengan memilih asisten barunya untuk tetap bekerja di dunia modelling. Devan tetap mengijinkan Aneta bekerja dengan catatan harus bisa meluangkan waktu untuknya dan anak-anak.


"Jangan lemah, laki-laki itu sudah keluar dari penjara. Kau harus lebih gesit mengawasi mama" lapor Vincent pada papanya yang kini sedang sibuk didepan laptopnya.


Devan yang sedang sibuk dengan laptopnya pun langsung mengalihan pandangannya. Bahkan kini tatapannya menajam dengan kedua tangan mengepal erat, ia paham dengan siapa yang dimaksud oleh anaknya itu. Devan melongokkan kepalanya mengintip ponsel yang sedari tadi digunakan oleh Vincent.


Devan melotot tak percaya melihat beberapa kode, angka, sandi, dan huruf yang tertera pada ponsel itu. Semua yang ia lihat pada ponsel Vincent sama dengan apa yang dulunya dikerjakan oleh sahabatnya. Saat papanya itu mengintip, Vincent hanya membiarkannya saja karena ia ingin menyombongkan diri karena punya kemampuan IT yang tak sembarang orang bisa.

__ADS_1


"Kamu hacker?" tanya Devan dengan ragu-ragu.


"Seperti yang anda lihat" ucap Vincent dengan penuh percaya diri.


"Jadi informasi yang kau dapat tadi karena kau menggunakan kode-kode itu demi mendapatkan semuanya?" tanya Devan meyakinkan sambil menatap anak laki-lakinya itu.


"Ya" jawab Vincent singkat.


"Wah... Kau bisa kolaborasi dengan sahabat papa. Papa yakin kalian akan menjadi hacker yang hebat dan menggebrak dunia" ucap Devan berkhayal.

__ADS_1


"Aku sudah cukup hebat untuk berdiri sendiri tanpa harus berkolaborasi dengan orang lain" ucap Vincent dengan nada sombongnya.


Devan kesal bukan main dengan kesombongan anaknya yang satu ini. Pasalnya ia kadang merasa canggung jika harus berhadapan dengan Vincent yang sudah mandiri dan seperti tak membutuhkan dirinya lagi. Bahkan Vincent ini merasa bahwa Devan masih berada dibawahnya yang tentunya membuat laki-laki dewasa itu yang bergantung pada sang anak.


"Kau tetaplah anak kecil yang masih butuh bantuan papa dan oranglain" ucap Devan tak terima.


Bahkan kini Devan sudah meletakkan laptop yang dipangkunya keatas meja kemudian mendekat kearah anaknya. Ia langsung memeluk anaknya itu dengan erat bahkan ia menggendong kemudian menimangnya. Hal ini membuat Vincent memberontak karena diperlakukan seperti bayi oleh papanya.


"Turunin nggak" seru Vincent memberontak hingga Devan kuwalahan.

__ADS_1


"Sebesar apapun kamu, bagi papa kamu masihlah anak kecil" ucap Devan yang terus mempertahankan Vincent digendongan koalanya.


Vincent pun akhirnya pasrah saja mendapatkan perlakuan seperti ini dari papanya. Walaupun ia kelihatannya memberontak, namun dalam hatinya ia merasa senang. Akhirnya dia bisa dekat dan merasakan kasih sayang juga gendongan dari seorang ayah. Vincent yang merasa nyaman pun akhirnya tertidur pulas dalam gendongan papanya.


__ADS_2