
"Semuanya... Devan ingin berbicara sesuatu" ucap Devan dengan meremat kedua tangannya erat.
Devan seketika dilanda kegugupan saat dirinya hendak membicarakan sesuatu, terlebih kini semua mata memandang kearahnya dengan tatapan menyelidik. Sedangkan Devan yang ditatap seperti itu mulai lupa dengan apa yang akan dibicarakannya.
"Kamu mau bicara apa, Dev?" tanya Ibu Fia dengan tatapan bertanya.
"Ehmmm..." dehem Devan untuk menetralkan kegugupannya.
"Cuma mau bicara sama kita aja gugup kaya gitu. Kaya yang mau dibicarain itu tentang minta restu nikah lagi aja" seloroh Ibu Renita.
Mendengar hal itu tentunya Aleta, Vincent, Rubi, dan Andra langsung saja menatap menyelidik kearah Devan. Dengan cepat Devan menggelengkan kepalanya sambil menggerakkan kedua telapak tangannya. Bahkan kini pandangan semua orang seketika menatap kearahnya seakan menghakimi dirinya.
__ADS_1
"Mana mungkin aku mau minta restu untuk menikah lagi, orang aku mau balik lagi sama Aleta" ucap Devan dengan cepat karena merasa tertuduh.
"APA?" seru kedua orangtua dan mertuanya.
Mereka terkejut dengan ucapan Devan, pasalnya laki-laki itu sama sekali tak mendiskusikannya dulu. Devan sudah memikirkan hal ini matang-matang untuk menjadikan Aleta beserta kedua anaknya menjadi bagian dari hidupnya. Devan sudah tahu walaupun mereka berpisah cukup lama, namun status mereka masihlah suami istri dan tak serta merta langsung bercerai. Soal nafkah, Aleta bisa mengajukan gugatan nafkah tanpa bercerai darinya.
"Enak aja, aku nggak mau balik sama kamu. Aku akan ajukan gugatan perceraian" ucap Aleta dengan ketus.
"Tidak, aku takkan pernah menyetujuinya. Kalau kamu sampai melakukan itu, aku akan langsung menghamilimu" ancam Devan dengan menatap tajam kearah istrinya itu.
Ia tak terima jika mamanya diancam oleh orang lain. Pasalnya mamanya adalah seorang yang pemikir sehingga untuk mengurangi tekanan dalam hidupnya, kedua anaknya jarang sharing tentang masalah yang tengah mereka hadapi.
__ADS_1
Devan yang melihat tatapan tak bersahabat dari anaknya pun hanya bisa menganggukkan kepalanya. Seharusnya dia tak membicarakan hal ini didepan anak-anak.
"Sudah... Sudah... Ayo istirahat, ini sudah malam. Besan dan Aleta lebih baik tidur disini saja" ucap Ibu Fia mengalihkan pembicaraan.
Melihat suasana di ruang tamu terlihat tak mengenakkan membuat Ibu Fia langsung saja mengalihkan pembicaraan. Ia tak ingin suasana yang tadinya bahagia karena kembalinya Aleta dan kedua anaknya berubah menjadi tegang. Biarlah esok mereka akan membahasnya kembali tanpa anak-anak.
"Iyalah kita mau nginap disini, mumpung gratis tempat tidur dan makan kan ya" ucap Ibu Renita dengan santainya.
Ibu Fia hanya mencebikkan bibirnya kesal melihat tingkah tamunya yang bak seorang raja dan tak tahu malu sama sekali. Bahkan wanita paruh baya itu sama sekali tak sungkan jika harus menginap di rumah orang yang notabene adalah tempat yang asing.
Mereka semua akhirnya masuk kedalam kamar masing-masing kecuali Andra dan Vincent akan tidur satu kamar sedangkan Rubi berdua dengan Aleta. Andra langsung saja memeluk papanya kemudian tertidur dengan lelap, berbeda dengan Vincent yang masih terjaga bersama Devan.
__ADS_1
"Apa tujuanmu datang kembali pada kehidupan kami? Kalau mau menyakiti mama, lebih baik anda mundur dari sekarang" ucap Vincent tiba-tiba.
Devan yang mendengar hal itu pun mengalihkan pandangannya kearah Vincent. Terlihat sekali kalau di mata anaknya itu ada setitik rasa takut dan khawatir dengan apa yang terjadi dengan mamanya. Namun Devan bersyukur karena anaknya ternyata mampu untuk melindungi mamanya.