
Sudah seminggu sejak kejadian Aleta pergi dari rumah dan meninggalkan Devan. Devan masih terus berusaha untuk mencari keberadaan istrinya itu dengan bantuan temannya. Namun selama satu minggu ini benar-benar tak ada hasil apapun. Bahkan beberapa kali temannya melacak beberapa data penerbangan, namun tak ada nama istrinya disalah satu daftar penumpangnya.
"Astaga... Dimana kamu Aleta?" frustasi Devan sambil menyugar rambutnya hingga acak-acakan.
Kini Devan tengah berada di perusahaan tempatnya bekerja. Ia tadi melihat pesan yang dikirimkan temannya mengenai Aleta yang belum bisa ditemukan membuatnya sangat frustasi. Terlebih kini kedua orangtuanya dan Aleta mencari wanita itu karena jika dihubungi selalu saja tak tersambung.
Masalah hilangnya Aleta ini benar-benar menguras tenaga dan pikirannya sampai pekerjaannya pun terhambat. Beberapa kali dia mendapatkan teguran dari atasannya karena proyek yang sudah direncanakan tak kunjung diselesaikan olehnya.
Ting...
"Fokuslah pada pekerjaanmu, jika kau tak fokus maka ku pastikan kalau kamu nggak akan pernah bisa bertemu dengan Aleta kembali. Pekerjaan ini sebagai modalmu untuk mencari keberadaan Aleta, jangan sampai kau kehilangan pekerjaan dan cintamu secara bersamaan".
Bunyi ponsel Devan berbunyi, ternyata sebuah pesan dari sahabatnya yang selama ini membantunya mencari Aleta. Sebuah pesan bermakna dari sahabatnya yang benar-benar tahu kekhawatiran dan keadaannya selama satu minggu ini.
Benar apa yang tertulis dalam pesan yang dikirmkan oleh sahabatnya itu. Ketika waktunya dia bekerja, dia harus fokus agar tetap bisa mempertahankan posisinya saat ini. Tak mungkin juga dia terus meratapi kepergian Aleta dengan tak memikirkan dirinya dan keluarganya yang butuh makan. Saat nanti pulang bekerja, barulah ia memikirkan tentang mencari Aleta lagi.
Devan pun akhirnya mencoba memfokuskan diri pada pekerjaan yang ada didepannya agar tak dimarahi oleh atasannya dan mengancam karirnya itu.
***
Sedangkan di belahan bumi negara lain...
Kini Aleta tengah istirahat duduk di sofa ruang tamunya setelah membersihkan seluruh ruangan yang ada di apartemennya. Walaupun apartemen itu hanya terdiri dari ruang tamu sederhana, dapur kecil, kamar, dan kamar mandi saja namun bagi Aleta yang tengah berbadan dua sudah menguras tenaganya.
__ADS_1
"Oh... Iya, bahan makananku kan sudah habis. Ah saatnya belanja" gumam Aleta bangkit dari duduknya setelah mengingat bahwa dia sudah tidak mempunyai bahan masakan.
Aleta bergegas mandi dan bersiap-siap kemudian berjalan keluar dari apartemennya. Walaupun disini tak ada yang mengetahui identitasnya, namun Aleta tetap menggunakan topi dan masker untuk menutupi wajahnya.
"Kamu tetangga sebelah kan?" tanya seseorang tiba-tiba menghentikan jalan Aleta.
Aleta hanya menganggukkan kepalanya saja tanpa menjawab pertanyaan seorang wanita didepannya. Aleta memang tak terlalu suka berbicara dengan orang asing karena khawatir jika dikira sok akrab. Aleta juga menelisik penampilan dari wanita didepannya ini dari atas ke bawah.
Terlihat bahwa perempuan yang ada didepannya ini berpenampilan sederhana dengan menampilkan sebuah senyuman tulus. Tak ada hal yang mencurigakan dari perempuan itu kecuali sebuah kotak yang berada di genggaman tangannya. Sedangkan perempuan itu yang ditatap intens oleh Aleta hanya bisa menampilkan senyum kikuknya.
"Emm... Ini aku tetangga sebelah, namaku Katryn biasa dipanggil Kat. Aku ingin memberikan makanan ini sebagai salam perkenalan" ucap perempuan yang bernama Katryn itu sambil memperkenalkan dirinya.
Katryn mengulurkan sebuah kotak berisi makan kedepan Aleta. Aleta yang masih bersikap waspada pun dengan ragu-ragu menerima kotak itu. Katryn terlihat sangat senang saat Aleta mau menerima pemberiannya yang tak seberapa itu.
"Terimakasih" ucap Aleta sambil tersenyum tipis walaupun tak terlihat oleh Katryn karena dirinya mengenakan masker. Aleta pun menyimpan kotak makanan itu kedalam tas ranselnya.
"Namaku Aleta" lanjutnya memperkenalkan diri.
"Oh... Iya kak Aleta mau kemana? Bukannya cuaca diluar sedang hujan kok kakak mau pergi" tanya Katryn penuh perhatian.
Katryn memutuskan untuk memanggil Aleta dengan kakak karena terlihat kalau perempuan didepannya ini lebih tua darinya. Aleta pun tak mempermasalahkan hal itu karena itu juga merupakan panggilan yang sopan. Dilihat-lihat juga bahwa Katryn ini adalah seorang perempuan yang baik dan asyik untuk diajak berteman.
"Aku mau mencari bahan makanan soalnya aku mau memasak eh ternyata pada habis semuanya" keluh Aleta.
__ADS_1
"Tapi diluar hujan deras, jadi akan lebih baik kak Aleta didalam apartemen saja. Kalau kakak mau, Kak Aleta bisa memakai bahan masakanku dulu. Kebetulan stok di lemari pendinginku masih banyak, besok barulah kakak ganti hehe" ucap Katryn menawarkan dengan kikuk apalagi saat dia bilang kalau menyuruhku menggantinya.
Sebenarnya Aleta tahu kalau diluar tengah hujan deras, namun apa boleh buat kalau dirinya tengah lapar dan tak ada bahan makanan sama sekali. Mungkin dulu ia bisa menahan laparnya, namun karena sekarang ada bayi yang ada dikandungnnya membuatnya harus menghilangkan kebiasaan buruknya.
"Baiklah, apa apakah tak apa jika aku menggunakannya lebih dulu? Paling tidak untuk makanku hari ini" tanya Aleta.
"Tak apa, aku masih ada makanan siap saji untuk hari ini dan bahan lainnya" jawab Katryn meyakinkan.
Akhirnya keduanya berjalan menuju apartemen perempuan itu. Entah mengapa Aleta tak takut kalau Katryn akan melukainya jika berada di apartemen perempuan itu. Ia sudah percaya kalau Katryn adalah orang baik.
Keduanya memasuki apartemen Katryn yang ternyata tepat disebelahnya. Aleta langsung menunjukkan lemari pendinginnya yang memang penuh dengan bahan makanan.
"Silahkan kak kamu pilih yang kamu butuhkan" ucap Aleta mempersilahkan.
"Wah banyak sekali. Lemari pendinginmu sudah seperti kulkasnya supermarket, serba ada" goda Aleta membuat Katryn terkekeh geli.
Memang benar apa yang diucapkan oleh Aleta itu karena setiap bulannya lemari pendingin itu akan selalu diisi penuh oleh ibunya makanya sudah seperti supermarket.
Aleta mengambil beberapa bahan makanan yang diperlukan saja untuk stok sampai esok pagi karena besok dia sudah akan berbelanja.
"Aku bawa ini dulu ya, Kat. Jadi ini totalnya berapa?" tanya Aleta dengan nada menggoda.
"Hahaha mohon maaf nona, saya tidak menjual bahan makanan ini. Silahkan kembali esok hari untuk menggantinya dengan bahan makanan yang sama" ucap Katryn menirukan gaya seorang penjaga toko.
__ADS_1
Keduanya pun tertawa menertawakan tingkah dan guyonan receh yang mereka lakukan. Sepertinya keduanya sudah nyaman dan cocok jika menjadi seorang teman.
Aleta pun segera kembali ke unit apartemennya untuk memasak dan istirahat. Dia harus banyak istirahat untuk kesehatan bayi yang ada dalam kandungannya itu.