
Aleta terduduk termenung di kursi yang ada di ruang makan memikirkan pembicaraannya dengan asistennya tadi siang. Hatinya bimbang dan ragu untuk mengambil keputusan besar yang ada didalam hidupnya karena ini akan menyangkut masa depannya dan kedua anaknya. Berulang kali ia menghembuskan nafasnya untuk mentralisir pikirannya agar lebih tenang.
Ia ragu jika nanti kedua anaknya akan tersakiti dengan keputusan yang ia buat. Ia merasa hatinya juga belum siap jika harus bertemu dengan orang-orang di masalalunya. Namun ia juga bingung akan sampai kapan dirinya sembunyi seperti ini.
Terlalu sibuk dengan pikirannya, Aleta sampai tak menyadari jika Rubi dan Vincent sedari tadi memperhatikan mamanya dengan seksama. Keduanya bahkan mengambil cemilan lalu duduk di lantai sambil melihat mamanya yang tengah melamun.
"Stttt... Mama ngelamunin apa sih, kak?" tanya Rubi dengan tatapan penasarannya.
"Yang jelas mikirin masalah orang dewasa dan anak kecil belum boleh tahu" jawab Vincent dengan acuh tak acuh.
Bahkan dengan santainya Vincent memakan cemilan yang ada di tangannya itu dengan lahap tanpa mempedulikan saudara kembarnya yang masih menatap mamanya dengan tatapan penasaran. Karena sudah terlalu penasaran, Rubi pun berdiri dari duduknya kemudian menepuk pelan paha mamanya.
"Ma..." panggil Rubi.
"Eh..." kaget Aleta saat melihat anaknya sudah berdiri di sampingnya.
Aleta yang sudah tersadar dari lamunannya menatap anak perempuannya itu dengan lembut. Ia segera mengangkat anaknya itu untuk duduk dipangkuannya. Sedangkan Vincent yang melihat hal itu segera saja berdiri dan duduk di kursi samping mama juga adiknya.
"Mama lagi mikirin apa?" tanya Rubi dengan tatapan penasaran.
"Mama cuma lagi mikirin tentang sekolah kalian. Sebentar lagi kan kalian akan masuk playgroup" ucap Aleta dengan sedikit berbohong.
__ADS_1
"Mama nggak bakat berbohong. Bakatnya lenggak-lenggok di red carpet aja tapi tak berbakat dalam berakting" ledek Vincent.
Aleta yang mendengar hal itu tentunya sedikit meringis malu karena jika didepan anak-anaknya itu dia sama sekali tak bisa berbohong. Apalagi jika sudah ada Vincent, semua gerak-geriknya terpantau bahkan jika ia sedang gugup pun pasti tahu karena apa. Kepekaan anak laki-lakinya itu membuat Aleta selama ini tak bisa menyembunyikan rahasia apapun dari keduanya.
"Hmm... Kalian mau ikut mama ke Indonesia tidak?" tanya Aleta tiba-tiba.
Rubi dan Vincent yang mendengar ucapan mamanya tentu saja langsung saling menatap. Keduanya seakan tengah berdiskusi untuk menjawab pertanyaan dari Aleta. Sejenak Vincent menghembuskan nafasnya kasar kemudian menatap Aleta yang kini juga melihat intens kearahnya.
"Mama sudah siap bertemu dengan papa jika kembali ke Indonesia?" tanya Vincent dengan serius.
Aleta tersentak kaget dengan pertanyaan yang diajukan oleh anaknya itu. Ia tak menyangka anaknya yang masih kecil memikirkan bahwa menanyakan hal itu kepadanya. Aleta masih menampakkan raut bingung dan ragu-ragunya saat akan menjawab pertanyaan dari Vincent.
"Memangnya mama mau ngapain ke Indonesia?" tanya Rubi.
Kini Rubi dan Vincent juga bingung dengan apa yang harus mereka lakukan, pasalnya semua pekerjaan Rubi dan galery lukisan juga berada disini. Kalaupun pindah pasti harus mengurusnya jauh-jauh hari, sedangkan Vincent masih terikat kontrak dengan agensi yang ada di negara ini sampai beberapa bulan ke depan. Namun mereka juga tak mungkin berada disini jika mamanya pindah ke Indonesia.
"Memang rencananya kapan akan pindah, ma?" tanya Vincent dengan tenang.
"Satu bulan lagi. Kalau kalian mengijinkan dan bisa ikut, maka kita akan pindah. Namun jika kalian menolak, mama juga akan tetap disini bersama kalian" ucap Aleta sambil tersenyum
Walaupun nanti Aleta harus menanggung ganti rugi besar karena harus mengundurkan diri dari agensi tersebut jika tak mau pindah, namun demi kebahagiaan anak-anaknya ia rela. Lagi pula dia masih bisa mencari pekerjaan lain demi menghidupi kedua anaknya.
__ADS_1
"Baiklah kami akan ikut dengan mama" putus Vincent.
"Bantu Rubi untuk mempersiapkan semuanya terutama untuk memindahkan galery lukisanku" timpal Rubi dengan senyum manisnya.
"Lalu bagaimana dengan pekerjaanmu, Vincent?" tanya Aleta setelah menyetujui apa yang diucapkan oleh Rubi.
"Mama tak perlu pikirkan itu. Tinggal keluar saja, kalau misal dituntut ganti rugi ya sudah tinggal bayar. Uang Vincent banyak" ucap Vincent dengan nada sombongnya.
Vincent lebih memilih untuk ikut mama dan adiknya pindah karena tak mau tinggal disini sendiri. Ia jauh lebih memikirkan karir mamanya daripada dirinya, toh Aleta tak mewajibkan anak-anaknya itu bekerja. Jika nanti dia butuh uang, tinggallah dia menggali bakat dan kemampuannya yang lain sehingga uang bisa mengalir deras ke rekeningnya.
"Baiklah, jadi kita akan pergi bulan depan ya. Kita harus membantu Rubi untuk pindahan galery lukisnya dan mengirim lukisan-lukisannya ke Indonesia. Terimakasih anak-anak mama, sudah mau mengerti keadaan mama sekarang. Mama bangga sama kalian" ucap Aleta dengan senyuman manisnya.
Vincent dan Rubi menganggukkan kepalanya kemudian memeluk mamanya dengan erat. Aleta yang dipeluk pun langsung saja memeluk balik keduanya sambil mengelus punggung mereka dengan lembut. Aleta sangat menyayangi kedua anaknya itu, bahkan nyawapun akan ia pertaruhkan demi mereka.
"Jika nanti kalian ketemu sama papa, janganlah benci padanya atau saudara kalian yang lain ya. Benci saja wanita yang selalu menguntit papamu itu" bisik Aleta pada kedua anaknya sambil terkekeh pelan.
"Biar nanti kami yang hadapi wanita itu, mama. Mama tenang saja, saus tomat dan cabai siap menjadi senjata kami untuk melawannya" ucap Rubi dengan semangat.
Aleta juga sudah menceritakan tentang saudara seayah namun tak seibu itu kepada kedua anaknya. Beruntung anaknya yang kelewat cerdas itu bisa memahaminya. Namun yang tak Aleta tahu adalah kedua anaknya menyimpan rasa kecewa pada papanya. Bagaimanapun juga papanya itu telah menyakiti mama yang begitu mereka sayangi.
Vincent dalam hatinya selalu menanamkan hal untuk membuat papanya menyesal karena telah menyia-nyiakan mamanya yang cantik itu. Terlebih didalam otak cerdasnya sudah memikirkan segala rencana yang akan ia lakukan demi membalaskan rasa sakit yang mamanya terima selama ini.
__ADS_1
"Sudah yuk kita tidur" ajak Aleta menghentikan pembahasan mengenai Devan dan selingkuhannya itu karena tak ingin anak-anaknya berpikir hal-hal licik untuk mengerjai mereka.
Aleta segera menggendong Rubi dan menggandeng tangan Vincent untuk memasuki kamar mereka. Mereka segera saja berbaring di kasur itu kemudian tidur saling memeluk satu sama lain. Mereka hanya berharap bahwa kehangatan ini takkan pernah berakhir sampai disini saja.