ASEP (Akhir Sebuah Pengkhianatan)

ASEP (Akhir Sebuah Pengkhianatan)
Pertemuan


__ADS_3

Devan memutuskan untuk melakukan test DNA ulang pada Andra di rumah sakit berbeda sesuai dengan usulan dari Raga. Ia datang ke rumah sakit pada malam hari agar tak ada seorang pun yang mengetahui dan menebak rencana. Dia masih belum bisa percaya jika Andra adalah anak kandungnya walaupun ia sudah menyayangi anak itu. Tetapi jika hasil ini juga mengatakan bahwa Andra adalah anak kandungnya, maka dia akan menerimanya dengan lapang dada. Berarti memang dirinya yang bodoh karena sembarangan mengeluarkan bibit dan mengkhianati istrinya.


Setelah menemui dokter dan memberikan sample rambut dia dengan Andra, akhirnya Devan segera melajukan mobilnya ke tempat Aleta. Dengan mengendarai mobil berkecepatan tinggi, akhirnya Devan sampai juga di sebuah rumah milik Aleta dan kedua anaknya. Jantungnya berdegup kencang karena sebentar lagi ia akan menampakkan wajahnya didepan sang istri. Ia juga sudah membawa beberapa dokumen tentang hasil test DNA dan buku pernikahan.


Devan turun dari mobilnya kemudian berjalan pelan menuju rumah milik Aleta. Terlihat sekali kalau rumah minimalis itu sangat nyaman untuk ditinggali dengan beberapa pepohonan rindang di halaman membuat suasana sejuk nan asri begitu terasa. Berulang kali Devan menarik dan menghembuskan nafasnya untuk menghilangkan kegugupan yang ada.


Tok... Tok... Tok...


Devan berjalan mondar-mandir sambil menunggu pintu rumah terbuka. Terdengar dari luar ketukan sandal dengan lantai yang membuat jantung Devan berpacu dengan cepatnya. Berulangkali dia meraup wajahnya dengan kasar.


Ceklek...


Devan yang tadinya menghadap belakang pintu akhirnya menghadap kearah orang yang membuka pintu itu. Devan masih menundukkan kepala dan mengintip sekilas kaki yang berada didepannya. Sudah dipastikan jika yang membuka pintu rumah adalah Aleta bukan kedua anaknya. Langsung saja Devan mengangkat kepalanya membuat Aleta yang akan bertanya sontak saja membulatkan matanya.


Ia begitu terkejut dengan kedatangan seseorang yang berada di masa lalunya. Bahkan kini kakinya terasa lemas dan badannya berdiri membeku melihat kehadiran orang yang tak ingin ditemuinya.


"Aleta..." panggil Devan lirih.


Devan segera saja berjalan mendekat kearah Aleta namun dengan cepat wanita itu memundurkan langkahnya. Aleta menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya karena Devan berhasil menemukan keberadaannya.


"Pergi..." usir Aleta dengan pelan bahkan kini matanya terlihat berkaca-kaca.


Devan menggelengkan kepalanya yang kemudian dengan sigap meraih bahu Aleta sebelum wanita itu akan menutup pintu rumah. Devan menatap kearah Aleta yang kini meronta untuk dilepaskan, namun usaha wanita itu tak berhasil karena tenaganya tak sekuat laki-laki itu.

__ADS_1


"Lihat aku, Aleta" tekan Devan.


Mendengar ucapan Devan itu pun Aleta langsung saja tersadar dari posisinya kemudian menatap tajam kearah mantan suaminya itu. Dalam hati ia selalu merapalkan hal untuk tidak lemah jika berhadapan dengan Devan.


"Mau apa kau kesini? Kita sudah tak ada hubungan apapun setelah 5 tahun yang lalu anda mengkhianati saya" ucap Aleta dengan nada formalnya.


Bahkan kini wanita itu menatap Devan dengan tajamnya. Hanya ada raut wajah kesal, tatapan benci, dan kecewa yang dilayangkan wanita itu kepada Devan. Bahkan terlihat sekali kalau Aleta tengah emosi, hal ini dilihat dari kedua telapak tangannya yang mengepal sempurna.


Pegangan tangan Devan pada bahu Aleta semakin mengerat membuat wanita itu sedikit meringis kesakitan. Namun Aleta bukanlah wanita lemah yang akan memperlihatkan kelemahannya didepan laki-laki seperti Devan.


"Kita masih suami istri Aleta. Aku masih berhak atas dirimu dan juga anak-anak kita" tekan Devan sambil tersenyum menyeringai.


Aleta terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Devan. Kini terlihat perubahan raut wajahnya yang terlihat ketakutan sambil terus melirik kearah dalam rumah. Aleta takut jika tiba-tiba saja anaknya muncul kemudian Devan akan mengambil mereka darinya.


Devan yang memang sedari dulu sering tak bisa mengontrol emosinya pun mulai menunjukkan gelagat tak mengenakkan setelah mendengar ucapan Aleta. Aleta yang mengetahui hal itu langsung saja bersikap waspada agar Devan tak berbuat nekat dan keributan di rumahnya.


"Pergi, Dev..." sentaknya.


"Tidak akan" tekan Devan sambil tersenyuk menyeringai.


"Kita masih suami istri jadi aku takkan pergi kemana-mana. Bahkan mulai malam ini aku akan tinggal disini" lanjutnya.


Aleta yang mendengar hal itu sontak saja membuat emosinya naik. Bahkan dengan sekali sentakan, kedua tangan yang ada di bahunya terlepas begitu saja. Devan yang melihat hal itu langsung saja melemparkan buku pernikahan dan bukti bahwa surat pengajuan cerai Aleta yang diterimanya tak pernah ia tandatangani.

__ADS_1


Aleta yang menerima bukti-bukti itu hanya bisa geleng-geleng tak percaya. Bahkan kini kakinya sudah lemas dengan mata berkaca-kaca. Kini tangannya memegang pintu untuk menopang tubuhnya.


"Nggak mungkin" ucap Aleta lirih.


Devan yang melihat Aleta lemas langsung saja merangkulkan tangannya kearah bahu Aleta. Ia segera menuntun Aleta yang terlihat masih shock itu untuk masuk kedalam rumah dan duduk di ruang tamu. Devan juga memberikan air minum kemasan yang tersedia diatas meja ruang tamu untuk diberikan pada Aleta.


"Kamu masih istriku... Selamanya akan tetap menjadi istriku. Bahkan anak-anakmu, itu juga adalah anakku" bisik Devan tepat pada telinganya.


Aleta begitu terkesiap dengan ucapan Devan itu, bahkan kini laki-laki itu memberikan dua kertas yang berisi hasil test DNA kedua anaknya. Dengan tangan gemetar, Aleta membaca surat itu dan membekap mulutnya tak percaya. Ia tak menyangka jika apa yang dilakukan Devan sudah sejauh ini.


Ia kalah...


Ia kalah...


Aleta merasa kalah dengan hadirnya Devan saat ini. Bahkan laki-laki itu begitu tanggap dan cepat bergerak saat sudah menemukan dirinya. Devan memeluk tubuh Aleta yang masih shock itu dengan semangat. Pasalnya dia sudah sangat merindukan kekasih hatinya itu.


"Pergi Dev... Ku mohon" seru Aleta tiba-tiba.


Bahkan Aleta langsung saja membuang hasil kertas test DNA dan lainnya sampai berhamburan ke lantai. Dengan bar-barnya, ia juga langsung melepaskan pelukan Devan dari tubuhnya. Ia berdiri dengan raut wajah memerah karena menahan amarahnya.


"Lalu kenapa kalau aku masih istrimu? Dan mereka adalah anak-anak kandungmu? Kamu tak berhak atas aku dan anak-anakku karena kamu telah mengkhianatiku" seru Aleta sambil mengarahkan telunjuknya didepan wajah Devan.


Devan pun berdiri kemudian menatap tajam kearah Aleta. Keduanya seakan saling adu tatapan tajam dan tak ada yang mau mengalah sama sekali. Tanpa mereka sadari, perdebatan keduanya tadi disaksikan oleh dua orang anak kecil yang hanya menatap dengan tatapan polosnya.

__ADS_1


__ADS_2