
Devan mengemudikan mobilnya dengan hati yang bahagia, pasalnya kini didekatnya ada Aleta dan kedua anaknya. Aleta duduk disampingnya dengan wajah yang terus menghadap kearah luar, sedangkan kedua anaknya di kursi penumpang sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Sedari tadi Devan terus mencuri-curi pandang kearah Aleta.
Devan masih tak menyangka jika wanita yang sangat ia cintai dan pergi selama 5 tahun itu kini tengah duduk disampingnya. Bersama dengan kedua anaknya juga walaupun suasana masih terlihat sangat canggung.
"Setelah ini kita mau kemana?" tanya Devan memecahkan keheningan.
Pasalnya mereka semua hanya langsung masuk kedalam mobil tanpa tahu arah tujuannya. Devan pun hanya asal mengemudikan saja, yang terpenting Lucas tak bisa mengejarnya. Aleta langsung mengalihkan pandangannya kearah belakang seakan meminta pendapat dari kedua anaknya. Rubi dan Vincent hanya menganggukkan kepalanya saja untuk memberi kode pada mamanya. Sungguh Devan masih bingung dengan cara mereka berkomunikasi tanpa berbicara itu.
"Ke Mall" jawab Aleta dengan singkat.
Devan hanya menganggukkan kepalanya dan terus fokus mengemudikan mobilnya, sedangkan kedua anaknya juga Aleta tengah sibuk dengan pikirannya masing-masing. Tak berapa lama, mereka akhirnya sampai di sebuah mall terbesar yang ada di kota itu. Mereka pun turun dengan menggunakan masker dan topi kecuali Devan.
"Kalian kenapa pakai masker dan topi?" tanya Devan berbisik kepada Vincent.
__ADS_1
"Kami artis, kalau anda amnesia" ucap Vincent singkat.
Devan hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Tak mungkin juga seorang artis yang sedang melejit bisa bepergian dengan bebas seperti dirinya. Bisa-bisa kalau mereka tak menutupi wajahnya, tentu akan dikenali oleh fansnya yang membuat pergerakan mereka tak bebas.
Mereka pun memasuki mall itu dengan Vincent dan Rubi berada didepan sedangkan kedua orangtuanya mengikuti dari belakang. Pemandangan yang membuat semua orang akan mengira kalau mereka adalah sebuah keluarga kecil yang bahagia.
***
Vincent memutuskan untuk ke toko yang menjual laptop dan juga ponsel diikuti oleh orangtua dan saudaranya. Vincent memilih beberapa laptop dan ponsel keluaran terbaru untuk menunjang kemampuannya dalam bidang IT kemudian menyuruh Devan untuk membayarnya.
"Papa yang bayar?" tanya Devan dengan polosnya.
"Ya iyalah anda yang bayar. Sudah 5 tahun anda tidak memberi nafkah pada mama dan kami, masa cuma laptop dan ponsel saja tak bisa membayarinya" ucap Vincent pedas.
__ADS_1
Rubi dan Aleta yang mendengar ucapan pedas dari Vincent itu tentunya langsung menahan tawanya. Mereka memang merencanakan untuk pergi ke mall agar bisa menjahili Devan. Beruntungnya laki-laki itu memang agak polos kalau sudah berhadapan dengan kedua anaknya. Sedangkan Devan langsung saja mengeluarkan dompetnya kemudian mengambil satu kartu ATM dan diberikannya kepada Vincent.
"Anakmu kalau ngomong kaya habis makan seblak level 10" bisik Devan pada Aleta yang ada disampingnya.
"Loe juga ikutan buat kali" ketus Aleta dengan pelan.
Devan pun hanya pasrah saja mendengar ucapan Aleta. Ia benar-benar dibuat mati kutu oleh anak dan istrinya itu. Terlebih saat ada notifikasi masuk di ponselnya menandakan ada pembayaran di ATM nya, matanya begitu terkejut ketika melihat nominal yang dipakai.
"Astaga... Laptop dan ponsel kaya gitu aja hampir 100 juta" batin Devan miris.
Aleta yang mengetahui Devan meratapi saldo tabungannya pun hanya bisa menatapnya dengan tatapan mengejek. Lagi pula ini untuk masa depan kedua anaknya, harusnya Devan juga tak perhitungan tentang pengeluaran mereka. Setelah dari toko komputer, mereka langsung menuju ke sebuah toko peralatan lukis. Rubi segera mengambil semua barang yang diperlukan dan membayarnya dengan ATM milik Devan.
"Baru ngrasain kan kalau anak-anakmu itu pengeluarannya banyak, coba kamu pikirkan gimana aku menafkahi mereka selama 4 tahun sendirian" ucap Aleta dengan sinis.
__ADS_1
Devan seketika terdiam mendengar ucapan dari Aleta. Dirinya kini benar-benar merasa bersalah karena membiarkan Aleta sendirian mencari nafkah dan keperluan kedua anaknya. Devan menatap kepergian Aleta dan kedua anaknya yang masuk kedalam restorant meninggalkan dirinya seorang diri.
"Aku akan menebus waktu 5 tahun yang lalu dengan semua yang aku punya" gumam Devan penuh ambisius kemudian menyusul mereka memasuki restorant.