
"Buruan Lucas..." sentak Seina saat melihat keraguan yang ada dalam mata kekasihnya itu.
Akhirnya Lucas memilih untuk mengikuti rencana Seina untuk menculik anak-anak dari Devan dan Aneta. Mereka berharap dengan penculikan ini bisa membuat keduanya mendapatkan Aneta dan Devan. Saat ini Lucas dan Seina sudah berada didekat rumah milik keluarga Devan.
Keduanya tengah mengawasi lingkungan sekitar rumah Devan untuk melancarkan aksinya. Dan beruntung mereka saat ini melihat tiga anak kecil tengah bergandengan tangan keluar dari rumah itu.
"Ambil saja yang cewek itu" titahnya.
"Lebih baik ambil yang cowok si Vincent, gitu-gitu dia pintar jadi harus kita singkirkan dulu. Kalau Vincent bebas otomatis dia bisa menyelamatkan yang lainnya dengan mudah" tolak Lucas.
Seina menatap tak percaya dengan ucapan kekasihnya yang seakan tak mempercayai dirinya itu. Seina punya alasan sendiri kenapa akan lebih menculik Rubi dibanding yang lainnya. Kalau Rubi yang diculik pasti takkan susah karena melawan pun tenaganya masih lah lemah tak seperti yang laki-laki.
"Yang cewek aja" kekeh Seina.
"Jangan ngeyel, Sei" sentak Lucas kesal.
Akhirnya Seina lebih memilih mengalah daripada membuat Lucas marah karena kemarahan laki-laki itu sangat menakutkan baginya. Akhirnya setelah ketiganya berjalan keluar rumah, Lucas turun dari mobilnya dengan Seina langsung duduk di kursi kemudi.
__ADS_1
***
"Kita nanti dimarahin sama papa dan mama nggak kalau kabur diam-diam begini? Tadi kita keluar bodyguard sedang bergantian istirahat lho" ucap Andra dengan sedikit ragu.
"Enggak, lagi pula kita cuma sebentar untuk ke supermarket" jawab Rubi santai.
Vincent sedari tadi terdiam karena merasakan sesuatu yang tak baik akan segera terjadi. Bahkan sedari tadi matanya melihat kearah sekitar untuk mengetahui apakah ada sesuatu yang membahayakan dia dan saudaranya. Sedari tadi dia sudah curiga jika ada yang mengikuti mereka namun ia sama sekali tak melihat siapa yang mencurigakan itu.
"Kita harus hati-hati" ucap Vincent tiba-tiba.
Andra dan Rubi yang mendengarnya tentu langsung saja menganggukkan kepalanya kemudian saling menggenggam tangan dengan eratnya. Ketiganya bahkan sudah siap berlari jika nanti Vincent memberi kode pada mereka. Benar saja, saat baru berjalan beberapa meter dari rumah...
Rubi dan Andra saling bergandengan dengan Vincent kemudian berlari bersamaan. Lucas yang memang sebentar lagi mendekat kearah ketiganya terkejut dengan seruan dari Vincent membuatnya langsung saja berlari mengejar mereka.
"Sialan... Ternyata Vincent sudah lebih dulu tahu kalau ada yang mengintai mereka" geram Lucas.
Lucas terus saja mengejar ketiga boah kecil yang berlari dengan gesit itu. Takkan ia biarkan ketiganya lolos dari kejarannya karena ia sungguh kesal semua rencananya memisahkan Devan dan Aneta selalu gagal. Hanya dengan cara menculik salah satu dari anak mereka lah hingga bisa untuknya memisahkan dua sejoli itu.
__ADS_1
***
"Kak, kalau kita lari terus aku yakin dia akan semakin mengejar. Kita harus cari cara agar dia berhenti mengejar kita" ucap Rubi dengan nafas tersengal-sengal.
"Gimana kalau kita ambil bebatuan yang banyak lalu lemparin semuanya tepat pada matanya?" ucap Andra mengutarakan idenya.
"Setuju" seru Rubi dan Vincent secara bersamaan.
Mereka masih terus berlari sambil Vincent melihat kearah belakang untuk mencari tahu sampai mana Lucas mengejar. Mereka pun sampai di sebuah lapangan dan beruntung menemukan beberapa batuan kecil juga pasir, segera saja ketiganya memunguti itu dengan cepat.
"Jangan lari..." seru Lucas yang terdengar pada telinga ketiganya.
"Kurasa sudah cukup" ucap Vincent yang diangguki oleh kedua saudaranya.
Setelah mendengar suara Lucas yang mulai mendekat kearah mereka, tentunya semuanya segera bersembunyi. Setelah melihat Lucas sampai di dekat lapangan, ketiganya langsung saja melemparinya dengan batu kecil itu tepat pada matanya.
Hiyatttttttt.....
__ADS_1
Arrghhhhhh....