
Semua menatap kearah acara TV yang masih menampilkan berita mengenai kecelakaan tunggl di jalan raya. Bahkan Vincent dan Rubi juga mengenali mobil siapa yang mengalami kecelakaan itu. Bahkan keduanya sudah berpikir kalau yang menjadi korbannya adalah Seina karena tadi sempat melihat mobil itu datang bersamaan dengan Lucas.
Setelah beberapa menit semuanya terdiam, tiba-tiba saja seorang polisi mengabarkan bahwa identitas korban sudah terinditifikasi. Dia adalah seorang perempuan bernama Seina dan merupakan korban tunggal. Untuk keluarga diharapkan segera menuju rumah sakit X, kata polisi yang ada disana.
Aneta dan kedua anaknya segera menatap kearah Andra yang wajahnya begitu terkejut dengan pandangan mata yang kosong. Sedangkan Devan sedang memikirkan tentang bagaimana nasib Andra ketika sudah tak mempunyai kedua orangtua kandung. Seina yang dinyatakan meninggal dengan Lucas yang kini harus terbaring lemah di rumah sakit. Walaupun nanti Lucas sembuh, ia harus mendekam di penjara karena kasus penculikan anak ini.
"Andra sekarang udah nggak punya mama beneran" lirih Andra dengan tatapan sendunya.
Aneta yang berada disampingnya langsung saja memeluknya dari samping. Bahkan Aneta mencium lama pucuk kepala Andra dengan penuh kasih sayang.
"Walaupun Andra udah nggak punya mama kandung di dunia ini, namun dia akan selalu ada disini" ucap Aneta sambil menepuk dada Andra.
"Saat ini, mama yang ada di dunia ini adalah Mama Aneta. Dia yang akan menggantikan sosok peran mama kandungmu tanpa harus menghilangkan ia didalam hatimu" lanjutnya dengan tersenyum tulus.
Sontak saja Andra menangis histeris mendengar pernyataan dari Aneta. Didekat Aneta dan kedua anaknya, ia merasa memiliki keluarga lengkap. Ibunya memang ada raganya waktu itu, namun sama sekali tak pernah memperhatikan bahkan mempedulikannya. Malah orang yang tak ada hubungan darah dengannya yang selalu ada dan memberikan kasih sayang padanya.
"Terimakasih Mama Aneta, Vincent, Rubi, dan Papa Devan" ucap Andra dengan tulus.
__ADS_1
Bahkan kini matanya menatap semua orang yang ada disana dengan tatapan tulus. Ia juga sudah mengetahui masa lalu mamanya yang menghancurkan keluarga orangtuanya kini. Ia sungguh bangga pada mereka yang mau menerima dirinya padahal dia adalah anak dari orang yang menghancurkan rumah tangganya.
***
Devan membawa Aneta kedalam kamarnya setelah memastikan bahwa anak-anaknya sudah tidur. Ia begitu tak sabaran untuk menjelaskan tentang kejadian hari ini.
"Ada apa?" tanya Aneta yang melihat Devan seperti orang yang sedang terburu-buru.
"Hari ini anak kita hampir saja diculik" ucap Devan dengan raut wajah seriusnya.
"Apa penculikan ini ada hubungannya dengan kecelakaan Seina?" tanya Aneta serius.
"Ya, otak penculikan ini memang Seina dan Lucas. Lucas berhasil aku tangkap sedangkan Seina melarikan diri. Lucas saat ini masuk rumah sakit karena aku hajar habis-habisan" jelas Devan.
Terlihat kalau Devan masih dalam keadaan emosi. Otot-otot lehernya yang terlihat menonjol bahkan kedua tangannya mengepal erat saat mengingat kejadian hari ini. Aneta hanya bisa mengelus telapak tangan Devan dengan lembit agar laki-laki itu meredakan emosinya.
"Semuanya telah berakhir, tak ada Seina dan Lucas yang akan menghancurkan kehidupan rumah tangga kita lagi. Jadi aku mohon untuk kamu, lupakan semua kejadian yang membuat kita hancur. Tatap masa depanmu bersama aku dan anak-anak" ucap Aneta dengan lembut.
__ADS_1
Mendengar pernyataan dari Aneta tentunya membuat Devan merasa bersalah karena dulunya telah mengkhianati cinta sucinya. Matanya berkaca-kaca kemudian dengan tiba-tiba, ia berlutut didepan kaki Aneta membuat wanita itu begitu terkejut.
"Maafkan aku karena dulu mengkhianatimu. Maafkan aku yang bodoh karena terlalu terbuai oleh kenikmatan sesaat. Maafkan aku..." ucap Devan yang terus meminta maaf kepada Aneta karena kebodohannya di masa lalu.
Aneta langsung membantu Devan agar duduk disampingnya. Ia tak mau Devan sampai berlutut didepannya seperti ini, terlebih laki-laki itu adalah kepala keluarga sekaligus imamnya.
"Ayo duduk sini, aku tak mau kau sampai berlutut didepanku seperti ini" ucap Aneta.
Devan menganggukkan kepalanya kemudian memeluk istrinya itu dengan erat. Ia berjanji takkan pernah mengkhianati istrinya itu. Jika sampai itu terjadi, dia rela jika harus dibunuh oleh Aneta dan anak-anaknya. Ia harus mulai belajar dewasa dalam menjalankan perannya sebagai orangtua. Terlebih ada tiga anak yang harus ia didik dengan baik agar tak meniru sifat dan sikapnya dulu.
"Kita jaga anak kita sama-sama. Terutama Andra, ia memang bukan anak kandung kita namun aku sudah menyayanginya seperti anakku sendiri" ucap Aneta dengan lembut.
"Terimakasih sudah menerimaku kembali dan menjadikan hubungan kita kembali utuh" ucap Devan sambil tersenyum.
Aneta menganggukkan kepalanya kemudian mereka membaringkan badannya keatas ranjang tempat tidurnya. Akhirnya keduanya memutuskan untuk tidur setelah menyelesaikan semua masalah yang terjadi dalam kehidupan rumah tangga mereka. Mereka saling memeluk untuk memberikan kekuatan pada masing-masing agar kehidupan barunya esok akan lebih baik.
END
__ADS_1