
Devan hari ini akan mengantarkan Aleta dan kedua anaknya kemanapun mereka pergi. Tak ada kata menyerah bagi dirinya walaupun sudah di jahili oleh ketiga anaknya. Dia akan terus mendekati ketiganya sampai mereka luluh dan mau menerimanya kembali. Kini dia seakan menebalkan mukanya menghiraukan ucapan-ucapan yang dilontarkan kedua anaknya nanti.
Bahkan Devan berencana untuk mengajak ketiganya jalan-jalan seharian ini. Namun sepertinya rencana itu hanyalah angan-angannya semata, pasalnya kini saat dia telah sampai didepan rumah Aleta ternyata ia melihat ada sebuah mobil yang sudah terparkir lebih dahulu. Akhirnya Devan memutuskan untuk memarkirkan mobilnya di seberang jalan rumah Aleta.
Tak berapa lama, seorang wanita dan laki-laki dewasa keluar dari rumah itu diikuti oleh kedua anak kecil yang sudah berpakaian rapi. Mereka adalah Aleta, Lucas, Rubi, dan Vincent. Sepertinya mereka berempat akan pergi keluar atau menghadiri acara penting karena melihat pakaian yang dikenakan oleh Aleta sangatlah formal.
Mereka berempat memasuki mobil itu kemudian pergi berlalu dari rumah Aleta. Devan pun akhirnya memilih untuk mengikuti mereka kemanapun pergi. Dengan menjaga jarak aman, Devan terus melajukan mobilnya dan setelah tak berapa lama akhirnya laki-laki itu mengerti jika arah tujuannya ini adalah di sebuah agensi model.
Devan memasuki halaman parkir agensi model itu kemudian memarkirkan mobilnya disana. Dia melihat Aleta dan kedua anaknya keluar dari mobil diikuti oleh Lucas namun Devan sama sekali tak turun mengikuti. Mereka memasuki gedung itu kecuali dua anaknya yang kini hilang entah kemana karena sedari tadi hanya memperhatikan Aleta.
Tok... Tok... Tok...
__ADS_1
Namun tiba-tiba saja, Devan dikejutkan dengan ketukan di kaca mobil yang ada disampingnya. Sontak saja ia mengalihkan pandangannya dan matanya membelalak kaget saat melihat kedua anaknya kini tengah cengengesan disana. Devan segera membuka pintu dari mobilnya kemudian keduanya segera saja masuk.
"Kalian kok bisa disini?" tanya Devan dengan bingung.
"Iya, soalnya kami mau mergokin orang yang menguntit kami sedari tadi" ucap Rubi dengan acuh tak acuh.
Bahkan kini Rubi dan Vincent langsung saja melihat-lihat kearah dalam mobil Devan. Mereka berdua juga membuka semua laci-laci yang ada disana sperti sedang mencari sesuatu. Kini Devan hanya duduk diam dengan kikuk karena ketahuan tengah menguntit oleh kedua anaknya.
"Nggak" jawab Vincent singkat.
Diam-diam Devan menghela nafasnya lega karena dua orang dewasa itu tak mengetahui aksi menguntitnya.
__ADS_1
"Kalian kenapa nggak ikut masuk? Nanti mama kalian diambil lho sama laki-laki itu" ucap Devan menakut-nakuti.
"Kayanya yang takut mama diambil oleh laki-laki itu adalah anda sendiri, bukan kami" ucap Rubi menohok.
Ucapan pedas yang keluar dari bibir anaknya itu membuat Devan kicep. Sepertinya kedua anaknya itu sehabis makan seblak level 10 sehingga bisa membalikkan ucapannya dengan pedas. Bahkan mereka berdua tetap sibuk dengan kegiatannya tanpa menggubris dirinya. Kalau tidak ditanya duluan, pasti mereka hanya akan diam.
"Ngapain anda ngikutin kami? Nganggur atau gimana?" ucap Vincent dengan sinis.
"Sebenarnya papa ingin mengajak kalian jalan-jalan seharian ini dan kebetulan papa yang jadi bos jadi kalau nggak berangkat ya tak masalah" ucap Devan dengan nada sombongnya.
"Bos nya aja pemalas dan sombong begini, ujung-ujungnya besok juga bangkrut tuh usaha" ucap Vincent.
__ADS_1
Devan hanya bisa menjatuhkan rahangnya mendengar harapan yang dilontarkan oleh anaknya itu. Tak ada rasa kasihan atau bersalah saat mereka seakan mengejek dirinya yang notabene adalah papa kandungnya.