
Setelah pulang dari tempat usahanya, Devan melajukan mobilnya menuju rumah milik Aleta. Dengan wajah sumringahnya ia mengendarai mobilnya itu dengan kecepatan sedang. Ia tadi juga sudah mandi terlebih dahulu sebelum keluar dari kantornya. Malam ini dia akan bertemu dengan kedua orangtua dan juga mertuanya, disana Devan juga akan membahas kelanjutan hubungannya dengan Aleta.
Dia yakin kalau Aleta takkan menolaknya jika membahas hal ini didepan keluarganya. Tak berapa lama, mobil yang dikendarai oleh Devan telah tiba di sebuah rumah sederhana. Devan merapikan rambut dan pakaiannya, setelah dirasa siap kemudian ia segera turun dari mobil. Ia segera melangkahkan kakinya masuk kedalam area halaman rumah Aleta.
Tok... Tok... Tok...
Devan mengetuk pintu rumah itu berulang kali hingga ada suara seseorang yang menyuruhnya untuk menunggu sebentar.
Ceklek...
Melihat orang yang datang ke rumahnya, seseorang yang membuka pintu itu langsung menampakkan raut wajah tak suka. Yang membuka pintu itu adalah Aleta. Dengan tersenyum, Devan masuk menyelonong kedalam rumah itu membuat Aleta mendengus kesal.
"Nggak sopan, dipikir ini rumahnya apa" gumam Aleta pelan.
Walaupun itu hanya gumaman pelan, Devan masih bisa mendengarnya. Namun ia tak menghiraukan Aleta, ia langsung saja duduk di ruang makan yang sudah ada kedua anaknya.
"Kenapa kalian belum siap-siap?" tanya Devan pada kedua anaknya.
"Memangnya mau kemana siap-siap? Kita kan mau makan malam terus tidur" ucap Rubi dengan sinis.
Devan yang melihat hal itu tentunya kesal pasalnya ia sudah memberitahu Aleta tentang acara malam ini. Namun dengan seenaknya mereka malah belum bersiap bahkan masih menggunakan baju santai. Dengan nafasnya yang tak beraturan karena menahan kesal, Devan mencoba tersenyum untuk menyembunyikan hal itu.
Akhirnya Devan tak lagi mengucapkan satu patah kata pun untuk menjawab pertanyaan Rubi. Tak berapa lama, Aleta datang dengan membawa makanan di tangan kanan dan kirinya lalu menatanya diatas meja makan menghiraukan Devan yang menatapnya.
__ADS_1
Aleta tahu kalau kini laki-laki itu tengah kesal terhadapnya, namun ia paham Devan takkan pernah bisa marah padanya. Setelah selesai menata semua makanan, ia mengambilkan kedua anaknya nasi juga lauk yang tersedia. Devan yang melihat hal itu pun segera menyerahkan piringnya ke hadapan Aleta.
"Kenapa dengan piring ini?" tanya Aleta pura-pura tak tahu sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Ambilkan makanan. Aku juga lapar sampai sini belum makan, mana kalian sama sekali belum siap-siap" kesal Devan dengan mengerucutkan bibirnya.
Tingkah manja Devan itu seketika mengingatkannya saat dulu masih bersama. Sama sekali tak pernah berubah, selalu bersikap manja pada dirinya. Dengan menghela nafasnya pasrah, Aleta mengambilkan makanan untuk Devan yang membuat laki-laki itu menerbitkan senyumnya.
"Punya tangan bisa buat ambil makanan sendiri, jangan manja" sindir Vincent.
"Situ juga punya tangan sendiri, kenapa masih diambilkan makanan sama mama?" ucap Devan tak mau kalah.
"Kita masih kecil, wajarlah kalau masih diambilkan sama mama. Lah situ siapa? Tamu aja kok minta ambilkan makanan sama mama kita" ketus Vincent.
Akhirnya mereka makan dalam keadaan hening walaupun masih adu saling tatapan permusuhan antara Devan dengan kedua anaknya. Sedangkan Aleta yang melihat hal itu hanya bisa geleng-geleng kepala saja dan membiarkan semua itu terjadi sebagai hiburannya.
***
Setelah selesai makan malam, Aleta dan kedua anaknya memilih untuk bersiap-siap karena desakan Devan atau lebih tepatnya adalah ancaman dari laki-laki itu. Devan mengancam jika mereka tak mau pergi, maka laki-laki itu yang akan menggantikan paksa pakaian mereka dengan tangannya sendiri. Hal itu membuat Aleta langsung menurutinya, pasalnya disini tak ada yang kuat untuk menahan laki-laki itu.
"Ayo" ajak Devan setelah melihat Aleta dan kedua anaknya sudah mengenakan pakaian rapi.
Mereka bertiga pun mengkuti Devan yang lebih dahulu berjalan. Setelah memastikan semua pintu terkunci dan listrik mati, Aleta segera menyusul Devan dan kedua anaknya yang telah berada didalam mobil. Setelah Aleta masuk kedalam mobil, Devan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
__ADS_1
Tak berapa lama, mobil yang Devan kendarai sampai didepan rumah orangtuanya. Terlihat didepan rumah itu sudah ada satu mobil yang Aleta sangat kenali. Aleta begitu gugup karena akan bertemu dengan orangtuanya lagi setelah menghilang beberapa tahun.
"Jangan takut, kamu tidak bersalah. Disini kamu pergi juga karena kesalahanku" bisik Devan pada Aleta setelah turun dari mobil.
Aleta hanya berdecih sinis mendengar ucapan Devan. Walaupun ia melakukan ini karena ada alasannya namun tetap saja dia pergi tanpa memberi kabar apapun pada mereka yang tentunya membuat ia merasa bersalah. Aleta menggandeng kedua anaknya mendahului Devan yang terlihat santai berjalan di belakangnya.
Semakin mendekat arah keramaian itu, jantung Aleta semakin berdegup kencang. Tangannya semakin mengerat pada kedua anaknya bahkan kini Rubi mengelus punggung tangan mamanya dengan lembut seakan tahu kerisauan Aleta.
"Kami akan selalu mendampingimu, jika mereka tak menginginkanmu maka kita bisa pergi dari sini dan memulai hidup baru tanpa orang-orang di masa lalu" ucap Vincent tiba-tiba.
Pikiran anaknya yang terlalu dewasa inilah yang membuat kadang Aleta tak bisa menebak jalan pikirannya. Dia merasa bersalah karena keadaanlah yang membuat kedua anaknya tak seperti anak-anak yang lain. Akhirnya mereka masuk kedalam rumah yang sudah terbuka kemudian berjalan kearah suara yang begitu ramai.
Saat sampai di ruang tamu terlihatlah kedua orangtua Aleta, mertua, dan satu bocah laki-laki kecil yang sedang memakan cemilannya. Mata Aleta berkaca-kaca saat melihat kedua orangtuanya juga langsung terdiam saat melihat dirinya.
"Aleta..." seru Ibu Renita terkejut melihat anak perempuannya sudah ada didepan matanya.
Orangtua Devan dan Andra yang membelakangi pintu masuk pun langsung membalikkan badannya. Bahkan kini orangtua Devan terlihat terharu karena menantunya sudah ditemukan, sedangkan Andra merasa ketakutan. Dia takut kalau setelah ini akan ditendang dari kehidupan papanya, terlebih dia tak mau tinggal dengan mamanya.
Kedua orangtua Aleta langsung beranjak dari duduknya dan berlari menuju kearah anaknya lalu memeluknya dengan erat. Mereka bertiga menangis dalam pelukan itu membuat semua orang yang ada disana begitu terharu. Terlebih Devan yang menjadi penyebab jauhnya hubungan antara orangtua dan anak itu.
"Kenapa pergi nggak bilang-bilang kami? Kalau tahu Devan nyakitin kamu, harusnya kamu pulang pada kami. Jangan menanggungnya sendirian" ucap Ibu Renita kesal dengan tingkah anaknya.
Aleta hanya terus membisikkan kata maaf pada kedua orangtuanya. Mereka terus berpelukan untuk meluapkan segala rasa rindu yang begitu membuncah didalam dada.
__ADS_1