ASEP (Akhir Sebuah Pengkhianatan)

ASEP (Akhir Sebuah Pengkhianatan)
Bukit


__ADS_3

Devan membawa Aleta di sebuah bukit yang menjadi kenangannya bersama dengan wanita cantiknya itu. Bukit yang menjadi saksi perjalanan cinta keduanya. Bahkan disaat Devan kehilangan Aleta waktu itu, ia selalu menyempatkan diri kesana dengan harapan bisa bertemu dengan istrinya. Bukit hijau yang ditumbuhi rerumputan yang jika berada diatasnya akan langsung melihat keindahan kota.


Devan menarik tangan Aleta dan membawanya lari untuk segera naik keatas bukit. Aleta hanya pasrah saja ditarik begitu karena sebenarnya ia juga rindu dengan tempat ini. Bahkan sedari kecil ia sudah sering kesini. Aleta dan Devan duduk diatas bukit tanpa alas apapun. Keduanya saling terdiam dan menatap lurus ke depan menikmati pemandangan keindahan kota.


"Pemandangan kota ini begitu indah sedari dulu namun sayang, keindahannya masih jauh dibawah indahnya wajahmu" ucap Devan menggoda Aleta.


Aleta tentunya langsung mengalihkan pandangannya kearah Devan yang mengerlingkan matanya. Kalau dulu pipinya bersemu merah karena godaan laki-laki itu, berbeda dengan sekarang. Aleta sama sekali tak menampakkan wajah tersipunya, bahkan kini ia hanya berekspresi datar.


Devan pun hanya bisa terkekeh canggung karena tak mempan menggoda Aleta. Sepertinya Aleta telah mati rasa terhadap sesuatu. Bahkan kini Aleta terus menatap lurus ke depan.


"Sebenarnya apa maumu, Dev? Apa yang kau inginkan dariku?" tanya Aleta dengan nada dinginnya.

__ADS_1


"Aku hanya ingin bahagia bersama dengan kedua anakku. Kenapa kau kembali, Dev?" tanyanya dengan tatapan kebenciannya.


Devan begitu terkejut melihat perubahan wajah Aleta yang begitu menyakitkan untuknya. Baru pertama kali ini dirinya melihat raut wajah istrinya seperti ini. Devan merasa sangat bersalah telah membuat Aleta berbeda dari yang dulu.


"Maafkan aku... Aku hanya ingin kau kembali dalam hidupku bersama dengan anak-anak" jawan Devan dengan sendu.


"Buat apa? Buat apa kau menginginkanku kembali? Untuk menyakiti aku dan anak-anakku kah? Kalau kau memang ingin menyakiti anak-anakku, langkahi dulu aku" sentak Aleta.


Aleta mengeluarkan air matanya membuat Devan ingin sekali menghapusnya. Namun ia tak mempunyai keberanian itu pasalnya Aleta kini menatapnya dengan tajam.


"Tolong... Jangan sakiti anak-anakku, biarkan aku dan mereka meraih kebahagiaan kami sendiri" ucapnya dengan tatapan permohonan.

__ADS_1


Devan yang sudah tak tahan dengan tatapan menyedihkan Aleta pun menarik wanita itu kedalam pelukannya. Namun Aleta memberontak meminta dilepaskan bahkan ia memukul punggung Devan.


"Lepas Dev, kamu jahat... Kamu mengkhianati cinta suciku demi wanita itu. Bahkan kamu sampai mempunyai anak dengannya" seru Aleta yang menangis dalam dekapan Devan.


"Maafkan aku... Maaf..."


Devan hanya mampu mengucapkan kata maaf pada Aleta. Ini semua memang salahnya bahkan mungkin Aleta takkan pernah bisa melupakan kesalahannya yang fatal itu. Namun ia masih berharap kalau Aleta mau memaafkan bahkan kembali padanya.


"Jahat... Hiks..." lirih Aleta.


Bahkan kini pukulan tangan Aleta pada punggungnya sudah mulai melemah namun masih terdengar isakan yang begitu memilukan. Kini Devan pun sudah menangis tergugu dalam pelukan istrinya.

__ADS_1


Jika dengan memukulnya bisa menghilangkan rasa sakit Aleta, ia akan membiarkan wanita itu terus melukainya. Namun pada faktanya Aleta hanya memukulinya saat dirinya ingin meluapkan rasa sakitnya.


__ADS_2