ASEP (Akhir Sebuah Pengkhianatan)

ASEP (Akhir Sebuah Pengkhianatan)
Rencana


__ADS_3

"Kita harus bilang pada papa" seru Andra dengan semangat.


"Enggak" tolak Vincent dan Rubi secara bersamaan.


Vincent dan Rubi takkan pernah bercerita pada sang papa mengenai hal ini, sedangkan Andra punya pemikiran lain. Setidaknya sang papa bisa membantu mereka untuk menjaga pasalnya yang namanya penculikan tentu akan dilakukan oleh orang dewasa.


Menurut Andra, tak mungkin mereka bisa melawan orang dewasa terlebih dilihat dari kemampuan bela diri atau postur badannya pun sudah kalah. Sedangkan Vincent dan Rubi akan menyelesaikan masalah ini dengan caranya sendiri.


Andra yang mendapatkan penolakan dari kedua saudaranya pun langsung menatap mereka dengan tatapan penasarannya. Bahkan Vincent dan Rubi langsung kembali fokus dengan ponsel yang ada di tangan masing-masing. Andra yang masih begitu penasaran juga mulai melihat lagi apa yang ada di ponsel milik Rubi.


***


"Kita kemanapun harus selalu bertiga atau minta orang dewasa menemani. Harus berada di tempat yang ramai biar kita mudah untuk meminta tolong jika ada sesuatu" titah Vincent setelah menutup ponselnya.

__ADS_1


Andra dan Rubi tentunya paham dengan apa yang diperintahkan oleh Vincent. Terlebih mereka tak mau melibatkan orangtua dalam masalah ini karena tak ingin keduanya khawatir dan tidak fokus dalam pekerjaan atau menjaga anak-anak.


"Siap..." seru Andra dan Rubi bersamaan.


Ketiganya memilih untuk masuk kedalam rumah kemudian berpindah ke ruang keluarga. Namun berbeda dengan Vincent yang memilih keluar dari rumah karena merasa ada seseorang yang mengawasi. Benar saja, saat dia membuka pintu rumah ada sebuah mobil yang terparkir di seberang jalan.


Dengan sedikit jendela mobil terbuka, Vincent bisa melihat jika di dalamnya ada seorang wanita yang tengah mengintip dan mengawasi rumahnya itu. Didalam rumah kebetulan hanya ada Ibu Fia dan Ibu Renita yang dewasa sedangkan yang lainnya tengah bekerja di luar.


Dengan beraninya Vincent berjalan mendekat menuju area gerbang rumah. Ia berpura-pura jalan santai agar tak menimbulkan kecurigaan Seina yang tengah mengawasinya. Vincent pun dengan tiba-tiba menunduk seperti sedang memperbaiki tali sepatunya padahal yang ia lakukan adalah mengambil bongkahan batu.


Brakkk....


Arrghhhh...

__ADS_1


Sebuah bongkahan batu Vincent lemparkan hingga ada beberapa yang masuk kedalam mobil dan mengenai Seina. Jendela mobil walaupun kecil namun tetap saja bisa termasuki oleh batu yang dilemparkan oleh Vincent.


"Sialan..." sentak Seina didalam mobil.


Bahkan ada beberapa batu kecil yang mengenai matanya karena sedari tadi dirinya fokus kearah rumah itu. Bahkan ia membiarkan saja Vincent pergi karena target sebenarnya bukanlah anak laki-laki itu.


Vincent yang melihat Seina kesakitan pun menahan tawanya kemudian mendekat kearah mobil wanita itu. Seina yang sibuk dengan matanya terkejut saat melihat Vincent sudah berada disamping pintu mobilnya.


"Jangan pernah ganggu keluargaku. Atau aku akan hancurkan matamu itu agar tak bisa melihat keindahan dunia lagi" ancam Vincent.


Vincent menatap tajam kearah Seina, bahkan tatapan itu seperti menghunus dalam relung hati wanita itu. Seina tak menyangka jika anak laki-laki itulah yang sebenarnya jadi ancaman buatnya.


Bahkan ancamannya itu membuatnya bergidik ngeri sehingga tanpa banyak berpikir lagi langsung saja ia menyalakan mobilnya. Ia segera melajukan mobilnya itu dengan kecepatan tinggi sambil berusaha menghilangkan kotoran yang ada pada matanya.

__ADS_1


__ADS_2