
Lima tahun sudah Aleta meninggalkan negara kelahirannya dan juga sang suami, ah lebih tepatnya sudah mantan suami. Sejujurnya Aleta tak mengetahui tentang perkembangan kasus perceraiannya dengan Devan karena ternyata nomor ponsel pengacaranya itu lupa tak ia simpan. Namun dia hanya bisa berharap kalau urusan perceraiannya itu telah selesai diurus dan kini dirinya sudah berstatus janda.
Sekitar empat tahun yang lalu juga, Aleta telah melahirkan sepasang bayi kembar laki-laki dan perempuan. Kini kedua anaknya itu sudah sangat pintar berjalan dan berbicara bahkan bekerja. Hidup Aleta sungguh saat bahagia dan sempurna menurutnya, bahkan ia juga ditemani oleh sahabat satu-satunya yaitu Katryn.
Katryn sudah lulus kuliah dan mendapatkan pekerjaan di kota ini juga. Bahkan Katryn rela tak pindah apartemen demi dekat dengan dua keponakannya dan juga dirinya. Aleta sangat bersyukur karena selama 5 tahun di kota ini dikelilingi oleh orang-orang baik.
Untuk menyambung hidupnya, Aleta kembali terjun dalam dunia modelling dengan nama samaran "Alice". Hal ini ia lakukan agar orang-orang di masalalunya tak ada yang mengenali dirinya. Bahkan kedua anak kembarnya juga ikut terjun membantunya mencari uang. Awalnya Aleta melarangnya, namun dengan kekeh mereka menginginkan untuk meringankan beban ibunya.
Kedua anak kembar Aleta ini bernama Vincent Adrian Megantara yang biasa dipanggil Vincent dan Vicentia Rubia Megantara atau dipanggil Rubi. Aleta tetap menyematkan nama marga papanya pada kedua anaknya itu karena bagaimanapun mereka juga keturunan dari Devan.
"Mama... Mama..." seru anak perempuan Aleta, Rubi.
"Mama di dapur, nak" jawab Aleta.
Rubi segera saja berlari kearah mamanya yang sedang memasak makan malam untuk ketiganya. Gadis kecil itu dengan semangat menunjukkan hasil karya yang dibawanya itu kepada sang mama. Sedangkan sang kembaran, Vincent terlihat berjalan santai mengikuti adik perempuannya yang terlihat sangat aktif itu.
"Lihat, mama. Rubi sudah menyelesaikan pesanan dari Aunty Kat" seru Rubi sambil menunjukkan sebuah lukisan yang begitu indah.
"Wah... Ini sungguh hasil yang sangat luar biasa" puji Aleta dengan mata berbinar.
__ADS_1
Rubi adalah seorang pelukis cilik yang karyanya sudah mendapat pengakuan Internasional. Bahkan di usianya yang menginjak 4 tahun ini, dia sudah mempunya gallery lukisan sendiri untuk memamerkan hasil karya tangannya. Sejak usia 2 tahun, Rubi memang sudah memperlihatkan bakatnya di bidang lukis.
Berbeda dengan kakaknya yang lebih menyukai dunia IT dan model seperti dirinya. Sungguh dunia Aleta kini begitu sempurna dengan hadirnya anak-anak yang tidak menyusahkan orangtuanya. Walaupun sebenarnya Aleta ingin anak-anaknya tumbuh normal seperti anak lainnya yang di usianya seperti ini tengah bermain dengan teman sebayanya.
"Makasih mama" ucap Rubi dengan tersenyum manis.
"Ayo makan" ajak Vincent yang sedari tadi hanya diam saja.
Mendengar ajakan Vincent segera saja Aleta menyiapkan masakannya yang sudah masak itu keatas meja. Rubi pun dengan senang hati segera menyimpan lukisannya kemudian ikut duduk didekat kakaknya. Aleta mengambilkan keduanya makanan kesukaan masing-masing diatas piring. Mereka semua akhirnya makan dengan tenang, sedangkan Aleta menatap kedua anaknya dengan haru.
"Lihatlah, Dav. Kedua anak yang kau tak ketahui selama ini tumbuh dengan sangat baik dibawah pengasuhanku. Bahkan mereka jauh lebih sukses dari kita di usianya yang masih kecil ini" batin Aleta tersenyum manis menatap kearah kedua anaknya.
Aleta masih tak menyangka bisa membesarkan kedua anaknya dengan baik. Padahal dulu dirinya hampir saja menyerah karena tak kuat dengan mual yang dialaminya selama hamil. Namun Katryn selalu menyemangatinya dan mencarikan sesuatu yang diinginkannya agar dirinya santai dalam menghadapi kehamilannya. Bahkan sampai anaknya menginjak usia dua tahun, Katryn juga yang membantu mengurus keduanya.
Setelah selesai menyelesaikan makan malamnya, ketiganya segera saja masuk kedalam satu kamar. Kedua anaknya itu pun tak mengeluh dalam keadaan ini, walaupun sebenarnya mereka bisa membeli apartemen mewah namun Aleta yang tak mau meninggalkan tempat ini pun melarangnya. Bukan karena takut uangnya akan habis jika membeli apartemen mewah atau rumah, namun ia masih khawatir kalau orang-orang di masalalunya bisa menemukan dia.
"Mama, papa lagi ngapain ya disana?" tanya Rubi dengan tiba-tiba.
Aleta sudah menceritakan tentang dia yang bercerai dengan Devan kepada kedua anaknya. Walaupun mereka masih kecil, namun otak cerdas keduanya membuat Rubi dan Vincent memahaminya. Bahkan diam-diam, Vincent telah mengetahui fakta sebenarnya tentang hubungan kedua orangtuanya itu.
__ADS_1
Aleta terdiam mendengar pertanyaan polos yang terucap dari mulut anaknya. Bibirnya kelu untuk menjawab segala hal yang ingin dia kubur dalam-dalam. Vincent yang tahu kegundahan mamanya pun segera membantunya agar keluar dari pikirannya.
"Papa lagi bobok manis sambil minum susu dalam dot" ucap Vincent asal.
Tentunya jawaban asal dari Vincent itu membuat Rubi mengerucutkan bibirnya, sedangkan Aleta langsung terkekeh pelan. Tak menyangka jika anak laki-lakinya yang jarang menampilkan ekspresi wajah itu bisa membuat suasana yang tadinya canggung menjadi lebih santai.
"Memangnya papa kaya abang minum susu pakai dot" ucap Rubi.
"Nggak kebalik? Bukannya adek Rubi yang masih minum susu pakai dot" goda Aleta.
Memang benar diusianya yang sudah menginjak 4 tahun itu, Rubi masih minum susunya dengan dot. Kalau malam sebelum tidur, pasti ia akan meminta mamanya untuk membuat susu dan dimasukkan dalam botol dot kesayangannya. Jika tidak, gadis itu takkan bisa tidur.
"Ihhh... Mama kenapa jadi ngeledekin Rubi sih? Harusnya mama bela aku dong, masa bela abang" ucap Rubi tak terima.
Vincent yang mendengar ucapan adiknya pun hanya bisa geleng-geleng kepala saja. Adiknya itu memang selalu ingin diutamakan oleh mamanya dan selalu ingin dibenarkan setiap apa yang dilakukannya. Walaupun begitu, Vincent sangat menyayangi adiknya itu.
"Mama bela semuanya dong, kan Rubi dan abang Vincent sama-sama anak mama" ucap Aleta lembut sambil mengelus rambut panjang milik anaknya itu.
"Ayo tidur" ajak Vincent saat melihat mata Rubi sudah sayu.
__ADS_1
Jika tidak dilerai, maka perdebatan kedua perempuan itu bisa bertahan sampai pagi. Apalagi Rubi kalau sudah diajak berdebat maka akan betah mengoceh walaupun matanya sudah terlihat mengantuk. Akhirnya kedua perempuan itu membenahi posisi baringannya diikuti Vincent yang langsung berbarin disamping mamanya. Posisi Aleta tidur ditengah-tengah kedua anaknya.
Mereka pun akhirnya memejamkan matanya untuk menyelami mimpi yang terkadang lebih indah dibandingkan dengan realitanya. Melupakan sejenak semua aktifitas yang seharian ini mereka lakukan tanpa mempedulikan seseorang yang dibelahan bumi sana sedang merindukan kehadiran sosok keluarganya.