
Kini Aleta tengah mengajak kedua anaknya untuk pergi ke sebuah toko bangunan guna membeli cat tembok dan bahan lainnya. Ia ingin anaknya Rubi dan Vincent memilih warna cat yang cocok untuk gedung yang akan dijadikan gallery lukis. Rubi yang diajak pun tentunya sangat bahagia karena ia memang ingin sekali mendesign ulang gedung itu sesuai dengan keinginannya.
Pagi hari mereka telah siap dengan pakaiannya masing-masing. Ketiganya bahkan tak seperti ibu dengan anak namun bak kakak adik. Aleta yang masih muda dengan didukung tubuh yang ramping bak gitar spanyol itu tentunya orang-orang takkan mengira jika dirinya sudah mempunyai anak dua. Begitupun dengan penampilannya, kaos oblong dan celana jeans ketat membuat keindahan lekuk tubuhnya terekspose dengan baik. Begitu pula dengan outfit yang dikenakan oleh kedua anaknya, mereka memakai celana jeans dan kaos oblong longgar serta jaket denim.
Ketiganya segera saja keluar dari rumah kemudian menaiki taksi online yang sudah dipesan oleh Aleta. Taksi online itu melaju membelah keramaian jalanan ibu kota. Ketiganya begitu menikmati perjalanan itu dengan saling berbincang. Tak berapa lama, akhirnya taksi yang mengantarkan mereka ke toko bangunan menghentikan lajunya.
"Terimakasih, pak" ucap Aleta setelah memberikan uang jasanya.
"Sama-sama, neng" ucap sopir taksi itu.
Ketiganya segera saja turun kemudian berlalu masuk kedalam toko bangunan itu. Aleta dan kedua anaknya sibuk memilih barang-barang yang mereka butuhkan didampingi oleh salah satu pegawai disana. Hampir satu jam mereka disana, akhirnya ketiganya menyelesaikan acara belanjanya. Untuk semua barang akan diantarkan menggunakan jasa pick up yang ditawarkan oleh pihak toko.
Saat ketiganya keluar dari toko bangunan itu dan mencari taksi untuk kembali ke rumah, tiba-tiba saja ada sebuah mobil yang sudah Aleta kenali berhenti didepan mereka. Itu adalah mobil milik Lucas, asisten Aleta. Rubi dan Vincent yang melihat hal itu hanya mendengus kesal dan menatap sinis kearah Lucas yang melongokkan kepalanya keluar dari jendela mobil.
"Leta, Vincent, Rubi... Ayo masuk, biar aku antar kemanapun kalian akan pergi" ucap Lucas sambil tersenyum manis kearah Aleta.
Kedua anak Aleta hanya berdecih sinis karena senyuman Lucas itu terlihat seperti pura-pura saja. Pada saat memandang kearah Vincent dan Rubi pun senyuman itu berubah menjadi senyum sinis. Vincent dan Rubi kesal bukan main bahkan kini menatap laki-laki dewasa itu dengan tatapan permusuhan.
"Bagaimana Rubi, Vincent?" tanya Aleta kepada anaknya seakan meminta persetujuan.
__ADS_1
"Mumpunglah gratis, ayo kita masuk" ajak Rubi dengan senyum penuh arti.
Vincent dan Rubi langsung saja menarik tangan Aleta untuk masuk kedalam mobil itu. Pintu bagian belakang dibuka kemudian kedua bocah kecil itu mendorong Aleta agar segera masuk, begitupun dengan Vincent dan Rubi. Mereka bertiga duduk di kursi penumpang dengan Aleta diapit oleh kedua anaknya.
"Ayo pir sopir... Langsung jalan" titah Rubi dengan santai.
Lucas yang melihat dirinya bagaikan sopir seketika saja melongok tak percaya bahkan dia diperintah oleh anak kecil. Sungguh membuatnya jengkel namun tetap mempertahankan senyuman manisnya didepan Aleta. Aleta yang mendengar ucapan Rubi pun merasa tak enak hati dengan Lucas.
"Maafin anak-anak ya" ucap Aleta hati-hati.
"Tak apa, Leta" ucap Lucas sambil tersenyum menatap wanita itu.
"Lebih baik habis ini kita ke kebun binatang yuk" ajak Lucas dengan antusias.
Lucas terus saja berceloteh namun sama sekali tak ditanggapi oleh Vincent dan Rubi. Bahkan kedua bocah kecil itu sengaja mengajak Aleta berbicara agar tak menanggapi ucapan Lucas. Lucas dalam hati sudah mengumpati Vincent dan Rubi dengan berbagai macam cacian.
"Sialan bocah-bocah itu, akan ku tendang kalian jika sudah mendapatkan Aleta dan apa yang ku mau" batin Lucas geram sambil tersenyum sinis.
"Aku takkan membiarkan rencanamu untuk mendapatkan mamaku berhasil karena aku yakin kau tak tulus menyayanginya" batin Vincent dengan tangan kanan yang mengepal erat.
__ADS_1
Bahkan ia menyadari kalau Vincent tengah tersenyum sinis kearahnya lewat spion atas mobil. Keduanya juga sempat melayangkan tatapan meremehkan secara bersamaan namun Lucas langsung mengalihkan pandangannya. Tatapan Vincent memang berbeda dari anak-anak lainnya yang terlihat lucu dan polos, mata hitam legamnya memancarkan ketajaman yang membuat lawannya bergidik ngeri.
Tak beberapa lama berkendara, akhirnya mobil milik Lucas memasuki halaman rumah milik Aleta. Bersamaan dengan itu, mobil pick up yang berasal dari toko bangunan juga sudah sampai disana. Aleta segera turun kemudian memerintahkan orang-orang yang ada disana untuk menurunkan barang-barang yang dibelinya ke gedung yang akan dijadikan galeri lukis oleh Rubi.
***
Kini Aleta, Lucas, Vincent, dan Rubi tengah duduk di dalam ruang galery lukis yang masih kosong. Mereka tengah memakan cemilan dan meminum minuman yang sudah disediakan oleh Aleta. Tanpa ada pembicaraan apapun karena Vincent dan Rubi memang malas berinteraksi dengan Lucas. Setelah menikmati cemilan dan minuman yang ada, segera saja Rubi mengatakan tentang beberapa hal yang harus dikerjakan hari ini.
"Aku ingin semua tembok diberi cat warna abu-abu dulu. Untuk pengaturan letaknya nanti menunggu semua lukisanku sampai" ucap Rubi memberitahu mama dan kakaknya.
Aleta dan Vincent menganggukkan kepalanya mengerti. Kini Aleta mengambil beberapa perlengkapan untuk mengecat tembok lalu dibagikannya kepada Vincent dan Rubi. Begitupun dengan Aleta yang sudah bersiap dengan alat tempurnya, bahkan kini Lucas sama sekali tak dihiraukan keberadaannya oleh ketiganya itu.
"Leta, biar aku bantu untuk mengecat bagian yang tinggi" ucap Lucas menghadap kearah Aleta.
"Ah baiklah..." ucap Aleta sambil tersenyum manis.
Aleta yang akan menyerahkan beberapa perlengkapan pun keduluan oleh Vincent dan Rubi. Kedua bocah kecil itu langsung menyerahkan semua alatnya tepat diatas tangan Vincent membuatnya melotot tak terima. Namun saat Aleta melihat kearahnya, ia segera saja mengubah mimik wajahnya dengan raut senang.
Lucas segera saja mengerjakan semuanya dengan alat-alat yang ada. Demi Aleta, dirinya rela untuk mengotori tangan dan bajunya. Sedangkan Vincent dan Rubi segera saja duduk manis sambil memakan cemilan dengan melihat bagaimana pekerjaan yang dikerjakan oleh Lucas. Aleta sendiri yang melihat tingkah kedua anaknya hanya bisa geleng-geleng kepala karena berani menjahili Lucas yang notabene sudah dianggapnya sebagai seorang adik. Namun kedua anaknya yang tak suka ada orang baru tentunya membuat semuanya semakin rumit.
__ADS_1