
Aleta memulai aktifitasnya pagi ini dengan semangat. Masih ada dua hari lagi jatah liburnya sehingga ia bisa membantu Rubi pindahan galeri ke tempatnya yang baru. Setelah pembicaraan malam itu dengan kedua anaknya dan memutuskan untuk pindah, keesokan harinya Aleta sudah mempunyai rekomendasi galeri baru untuk anaknya. Bukan lagi sewa, namun sudah dibayar lunas oleh wanita itu.
Rubi yang mengetahui kalau mamanya memberikan sebuah tempat untuk galerinya pun merasa senang. Vincent pun juga bahagia ketika adiknya itu bahagia. Saat ini Aleta dan Vincent telah bersiap dengan pakaian rapinya untuk menuju ke tempat galeri milik Rubi sekalian memindahkan barang-barang ke rumah baru mereka.
Setelah melakukan check out, akhirnya Aleta dan kedua anaknya keluar dari hotel tersebut. Dengan menggunakan taksi online ketiganya mulai memasuki hirup pikuk keramaian ibu kota. Sangat terlihat sekali kalau jalanan sangat macet dengan banyaknya orang yang ingin ke sekolah dan tempat kerjanya. Setelah satu jam dalam perjalanan, akhirnya taksi itu sampai juga disebuah rumah sederhana yang Aleta beli.
Rumah sederhana dengan dua lantai itu terletak didekat pinggir jalan raya. Disamping rumah juga ada sebuah gedung kosong yang sudah Aleta beli untuk dijadikan galeri oleh anaknya. Aleta ingin jika anaknya menyalurkan bakatnya itu dengan tak jauh-jauh dari rumah sehingga dirinya bisa terus mengawasi.
"Mama, itu galerinya?" tanya Rubi dengan antusias setelah turun dari taksi.
"Iya, Rubi senang?" tanya Aleta.
Tanpa menjawab, Rubi hanya menganggukkan kepalanya dengan antusias. Bahkan ia langsung berlari menuju gedung kosong sebelah rumah tanpa mempedulikan kopernya yang teronggok di pinggir jalan. Vincent yang mengerti adiknya sudah tak sabaran pun akhirnya menarik koper milik Rubi kemudian masuk kedalam halaman rumah.
"Rubi, ayo masuk dulu ke rumah" ajak Aleta saat melihat anaknya itu malah melihat-lihat kearah dalam gedung.
Padahal gedung itu kuncinya saja masih ia bawa, namun saking semangatnya Rubi melihat melalui jendela kaca yang ada disana. Rubi pun menurut kemudian berlari memasuki rumah dengan langkah cerianya. Apalagi saat ini dia tak perlu keberatan menarik kopernya.
Mereka pun masuk kemudian melihat dalam rumah itu. Walaupun dari luar terlihat sangat sederhana, namun setelah masuk kedalam maka akan disuguhi oleh design dan furniture yang begitu mewah. Vincent dan Rubi begitu takjub dengan pemandangan ini, keduanya tak menyangka jika mamanya telah mempersiapkan hal ini sedemikian rupa.
Bahkan keduanya mendapatkan kamar sendiri-sendiri tak seperti saat masih tinggal di apartemen. Aleta kali ini benar-benar menguras tabungannya untuk mewujudkan rumah impian dan galeri lukis demi anak-anaknya. Akhirnya ketiganya memasuki kamar masing-masing untuk membersihkan diri kemudian berkumpul di ruang keluarga.
__ADS_1
***
Kini Devan tengah dalam perjalanan menuju Hotel Royal tempat Aleta dan kedua anaknya menginap. Sudah sejak ia pulang dari kantor hingga kini waktu menunjukkan pukul 9 malam, namun Aleta dan kedua anaknya belum menampakkan batang hidungnya. Hampir 3 jam dirinya menunggu di seberang hotel namun tetap saja dirinya belum melihat ketiganya.
Karena sudah terlalu lelah dan kesal, akhirnya Devan memutuskan untuk nekat masuk kedalam hotel itu. Setelah menyeberangi jalan, akhirnya Devan langsung saja bertanya kepada resepsionis yang ada disana.
"Permisi, apa disini ada yang menginap dengan atas nama Aleta? Saya temannya, kemarin dia lupa memberi tahu nomor kamarnya kepada saya" tanya Devan to the point sebelum resepsionis itu akan mengucapkan kalimat sambutan.
"Tunggu sebentar, tuan. Saya carikan dulu" ucap resepsionis itu
Sebenarnya tadi resepsionis itu akan menolak untuk mencari tahu jika saja Devan tak menyebutkan bahwa dirinya adalah teman dari nama yang disebutkan. Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya resepsionis itu menghadap kearah Devan kembali.
"Maaf tuan, pengunjung atas nama Aleta sudah meninggalkan hotel ini sejak tadi pagi" ucap resepsionis itu.
"Sialan..." umpat Devan sambil terus menggerutu.
"Kalau Aleta saja sudah tak ada di hotel lalu buat apa aku menunggunya disini? Kaya satpam penunggu pohon aja" gerutunya.
Devan pun segera saja melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi karena kesal tak bisa bertemu dengan Aleta dan anaknya. Dia juga kesal karena Raga tak memberikan informasi mengenai tempat tinggal Aleta yang baru. Mendekat kearah barisan ruko-ruko, Devan menyipitkan matanya untuk melihat apakah penglihatannya itu benar atau tidak.
Devan akhirnya memutuskan untuk meminggirkan mobilnya ke dekat ruko-ruko. Terlihat sekali jika didepan sebuah ruko atau gedung ada seorang anak perempuan yang duduk sambil memandang langit malam. Sambil memandang langit malam itu, tangannya dengan lihai mencoret-coret kuas serta cat air diatas sebuah kertas gambar besar yang berada didepannya.
__ADS_1
"Anakku" lirih Devan saat melihat bahwa itu adalah anak yang bersama dengan Aleta semalam.
Devan segera melihat kearah sekitar untuk memastikan bahwa keadaannya aman. Setelah dirasa aman, Devan segera turun dari mobilnya kemudian melangkahkan kakinya mendekat kearah dimana Rubi tengah fokus melukis. Devan melongokkan kepalanya untuk melihat apa yang tengah dilukis oleh anaknya itu.
Betapa mengejutkannya Devan saat melihat lukisan anaknya yang begitu indah. Perpaduan warna yang sangat serasi dan selaras membuat lukisan itu terlihat nyata. Terlalu mengagumi lukisan anaknya, membuat ia tak sadar jika sedari tadi Rubi telah menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Hmm..." dehem Rubi untuk menyadarkan laki-laki dewasa disampingnya ini.
Devan begitu gelagapan setelah ketahuan anaknya jika ia tengah mengintip. Segera saja ia menegakkan tubuhnya kemudian menatap kearah Rubi yang juga melihatnya dengan tatapan menyelidik. Devan gugup sendiri melihat kecurigaan anaknya terhadapnya itu.
"Jangan suka ngintip, nanti matanya bintitan" sindir Rubi.
Devan hanya bisa meringis geli saat mendengar sindiran dari anaknya ini. Ternyata anak perempuannya ini sangat mirip dengan Aleta yang sangat pedas jika sudah berbicara. Rubi kembali fokus dengan lukisannya tanpa mempedulikan Devan yang masih terus menatapnya. Devan yang sudah tak dianggap keberadaannya pun akhirnya memilih duduk lesehan disamping anak perempuannya itu dengan menatap Rubi yang sangat fokus.
"Apa kamu nggak kedinginan melukis di luar rumah saat malam hari seperti ini?" tanya Devan mencoba memecah kedinginan.
"Kalau dingin ya tinggal pakai jaket. Gitu aja kok repot" ucap Rubi acuh tak acuh.
Devan seketika bungkam mendengar jawaban yang dilontarkan oleh Rubi. Dirinya kan hanya basa-basi dan ingin mendekatkan diri dengan anaknya tetapi memang Rubi sangat sulit didekati oleh orang baru.
"Mending om pergi daripada merusak pemandangan mata saja" lanjutnya.
__ADS_1
Devan hanya bisa mengelus dadanya sabar saat mendengar ucapan sarkas yang keluar dari bibir manis anaknya. Ingin rasanya ia memeluk anak perempuannya ini, namun apalah daya jika Rubi nanti malah berteriak dan warga sekitar menganggapnya sebagai penculik.
"Papa..."