
Devan pulang ke rumah dengan langkah gontainya. Ucapan Raga mengenai dirinya yang dulunya berselingkuh dan sekarang bucin itu kenyataan namun tetap saja dia kesal bukan main. Bahkan setelah Raga mengucapkan hal itu, ia segera saja menimpuk laki-laki itu dengan bolpoint yang ada didepannya ke wajah laki-laki itu. Hal itu juga yang membuatnya diusir oleh Raga dari ruangannya.
"Kamu kenapa Dev? Kok lesu begitu, lihatlah ini Andra sedari tadi memperhatikanmu dari pintu masuk hingga sampai ruang keluarga" tanya Ibu Fia.
Bahkan saat anaknya itu masuk kedalam rumah, Devan sama sekali tak menyapa atau mengucapkan salam. Tak biasanya anaknya itu berjalan lesu seperti ini. Biasanya Devan selalu berjalan dengan tubuh tegap dan terkesan arogant.
Devan yang mendengar ucapan ibunya pun seketika mengalihkan pandangannya kemudian berjalan mendekat kearahnya. Ia segera saja duduk di karpet berdekatan dengan Andra, sedangkan ibunya berada diatas sofa. Devan merebahkan kepalanya diatas paha sang ibu yang kemudian dielus lembut oleh wanita paruh baya itu.
"Jangan terlalu banyak pikiran, Dev. Nanti cepat ubanan" goda Ibu Fia.
Ia tahu kalau anaknya itu sedang pusing tentang pekerjaan, masalah istrinya yang sampai saat ini belum ditemukan, dan mengurusi parasit seperti Seina. Ibu Fia terus mengelus dan memijat lembut kepala anaknya membuat Devan memejamkan matanya untuk menikmati pijatan itu. Sedangkan Andra yang mengetahui papanya sedang lelah pun ikut memijat tangannya.
Devan yang merasakan pijatan dari tangan kecil yang seperti usapan itu pun hanya tersenyum tipis. Ia bangga dengan Andra yang selalu mengerti keadaannya walaupun Devan sendiri jarang mempedulikannya. Devan membuka matanya kemudian mengangkat Andra kedalam pangkuannya. Ia memeluk bocah kecil itu sambil mengusapnya dengan lembut. Perlakuan Devan ini membuat mata Andra berkaca-kaca bahkan langsung memeluk erat papanya.
"Dev, mengenai Aleta sudah ada kabar belum?" tanya Ibu Fia.
"Sudah, bu. Bahkan dia sekarang ada di kota ini" jawab Devan.
Ibu Fia begitu antusias mendengar jawaban dari Devan. Akhirnya menantunya akan segera kembali kedalam pelukan Devan dan keluarganya. Ia tak sabar untuk memberitahu informasi ini kepada besannya karena pasti Aleta belum menemui mereka.
"Kok belum kamu bawa pulang sih, Dev?" tanya Ibu Fia.
"Tunggu sampai 1 mingguan kedepan, bu. Ada yang harus aku urus dulu sebelum aku membawanya kembali masuk dalam keluarga kita. Terlebih kesalahanku dulu sangatlah fatal, aku harus mendekati dia secara perlahan agar ia luluh dan mau kembali padaku" ucap Devan lirih.
__ADS_1
Ibu Fia menganggukkan kepalanya mengerti. Memang takkan mudah untuk membawa Aleta kembali pada Devan karena kesalahan pria itu yang fatal. Ia yakin anaknya akan mampu mengembalikan kepercayaan Aleta, namun entah kapan itu akan terjadi.
"Nak, minta maaflah dengan Aleta. Berjanjilah untuk tak menyakitinya entah hari ini, esok, dan selamanya. Mungkin jika kesalahan sekali ada kemungkinan untuk dimaafkan, namun kalau sudah berulangkali sepertinya akan sangat susah. Tapi jangan hanya janji saja, kamu harus membuktikannya. Sebagai laki-laki, ucapannya lah yang bisa dipegang" pesan Ibu Fia.
"Iya, bu. Devan janji takkan menyakiti Aleta jika nanti ia mau kembali denganku" ucap Devan dengan tegas.
Andra yang mendengarkan pembicaraan nenek dan ayahnya pun seketika langsung teringat dengan nama Aleta yang disebutkan Devan. Perempuan yang selalu diceritakan dan dipuji oleh neneknya karena kebaikan hatinya. Andra ikut bahagia jika papanya bisa berkumpul dengan istrinya itu walaupun sebentar lagi pasti dirinya akan tersingkirkan.
"Lebih baik kalian sekarang mandi, ibu akan menyiapkan untuk makan malam" suruh Ibu Fia setelah pembicaraan tadi.
Devan dan Andra menganggukkan kepalanya kemudian mereka berlalu pergi dengan saling bergandengan tangan. Ibu Fia begitu terharu dengan adegan itu karena merasa bahagia anaknya sudah mau menerima kehadiran Andra.
***
"Kurang ke kanan" seru Rubi.
"Bagus ke kiri dikit, Rubi" ucap Vincent.
"Ah... Iya benar kak, ke kiri aja" seru Rubi.
Mengingat hal itu membuatnya murka namun ia selalu menampakkan senyum manisnya didepan Aleta. Ia kini masuk kedalam apartemennya yang langsung disambut pekikan antusias dari seorang wanita. Dia adalah Seina.
Selama Lucas tinggal di negara ini, Seina sudah jarang pergi ke tempat Devan. Bahkan ia juga tak peduli dengan Andra yang memang lebih memilih tinggal dengan keluarga Devan. Baginya waktu dengan kekasihnya lah yang ia butuhkan selama ini.
__ADS_1
Ya, Lucas dan Seina adalah sepasang kekasih yang mempunyai misi untuk menghancurkan hubungan Aleta dengan Devan. Lucas sengaja pindah ke luar negeri mengikuti Aleta dan menjadi asistennya saat ada peluang demi lebih dekat dengan wanita itu. Walaupun hanya sebagai pasangan kekasih, namun keduanya sudah melakukan hubungan lebih dari itu.
Seina memang mencintai Devan sejak bangku kuliah, namun dia juga menjalin hubungan dengan Lucas hanya demi misi dan kepuasan. Sungguh pasangan yang begitu menjijikkan jika dimata orang yang melihatnya. Bahkan Andra pun tidak mau jika berurusan dengan Lucas dan Seina karena keduanya sama-sama kejamnya jika menyiksa seseorang.
"Halo sayang..." sapa Seina saat Lucas memasuki apartemen.
Lucas tak menjawab namun langsung memeluk wanita itu dengan eratnya. Dia mengendus leher jenjang Seina yang terekspose sempurna di hadapannya.
"Aku capek dikerjain dua bocil itu" adu Lucas.
Seina melepaskan pelukannya dari Lucas kemudian menuntunnya kearah sofa. Mereka duduk disana dengan Lucas memeluknya dari samping.
"Memang apa yang mereka lakukan padamu kali ini?" tanya Seina penasaran.
"Mereka menyuruhku mengecat seluruh ruangan yang ada di galeri. Begitu juga harus memindahkan banyak barang untuk ditata dan itu sendirian" ucap Lucas mengadu.
"Oh... Sabarlah sayangku, setelah misi kita berhasil maka kita bisa menendang mereka jauh-jauh dari kehidupan semua orang" ucap Seina.
"Aku sudah lelah menghadapi dua bocah licik itu. Lalu bagaimana dengan progress misimu?" tanya Lucas.
"Aku akan membiarkan Devan kesepian tanpa kehadiranku dulu. Aku sedang tak mau sakit hati jika berdekatan dengannya maka aku lebih memilih menjauh sebentar. Namun saat aku kembali, aku pastikan dia akan jadi milikku" ucap Seina dengan tersenyum menyeringai.
Lucas hanya menganggukkan kepalanya kemudian tanpa aba-aba menggendong Seina ala bridalstyle dan masuk kedalam salah satu kamar disana. Entah apa yang mereka lakukan, namun hanya terdengar ada suara-suara menjijikkan dari dalam sana.
__ADS_1