
Andra terbangun dari tidurnya dan merasakan perutnya dililit dengan tangan besar. Karena nyawanya belumlah terkumpul, Andra langsung saja bangkit dari baringannya kemudian duduk dan melihat punya siapa tangan itu. Andra begitu terkejut melihat bahwa itu adalah tangan papanya. Papa yang selama ini pendiam dan tak mempedulikannya, bahkan ini adalah pertama kalinya sosok ayahnya itu satu kasur dengannya.
Andra terus melihat kearah wajah papanya yang masih tertidur pulas tanpa terganggu dengan aktifitasnya. Kulit kecoklatan dengan lesung pipi membuat Andra tekagum-kagum. Bahkan rahang tegas dan kokohnya membuat Andra membandingkan dengan dirinya. Ia mempunyai kulit putih dengan pipi berisi membuatnya terlihat seperti boneka.
Ditengah-tengah kekagumannya pada wajah papanya, tiba-tiba saja laki-laki dewasa itu membuka matanya membuat Andra terkejut. Andra segera menyembunyikan wajahnya dibalik selimut karena ketahuan tengah memandangi papanya. Sedangkan Devan hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah anak kecil disampingnya ini.
Sebenarnya Devan ini adalah tipe pria yang sangat susah berinteraksi dengan anak kecil. Wajahnya yang selalu datar selama 5 tahun ke belakang ini membuat aura-aura disekitarnya juga tak baik jadi terkadang anak-anak kecil juga takut padanya.
"Ayo mandi" ajak Devan.
Andra masih menutupi seluruh wajahnya dengan selimut pun seketika terkejut dan membuka asal penutup kepalanya itu. Andra menatap Devan dengan tatapan tak percayanya bahkan sampai melongo. Baru kali ini Devan mau mengajaknya bicara bahkan sampai akan mandi bersama. Andra merasa semua ini adalah mimpi yang rasanya tak ingin ia bangun lagi.
"Papa beneran mau ajak Andra mandi?" tanya Andra dengan mata berkaca-kaca.
Devan hanya menganggukkan kepalanya meyakinkan anaknya itu. Kemudian tanpa aba-aba, Devan menggendong Andra engan satu tangannya. Ia segera turun dari kasur kemudian membawa anak kecil itu masuk kedalam kamar mandi. Sedangkan Andra begitu bahagia karena akhirnya mimpinya benar-benar terwujud.
Andra dimandikan oleh Devan dengan telaten. Bahkan berulang kali keduanya terlibat interaksi candaan antara ayah dan anak. Setelah beberapa menit di kamar mandi, akhirnya keduanya keluar dari kamar mandi kemudian memakai pakaiannya masing-masing.
Setelah selesai bersiap, Devan keluar dari kamar dengan Andra yang berada di gendongannya. Keduanya menuruni tangga dengan candaan yang dilontarkan bocah laki-laki itu. Keduanya segera menuju ke ruang makan yang sudah diisi oleh Ayah Akbar dan Ibu Fia. Kedua orangtua Devan sangat terharu melihat keakraban anak dan cucunya. Ini adalah moment yang sudah sangat lama mereka nantikan. Beruntungnya tak ada kehadiran Seina yang nantinya akan merusak mood Devan.
***
__ADS_1
Setelah menyelesaikan sarapannya, Devan segera saja meninggalkan rumah untuk menuju ke rumah sakit. Devan mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Setelah tak berapa lama mengendarai mobilnya, tibalah ia di sebuah rumah sakit yang lumayan jauh dari kediamannya. Ia tak ingin kegiatannya ini diketahui siapapun yang berada didekatnya agar hasil yang didapat valid.
Devan dengan langkah percaya dirinya berjalan memasuki lobby rumah sakit kemudian menemui dokter yang akan membantunya untuk melakukan tes DNA.
"Kira-kira hasilnya kapan, dok?" tanya Devan dengan tatapan penuh harap.
"Dua minggu kita akan melihat hasilnya" jawab dokter itu tersenyum ramah setelah mengantongi empat helai sample rambut.
Devan hanya menganggukkan kepalanya mengerti kemudian pamit dan mengucapkan terimakasih kepada dokter tersebut. Setelah itu ia segera berjalan keluar dari ruangan dokter itu kemudian berjalan menyusuri rumah sakit menuju pintu keluar.
Namun saat di pertengahan jalan, ia melihat ada dua orang yang tak asing dimatanya. Devan yang penasaran pun akhirnya memilih mengikuti keduanya. Dengan memakai maskernya, Devan berjalan santai agar kedua orang didepannya itu tak curiga jika ia mengikutinya.
"Kamu aja anak satu nggak pernah kamu perhatiin, apalagi mau nambah anak lagi. Yang ada nanti kamu pukulin" ucap seorang laki-laki itu.
"Dipukuli? Berarti selama ini Andra tak mau tidur di rumah ibunya karena sering dipukuli Seina. Lalu apa hubungannya Seina dengan Lucas itu?" gumam Devan dengan menatap tak percaya.
Sepasang wanita dan laki-laki itu adalah Seina dengan Lucas, asisten dari Aleta. Devan sungguh bingung dengan dua orang didepannya ini yang bisa bertemu bahkan terlihat seperti pasangan suami istri. Pasalnya Lucas ini baru saja datang dari luar negeri seperti Aleta dan kedua anaknya. Sepertinya dia harus meminta Raga untuk menyelidiki semua ini.
Pengintaian Devan berhenti saat dua orang itu masuk kedalam ruangan dokter kandungan. Devan tak menyangka jika selama ini Seina sudah memiliki kekasih atau mungkin suami karena biasanya ia akan selalu menempel padanya. Lalu apa sebenarnya tujuan dari Seina selama ini mendekati dirinya? Jika saat ini perempuan itu sudah memiliki pasangan.
Devan pusing, ia segera saja memutar arah kemudian kembali menuju pintu keluar rumah sakit. Ia segera mengambil mobilnya kemudian melajukannya dengan kecepatan tinggi. Ia ingin segera menemui Raga untuk menyelesaikan masalahnya satu per satu.
__ADS_1
***
Tak berapa lama akhirnya Devan sampai juga di sebuah apartemen milik sahabatnya itu. Dengan tergesa-gesa, Devan turun dari mobil kemudian berlari menuju unit apartemen sahabatnya itu. Setelah sampai, Devan segera mengetuk pintu apartemen itu dengan brutalnya.
Dugh... Dugh... Dugh...
"Raga, bangun loe" seru Devan dengan terus menggedor pintu.
Padahal unit apartemen itu ada belnya didekat pintu, namun Devan sama sekali tak menggunakannya. Sedangkan orang yang berada didalam sudah kesal bukan main karena acara tidurnya terganggu akibat gedoran pintu itu. Dengan langkah cepat, Raga membuka pintu itu kemudian melemparkan bantal yang dibawanya kearah sang tamu.
Bugh...
"Sialan..." umpat Devan saat wajah yang dilemparkan oleh Raga mengenai tepat wajahnya.
Bahkan kini Devan langsung membuang bantal itu ke tempat sampah. Raga yang melihat itu melotot tak terima kemudian dengan sigap mengambil memungut bantalnya kembali. Beruntungnya tempat sampah itu tak berisi kotoran apapun. Devan pun menyelonong masuk apartemen sebelum yang punya mempersilahkan.
Raga hanya bisa mengelus dadanya sabar melihat tingkah laku sahabatnya itu. Ia dengan kesal masuk kedalam apartemen kemudian menutup pintunya dengan keras. Raga segera duduk di sofa ruang tamu menyusul Devan yang telah tiduran disana.
"Dasar sahabat nggak punya akhlak" umpat Raga.
Devan tak bergeming namun seketika saja ia teringat tujuannya kemari. Devan pun menceritakan tentang apa yang dilihatnya di rumah sakit dan meminta tolong Raga untuk mencari informasi segera. Raga pun hanya menganggukan kepalanya malas menuruti permintaan sahabatnya yang tak punya sopan santun itu.
__ADS_1