ASEP (Akhir Sebuah Pengkhianatan)

ASEP (Akhir Sebuah Pengkhianatan)
Papa?


__ADS_3

Mendengar seseorang memanggilnya dengan sebutan papa membuat Devan membeku seketika. Namun dia sedikit melirik kearah sekitar namun tak ada laki-laki dewasa pun berada disana membuat Devan sadar kalau yang dipanggilnya papa adalah dia sendiri. Ia belum mengalihkan pandangannya kearah anak yang ia pikir adalah seorang laki-laki itu. Dengan menghela nafasnya agar tak gugup, Devan membalikkan badannya dan menatap seorang anak laki-laki yang ada didepannya.


Baaaaa....


Seketika saja Devan terjengkang ke belakang karena anak kecil didepannya ini menggunakan sebuah topi tokoh hantu yang ada di sebuah film. Tentu saja dirinya ketakutan karena sedari dulu ia memang takut dengan hantu membuat Devan segera berdiri kemudian lari terbirit-birit menuju mobilnya.


"Hantu..." teriak Devan.


Devan masuk kedalam mobilnya kemudian menyalakan mobilnya dengan cepat. Ia segera mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi meninggalkan area jalan itu menuju ke rumahnya.


***


Hahaha...


Sedangkan dua orang anak kecil yang masih berada didepan sebuah gedung itu pun seketika tertawa terbahak-bahak melihat reaksi Devan yang ketakutan. Seorang anak kecil yang tadi memakai topeng hantu itu adalah Vincent. Bahkan tadi ia sengaja memanggil Devan dengan sebutan papa agar laki-laki itu terkejut.


"Lihatlah Rubi, papa kita ternyata penakut. Berani menduakan mama tapi sama hantu saja dia takut" ejek Vincent.


"Benar kak. Kita takkan menerima laki-laki pengecut sepertinya untuk menjadi seorang papa bagi kita. Sama hantu saja takut, gimana mau jagain kita?" ucap Rubi dengan terkekeh sinis.


Rubi memang sudah tahu jika pria misterius yang mengacak rambutnya di restorant waktu itu adalah papa kandungnya. Itu pun ia diberitahu oleh kakaknya, akhirnya mereka berdua menyiapkan rencana untuk mengerjai papanya itu ketika Devan menunjukkan batang hidungnya didepan keduanya.

__ADS_1


Mereka berdua takkan mudah membiarkan Devan masuk dalam kehidupannya. Keduanya juga tak ingin mamanya mudah luluh hanya dengan rayuan gombal papanya itu. Mereka harus menguji kesetiaan dan keseriusan papanya dulu sebelum bisa mendapatkan mamanya.


"Ayo kita masuk kedalam, nanti mama curiga lagi" ajak Vincent.


Tadinya Vincent beralasan akan menemui Rubi dan mengajak adiknya itu segera masuk kedalam rumah mengingat waktu sudah menunjukkan malam hari, namun disana ia malah melihat adanya sang papa yang tengah memperhatikan adik perempuannya. Seketika saja saat melihat papanya membuat ide jahil yang ada di otaknya langsung berjalan.


Rubi pun menganggukkan kepalanya kemudian membereskan peralatan melukisnya dibantu oleh Vincent. Keduanya kini berjalan masuk kedalam rumah dengan Rubi berada didepan kakaknya. Setelah Rubi terlihat agak menjauh darinya, Vincent pun hanya menampilkan senyum misteriusnya saat ada asisten mamanya tengah mengawasi mereka sedari Devan masih berada disana.


Ternyata sedari tadi Lucas berada diseberang jalan dan mengawasi interaksi antara ayah dengan kedua anak itu. Entah apa tujuannya, namun Vincent sedari awal sudah mengetahui ada gelagat mencurigakan tentang kehadiran Lucas. Terlebih satu tahun terakhir ini, sikapnya sangat terlihat akan menguasai mamanya.


"Dasar penjilat, aku takkan pernah membiarkan anda untuk mendekati mamaku" gumam Vincent dengan menyunggingkan senyum sinisnya saat melihat mobil yang terparkir diseberang jalan sana.


Vincent segera saja masuk kedalam rumah menyusul adiknya karena tak mau sang mama terlalu lama menunggu. Sedangkan disisi lain. didalam mobil Lucas tengah menggenggam kuat stir mobilnya. Amarah yang begitu menguasai membuatnya menatap bengis kearah rumah milik seorang model terkenal itu, Aleta.


Setelah melihat Vincent memasuki rumah, Lucas segera saja menyalakan mobilnya dan melajukannya dengan kecepatan tinggi. Emosi yang dirasakannya kini ia lampiaskan dengan menjalankan mobilnya dengan ugal-ugalan.


Lucas ini sebenarnya bukanlah orang baik seperti yang Aleta kenal. Banyak sekali kepalsuan dari data identitas dirinya. Ia memiliki seorang teman yang pintar dalam memalsukan identitas diri. Ia pergi keluar negeri hanya demi sebuah misi yang direncanakannya bersama orang terkasihnya.


Awalnya memang semua berjalan dengan lancar, namun dalam setahun terakhir ini rasa lain muncul di hati Lucas membuat semuanya sedikit berantakan. Apalagi obsesi Lucas yang menginginkan Aleta untuk menjadi miliknya walaupun sebenarnya kini dia sudah mempunyai orang yang dikasihinya. Berulangkali ia berusaha menarik perhatian Aleta, namun selalu saja digagalkan oleh kedua anak wanita itu. Hal inilah yang membuat Lucas ingin sekali menyingkirkan dua anak kecil itu, ditambah kini dengan kehadiran Devan yang tentunya bisa menghalangi segala rencananya.


***

__ADS_1


"Kalian kok lama sekali diluar? Lalu itu apa ditanganmu, nak?" tanya Aleta dengan beruntun.


Sedari tadi dirinya sudah menunggu anaknya di ruang keluarga, namun mereka tak juga masuk kedalam rumah. Bukannya berlebihan, daerah ini memang rawan kriminal saat malam membuatnya membatasi sang anak beraktifitas di luar jika hari sudah mulai gelap.


"Maaf, ma. Tadi ada orang iseng dekatin adek terus kakak pakai topeng ini buat nakut-nakutin deh" ucap Rbi dengan tatapan bersalah saat melihat mamanya menatapnya khawatir.


"Orang iseng? Kalian nggak dijahatin kan? Ada yang luka nggak?" tanya Aleta dengan khawatir.


Jawaban dari Rubi bukannya menenangkan Aleta, namun malah semakin membuatnya khawatir. Bahkan ibu dua anak itu memutar-mutar tubuh kedua anaknya untuk melihat kondisi mereka. Vincent dan Rubi yang diperlakukan seperti itupun hanya bisa pasrah saja dan menahan kepala yang sudah pusing.


"Kami baik-baik saja, ma. Kita gitu lho, dilawan. Pastilah kita yang menang" ucap Vincent dengan terkikik geli.


Ia mengingat kejadian saat berhasil menjahili papanya tadi. Tak mungkin juga jika dia memberitahu mamanya kala sudah bertemu dengan papanya. Ia tak mau mamanya terluka bahkan sakit hati kalau dia dan adiknya membahas tentang papanya itu.


***


Setelah pembicaraan tadi, Vincent dan Rubi memutuskan untuk masuk kedalam kamarnya masing-masing. Vincent kini tengah duduk di meja belajarnya sambil melihat kearah layar laptopnya dengan fokus. Beberapa kalimat asing terlihat membuat hanya sang empu yang menatapnya itu yang tahu apa artinya. Vincent mengepalkan kedua tangannya saat mengetahui suatu fakta baru mengenai musuh dalam selimutnya.


"Hubungan di luar nikah ya? Kumpul cicak dong?" gumam Vincent.


Ternyata Vincent sedang mencari informasi mengenai Lucas dengan kehidupannya disini. Ternyata Lucas adalah orang asli Indonesia. Ia lahir dari orangtua yang berada, bahkan mempunyai bisnis dimana-mana. Entah alasan apa yang membuat Lucas itu mau menjadi asisten Aleta dengan berpura-pura miskin.

__ADS_1


"Aku harus semakin hati-hati dengan laki-laki itu. Bisa saja dia ingin menyingkirkan salah satu diantara kami demi memuluskan rencananya" gumamnya ditengah-tengah keheningan suasana kamar itu.


__ADS_2