
Waktu menunjukan pukul 10 malam dan Ken baru akan pulang.
"Aku pulang. Kalian hati-hati disini!" Ken berlalu pergi.
Hana dan Iska berlalu ke kamar mereka masing-masing.
"Kenapa bu Hana biasa aja ya melihat aku dan pak Ken? ya mungkin bu Hana berpikir kalau aku tidak akan mungkin merebut pak Ken dari bu Hana. Ya Tuhan selama ini bu Hana sudah baik sekali padaku tapi aku malah baper sama pak Ken." Hana menjatuhkan dirinya di tempat tidur.
Iska mengelus perutnya dan sesekali merasakan gerakan dari dalam perutnya. "Nak maafkan ibumu ini yang sempat berpikir tidak menginginkan dirimu. Tapi, sekarang ibu sadar kalau tujuan hidup ibu sekarang adalah dirimu." Iska tertidur.
Keesokan harinya.
Hana dengan terburu-buru akan berangkat ke kantor Arga. "Iska aku duluan. Aku tidak ingin di remehkan Arga client-ku jadi aku akan datang satu jam lebih awal! kamu tunggu Ken aja ya. Bye ...."
"Hati-hati Bu!" teriak Iska. "Ya ampun bu Hana sampai gak sarapan samasekali!"
Iska sarapan terlebih dahulu sebelum berangkat ke kantor dan menunggu Ken. Tidak lama kemudian Ken datang dan Iska juga sudah siap.
"Mana Hana?" tanya Ken.
"Bu Hana pergi daritadi katanya tidak ingin di remehkan client-nya, jadi bu Hana pergi satu jam lebih awal." Iska masuk ke dalan mobil Ken.
"Ya ampun Hana ada-ada aja! mungkin karena kemarin Arga bilang kalau Hana gak bisa menghargai waktu makanya datang lebih awal," jelas Ken sambil tersenyum.
Pak Ken begitu bahagia dan antusias menceritakan bu Hana. Batin Iska.
"Sebulan lagi kamu cuti melahirkan. Apa akan kembali ke Jakarta?" tanya Ken.
"Tidak! saya tidak punya keluarga lagi dan nama saya juga sudah jelek disana. Saya lebih nyaman disini saja," jawab Iska.
"Maksudmu sudah jelek?" tanya Ken.
Ya ampun aku keceplosan! Batin Iska.
"Emmmh karena waktu itu saya di bilang sebagai pelakor!" jawab Iska.
"Jadi suamimu sudah punya isteri?" tanya Ken lagi.
"Maaf Pak! sepertinya tidak usah di bahas lagi saya sudah mengubur semuanya dan tidak ingin mengingatnya lagi walaupun masih ada hubungannya dengan anak saya," pinta Iska.
"Baiklah maafkan aku. Tenang saja aku siap untuk menjadi ayah anakmu dan anakmu tidak akan kehilangan sosok ayahnya," ucap Ken.
"Tapi Pak sepertinya itu tidak mungkin!" ucap Iska.
"Mungkin saja Iska kalau kamu mau menikah denganku!" ujar Ken.
__ADS_1
Iska hanya tertegun mendengar ungkapan Ken itu dan mencerna dengan akal sehatnya. "Tidak Pak! saya tidak berniat menikah saya hanya akan fokus pada anak saya saja!"
Iska buru-buru turun dari mobil Ken karena sudah sampai di kantor.
"Tapi Iska tunggu dulu ..." Ken mengejar Iska.
"Iska naik lift lebih dulu tapi Ken berhasil mengejarnya dan mereka berdua di dalam lift. "Iska kenapa pergi buru-buru sih?"
"Tidak apa-apa Pak!" ucap Iska.
"Aku belum selesai bicara denganmu!" ucap Ken.
"Tidak ada yang perlu di bicarakan lagi Pak. Mungkin saya pikir mulai sekarang kita tidak perlu dekat lagi dan Pak Ken juga tidak perlu antar jemput saya lagi," jelas Iska.
"Memangnya kenapa? apa yang sampai membuat kamu tidak ingin menikah denganku?" tanya Ken.
"Ini terlalu jauh Pak! tidak seharusnya Pak Ken bicara seperti itu dan meminta saya menikah dengan Pak Ken itu salah. Maafkan saya Pak!" tegas Iska.
Tring ... pintu lift terbuka dan Iska berjalan lebih dulu.
"Iska ..." panggil Ken.
Iska mengabaikan panggilan Ken dan berjalan menuju meja kerjanya. Ken mengejarnya tetapi tidak mungkin untuk bicara dengan Iska saat banyak karyawan yang lainnya. Ken melewati meja Iska begitu saja.
Nanti saja aku bicara lagi dengan Iska karena urusan kantor dan urusan pribadi itu hal yang berbeda. Batin Ken.
Iska memulai pekerjaannya dengan semangat.
...----------------...
Di kantor Arga. Hana sudah menunggu selama satu jam dan Arga pun datang.
"Waw bagus ternyata sekarang tidak terlambat!" ucap Arga.
"Saya tidak seperti apa yang kamu bilang! saya disiplin dan juga sangat meenghargai waktu." Hana mendongakkan kepalanya pada Arga.
"Baiklah bagus! ayo ikuti saya keruangan meeting." Hana mengikuti Arga.
Mereka berdua di dalam lift. "Jangan jutek gitu dong mukanya santai aja senyum kek!" ucap Arga.
Hana melihat pada Arga dan tersenyum tetapi senyum kecut yang Hana berikan pada Arga.
"Ya ampun senyumnya kecut banget sih!" goda Arga.
"Maaf Pak Arga yang terhormat gak usah genit padaku!" Hana melotot.
__ADS_1
"Gak ada yang genit jangan geer!" ucap Arga.
Ya ampun ini orang nyebelin banget sih. Kalau gak butuh udah aku batalin meetingnya. Batin Hana.
Druuughh ... Liftnya berguncang.
"Hahhh ..." Hana kaget dan memeluk Arga.
"Tenang saja jangan takut kadang lift suka seperti ini," ucap Arga.
Hana tersadar dan melepaskan pelukannya dari Arga. "Hehhh jangan cari-cari kesempatan ya maen peluk-peluk aja!"
"Kamu kali yang cari-cari kesempatan? kamu yang memelukku!" ucap Arga.
Tring ... pintu lift terbuka.
"Heh jangan macam-macam ya Pak nanti aku batalin kerja samanya," cetus Hana.
"Ya silahkan saja saya tidak akan rugi. Tapi, kamu harus tahu kalau aku kenal semua perusahaan kontraktor di kota ini dan saya tinggal bilang saja kalau perusahaan kamu gak bener dan jangan pernah terima kerja sama dengan perusahaanmu. Gampang, kan?" ancam Arga.
"Iiih nyebelin banget sih! Oke. Kita profesional saja sekarang. Jangan bahas-bahas lagi yang sudah berlalu kita lupakan dan kita mulai lagi. Bagaimana?" ucap Hana.
"Oke. Perkenalkan nama saya Arga Sloane pimpinan dari perusahaan ini." Arga menyodorkan tangannya pada Hana.
"Iya Pak saya Hana Pricilia saya yang ingin bekerja sama dengan perusahaan Bapak." Mereka bersalamam.
"Baiklah kita bahas lebih lanjut di ruangan meeting." Senyum Arga dan berjalan lebih dulu.
"Dasar nyebelin! kalau gak butuh aku gak sudi kerjasama sama orang songong dan nyebelin kaya dia!" gumam Hana.
...----------------...
Di kantor Ken. Waktu istirahat tiba dan Iska lebih dulu membeli makanan bersama Sita tanpa menunggu Ken seperti biasanya.
"Pak Ken belum keluar?" tanya Sita.
"Mungkin sibuk!" jawab Iska.
Mereka berdua membawa makanannya ke meja kerja mereka tidak makan di kantin kantor. Kemudian Ken baru keluar dari ruangannya.
"Iska mau di belikan makanan apa?" tanya Ken.
"Saya sudah beli makanan Pak! ini." Iska menunjukan makanannya yang hendak di makan.
"Oh baiklah kalau sudah. Habiskan makanannya!" pesan Ken dan Ken kembali keruangannya.
__ADS_1
Maaf pak sepertinya mulai sekarang aku akan menjaga jarak denganmu karena demi kebaikan semua orang! Batin Iska.
⬇️⬇️