Asmara Sang Pelakor

Asmara Sang Pelakor
Khawatir


__ADS_3

Semua orang tidak menyadari apa yang sedang Janu lakukan. Sibuk dengan urusan pernikahan Freya. Bahkan Lia pun tidak tahu tentang tes DNA yang Janu lakukan itu.


Walaupun merasa marah dan kesal kepada keluarganya itu, Lia masih saja hadir di setiap acara yang mereka adakan hanya sekedar hadir dan tahu keadaan keluarganya.


Besok adalah hari pernikahan Freya dan Tio. Akan di laksanakan di rumah dengan sederhana sangat jauh dari kesan mewah. Itu semua di lakukan agar tidak muncul gosip-gosip yang tidak di inginkan.


"Kenapa sih Mas, setiap kesini harus banget bawa mainan untuk Ana? seneng banget ya sama anak si Iska itu?" keluh Lia.


"Dia keponakan kita Lia. Anaknya Ken adikmu, tidak seharusnya kamu bicara seperti itu," ujar Janu.


"Terserahlah!"


'Tunggu sampai saatnya nanti tiba. Aku akan tahu anak siapa Ana sebenarnya. Tapi, bagaimana aku menghadapi semua orang kalau tahu aku punya anak bersama Iska?' batin Janu.


Tiba di kediaman Hartanto ....


Janu langsung menghampiri Ana yang sedang bersama Ken juga Iska. Memberikan mainan yang di belinya tadi.


"Paman baik ...." Ana langsung berlari memeluk Janu. Membuat Iska merasa khawatir kalau sampai semuanya terbongkar.


"Ini Paman bawakan mainan untuk Ana."


"Wah makasih banyak Paman. Sudah banyak sekali mainan yang paman berikan padaku, Ana sangat senang sekalu." Tingkah polos Ana membuat Janu tersenyum.


"Ana, mainnya sama suster di kamar ya ..." suruh Iska.


Ana berlalu pergi dengan pengasuhnya.


"Maaf Mas. Jangan terlalu memberikan banyak mainan pada Ana, dia sudah mulai bersekolah sekarang. Harus banyak belajar," tegur Iska.


"Ah maaf. Aku hanya senang saja kalau memberikan Ana hadiah seperti itu," jawabnya.


"Lain kali tidak usah lagi Mas."


"Sudahlah Iska biar saja!" ujar Ken.


Lia yang mendengar ucapan Iska itu merasa tersinggung dan menghampiri mereka.


"Lihatlah Mas, mereka tidak peduli dengan kebaikanmu itu. Mereka tidak suka kamu dekat dengan Ana!" ketus Lia.

__ADS_1


"Bukan maksud kami seperti itu Kak," bela Ken. "Ah ini hanya salah paham saja. Sudah lupakan! aku sedang tidak ingin bertengkar." Ken meraih tangan Iska dan mengajaknya untuk pergi.


"Lihatlah mereka sombong sekali. mentang-mentang sudah punya anak, apalagi sekarang hamil lagi, semakin besar kepala saja!" ujar Lia.


"Sudahlah jangan buat masalah terus. Nanti Papa marah dan menegurku lagi!" ujar Janu.


Pada dasarnya Lia orang yang baik, hanya saja keadaan yang membuatnya yang menjadi seperti itu. Traumanya tidak hilang begitu saja apalagi tidak kunjung hamil membuatnya semakin iri di tambah Freya hamil.


Freya tidak keluar dari kamarnya. Setiap saat hanya berdiam diri tanpa melakukan apapun. Hanya sekedar makan saja dia tidak ingin melakukannya itupun di paksa Iska atau Ambar.


"Makan lagi Freya ..." Iska menyuapi Freya.


Memakan setiap makanan yang masuk ke dalam mulutnya itu. Tatapannya kosong wajahnya datar suaranya tidak terdengar. Mentalnya benar-benar tidak baik.


"Ah bagus sekali, kamu menghabiskan makanannya." Iska tersenyum seraya memberikan Freya minum.


"Nasibku buruk sekali!" lirih Freya.


Iska duduk di hadapan Freya selalu berusaha menguatkannya. "Percayalah Freya, kebahagiaan sedang menantimu di depan sana. Kamu harus tetap semangat ya, ingatlah di dalam perutmu ada janin yang nantinya akan menjadi penguatmu." Iska mengelus perutnya.


"Terima kasih masih mau di sampingku saat ini," ucap Freya memeluk Iska dan menangis di pelukannya.


Iska selalu berada di samping Freya, menguatkan dan menjaganya karena takut terjadi sesuatu hal yang tidak di inginkan.


Tok! tok! seseorang mengetuk pintu kamar Freya.


Iska membuka pintunya, ternyata itu Tio. "Boleh saya bicara dengan Non Freya?"


"Silahkan." Angguk Iska. Ia mempersilahkan Tio masuk dan kemudian pergi dari kamar Freya.


Tio berjalan mendekat kepada Freya, "Non Freya ...."


Ia hanya meliriknya tanpa menjawab Tio.


"Besok kita akan menikah. Ini memang berat untuk kita berdua. Maafkan saya yang sudah setuju menikah dengan Non Freya," ujar Tio.


"Apa alasanmu menerima usulan Papa untuk menikahiku? aku hamil, aku kotor."


"Saya sudah menyerahkan hidup saya selama ini untuk keluarga ini. Saya tidak bisa menolak tapi saya juga tidak bisa membiarkan Non Freya menanggung semuanya sendiri. Saya tahu Non Freya hanya salah pergaulan yang mengakibatkan menjadi seperti ini."

__ADS_1


"Pergi sana. Aku tidak ingin bicara lagi!" Freya tidur membelakangi Tio.


Tio membuang napasnya dengan berat. Tidak pernah berpikir akan menikah dengan kondisi seperti ini. Dimana calon istrinya menatapnya pun tidak! Keluar dari kamar Freya. Iska menunggunya di depan kamar.


"Tio, sudah bicaranya?" tanyanya.


"Sudah," jawab Tio singkat.


"Saya tahu kamu orang yang baik. Akan sangat beruntung Freya menikah denganmu," senyum Iska. "Kau bernasib sama dengan Ken, menanggung sebuah kesalahan yang bukan di perbuatnya. Tapi, dia begitu menyayangiku dan Ana. Saya harap kamu juga melakukan hal yang sama dengan Ken." Iska berlalu pergi.


"Aku tidak pernah berpikir sedikitpun akan menikah dengan Non Freya. Yang notabennya adalah anak bosku! hidup memang penuh rahasia," gumam Tio dan berlalu untuk pulang karena besok harus kembali untuk menikah.


Iska melihat Janu sangat dekat dengan Ana, lalu memperhatikannya dari kejauhan.


Kenapa semakin hari mas Janu semakin dekat dengan Ana. Apa jangan-jangan dia tahu tentang kebenaran Ana? jangan sampai itu terjadi, batin Iska.


"Apa yang kamu lakukan disini sayang?" Ken datang mengagetkan Iska.


"Aku sedang memperhatikan mereka," tunjuknya pada Ana dan Janu. "Aku sangat khawatir."


"Biarkan saja. Toh mas Janu menyayangi Ana sebagai keponakannya. Tapi, ada kebenaran yang harus kamu tahu, ikatan tidak bisa di rubah dia tetap punya hak!" ujar Ken.


"Aku belum siap tentang semua itu Ken," tatap Iska.


"Pasti nanti ada waktu yang tepat." Ken tersenyum.


Bagaimana pun menolak, Janu tetap ayah kandung Ana. Ken membawa Iska pergi agar tidak selalu sedih saat melihat Ana dengan Janu.


"Ana senang jadi anaknya Daddy?" tanya Janu pada Ana yang sedang bermain.


"Seneng banget ..." jawabnya. "Daddy sangat baik, perhatian pada Ana, menyayangi Ana dan Daddy segalanya untuk Ana."


Aku sangat yakin kalau kamu adalah anakku. Tapi, aku tidak boleh gegabah. Kalau sampai semua orang tahu, keluarga ini akan hancur. Bukan hanya hubunganku dengan Lia, tapi hubungan Ken dan Iska, hubungan Papa dengan Ken. Kebenaran ini akan merusak semua hubungan yang terjalin. apa yang harus aku lakukan? batin Janu.


Memperhatikan Ana lebih dalam lagi membuat hatinya semakin tidak kuat. Air matanya menetes tapi bibirnya tersenyum. Selama ini menantikan seorang anak bersama Lia ternyata ia sendiri telah mempunyai anak dan mengabaikannya selama ini.


"Kenapa Paman menangis?" Ana menghapus air mata Janu. "Siapa yang jahat pada Paman?"


Janu tersenyum. "Kamu tahu Ana, menangis bukan hanya tentang kesedihan. Tapi, saat bahagia juga bisa nangis. Paman lagi bahagia," ucapnya.

__ADS_1


__ADS_2