Asmara Sang Pelakor

Asmara Sang Pelakor
Pengakuan Palsu


__ADS_3

Menangis semalaman membuat mata Iska menjadi sembab dan kepalanya pusing. Tapi, Iska harus bangun dan pergi bekerja juga. Seperti biasa Iska pergi ke kantor dengan menaiki ojol agar lebih cepat sampai.


Ken lagi-lagi terlambat. Tapi, Ken mengikuti Iska menuju tempat kerja Iska.


Saat sampai ke kantor, Iska merasa tidak enak seperti ada yang mengikutinya dari belakang. Iska menengok ke belakang tapi tidak ada siapa-siapa. Iska lanjut berjalan dan bersembunyi di balik pintu loby.


"Ternyata itu Pak Tio! masih saja dia mengikutiku." Iska keluar dari persembunyiannya dan menghampiri Tio.


"Cari siapa Pak?" tanya Iska ketus.


Tio menengok dan kaget karena ternyata Tio ketahuan. "Lagiii, mau bertemu client ..." jawabnya santai.


"Setahu saya perusahaan ini tidak punya kerjasama dengan perusahaan bos Pak Tio!" ujar Iska.


"Ya terserah saya saja, disini tidak ada tulisan di larang masuk bagi yang bukan karyawan!" jawab Tio.


"Pak Tio masih mengikuti saya, kan? saya tidak punya hubungan apa-apa lagi dengan Ken. Jadi, mulai sekarang stop ganggu hidup saya," jelas Iska.


"Oh bagus. Itu akan meringankan pekerjaan saya, saya merasa senang!" ucap Tio. Tio mengeluarkan secarik kertas dan memberikannya pada Iska. "Ini jangan lupa ceknya. Pasti kamu tidak ingin rugi, kan?"


"Apa maksudnya Pak?"


"Iya sekarang kamu sudah berpisah dengan Tuan muda. Ini cek yang di janjikan Tuan besar padamu kalau mau meninggalkan tuan muda. Ini kosong, bisa kamu tulis berapapun yang kamu mau!" jelas Tio.


Iska meraih cek itu, merobeknya kemudian melemparkan serpihan ceknya tepat di wajah Tio. "Pak Tio pikir saya semurahan itu? tuh makan cek! saya tidak butuh."


Iska berlalu pergi meninggalkan Tio yang masih berdiri di tempatnya berdiri.


Ternyata Ken mengikuti Iska sampai ke kantor dan menyaksikan sekilas apa yang terjadi pada Iska. "Siapa iti yang bersama Iska? apa yang Iska lemparkan?" gumam Ken.


Ken kaget saat melihat pria itu berbalik. "Tio!"


Ken hendak turun dari mobilnya. Tetapi, Tio keburu berlalu pergi.


"Ada yang tidak beres ternyata! aku sudah curiga!" Ken mengikuti mobil Tio. Sesampainya di kantor Papanya, Ken terus mengikuti Tio dan ingin bicara dengannya.


Ken menghentikan langkahnya saat melihat Tio berbicara dengan Papanya dan terdengar seperti nama Iska di sebut. Ken mendengarkan pembicaraan mereka.


"Apa semuanya sudah beres?" tanya Hartanto.


"Sudah! tapi, Iska tidak menerima ceknya malah merobeknya," jelas Tio.


"Ya itu lebih bagus. Jadi saya tidak rugi kehilangan uang saya." Senyuman merekah di wajah Hartanto.

__ADS_1


Cukup jelas apa yang Ken dengar dan Ken merasa marah kepada Papanya. Ken menghampiri Papanya dan Tio.


"Ken?" kaget Hartanto.


"Apa? Papa kaget seperti itu melihatku disini?" tanya Ken.


"Ah tidak. Ayo kita keruangan Papa!" ajak Hartanto. Ken mengikuti Papanya dengan perasaannya yang masih kesal dan di ikuti juga oleh Tio.


Papa benar-benar keterlaluan! batin Ken.


"Duduklah! ada apa kesini?" tanya Hartanto.


Walaupun Ken pewaris keluarga Suardji, Ken punya perusahaan sendiri.


"Apa maksud Papa?" tanya ken.


"Apa? Papa tidak mengerti apa yang kamu bicarakan?" santai Hartanto.


"Aku tahu kalau Papa bicara sesuatu pada Iska, kan? sehingga dia tidak ingin menikah denganku?" tanya Ken geram.


"Oh jadi dia tidak ingin menikah denganmu? ya itu bagus!" ucap Hartanto.


"Papa, hentikan!" Ken beranjak dari duduknya. "Papa sudah janji padaku kalau tidak akan ikut campur urusan cintaku, kan?"


Apa jangan-jangan Papa tahu kalau Ayah anak Iska adalah mas Janu? batin Ken.


"Papa jangan bicara seperti itu! Papa tidak mengenal Iska. Bagimana mungkin bisa berkata seperti itu tentang Iska?" Amarah Ken semakin memuncak.


"Itu kenyataannya Ken. Papa melakukan yang terbaik untukmu, Papa tidak ingin kamu merasa malu. Bagaimana nanti kata orang lain kalau mereka tahu semuanya?" tanya Hartanto.


"Aku tidak peduli dengan perkataan oranglain. Aku hanya peduli tentang kebahagiaanku saja. Kebahagiaanku adalah Iska Pah!" tegas Ken.


"Ken percayalah pada Papa, kalau kamu akan mendapatkan wanita lebih baik daripada wanita itu dan akan punya anak kandungmu sendiri," bujuk Hartanto.


"Dia anakku! anak kandungku!" ucap Ken lantang.


Hartanto merasa kaget begitupun dengan Tio yang sudah mengetahui semua kebenarannya.


Bukannya itu adalah anak hasil perselingkuhan Pak Janu? tapi, Tuan muda mengaku sebagai ayah kandungnya? batin Tio.


"Anakmu? kapan kamu menikah?" tanya Hartanto penasaran.


"Iya Ana adalah Anakku! aku mengaku salah karena tidak langsung menikahi Iska pada saat itu karena aku merasa belum siap. Dan aku akan menikah dengan Iska sebentar lagi. Tapi, Papa malah menghancurkan semuanya!" jelas Ken.

__ADS_1


"Papa punya cucu?" ucap Hartanto lirih.


Maafkan aku yang berbohong padamu Pa! tapi, ini yang terbaik. batin Ken.


"Iya Pah! iti cucu Papa anak kandungku," tegas Ken.


Hartanto terduduk di kursinya lemas mendengar apa yang Ken ucapkan. Merenung, selama ini Hartanto begitu mengharapkan cucu apalagi Lia anak pertamanya masih saja belum hamil walaupun sudah delapan tahun menikah.


"Baiklah Papa tidak akan melarang kamu menikahi Iska. Nanti malam bawalah cucuku untuk menemuiku!" kata Hartanto dengan suaranya yang bergetar.


Raut wajah Ken langsung berubah dan memeluk Hartanto merasa senang. "Makasih Pa! sudah mengerti aku. Aku yakin kalau Iska adalah pilihan terbaik."


"Papa senang melihatmu senang. Dan Papa lebih senang ternyata Papa mempunyai seorang cucu," ucap Hartanto.


"Papa sudah bertemu Ana, kan? dia sangat manis dan juga lucu. Papa harus menyempatkan bermain dengannya," ucap Ken.


Hartanto hanya tersenyum. Setelah pembicaraan itu selesai Ken berlalu pergi. Tio hanya masih merasa heran kenapa Ken harus berbohong tentang semuanya. Tapi, Tio tidak bicara apapun saat itu dan memilih diam.


Dengan senyuman merekah di bibirnya, Ken bersemangat ingin menemui Iska dan membicarakan semuanya. Tapi, itu harus di tunda karena Ken di tunggu di kantor untuk meeting.


"Aku akan menemui Iska nanti saja kalau pulang kantor." Ken berlalu pergi dengan mobilnya.


Pukul lima sore kantor bubar, Iska pulang dengan menaiki ojol yang di pesannya.


Sedangkan Ken terlambat pulang dan berniat langsung ke rumah Iska karena pasti Iska sudah pulang.


Tok! Tok! Tok! Ken mengetuk pintu rumah Iska.


Ceklak!


Iska membuka pintunya. "Ken?"


"Iska jangan tutup lagi pintunya. Aku ingin bicara sesuatu yang penting denganmu!" pinta Ken.


"Apalagi Ken? semuanya sudah jelas, kan?" ucap Iska.


"Papaku menginzinkan kita menikah!" sumbringah Ken.


"Bagaimana mungkin?" heran Iska.


Apa yang terjadi sebenarnya? tadi pagi Pak Tio masih mengikutiku dan memberikan cek itu. Batin Iska.


⬇️⬇️

__ADS_1


__ADS_2