Asmara Sang Pelakor

Asmara Sang Pelakor
Hamil


__ADS_3

Iska membereskan semua barang bawaannya. Masuk ke dalam kamar mandi untuk bersih-bersih tanpa banyak bicara.


Ken menunggunya di sofa. Setelah selesai mandi Iska ingin istirahat. Ken menghampirinya, "apa yang kamu pikirkan?"


"Aku khawatir soal Ana. Bagaimana kalau mas Janu tahu?" tatap Iska.


"Tenang sayang. Tidak akan terjadi apa-apa! jangan terlalu khawatir," ucap Ken.


Iska berusaha untuk tidak khawatir. Tetapi, hatinya sangat takut.


Hari-hari berlalu. Mereka jalani seperti biasanya, sekarang Janu dan Lia lebih sering datang untuk menemui Ana dan semakin membuat Iska menjadi was-was.


"Apa kami boleh membawa Ana pergi jalan-jalan ke mall?" tanya Janu pada Iska. Disana juga ada Ambar.


Iska langsung menarik Ana ke dalam pangkuannya. "Tidak! emmmh Ana harus menyiapkan diri untuk sekolahnya lusa."


"Kami cuman ingin mengajaknya jalan-jalan saja. Kaya gitu aja gak boleh! kalau bukan karena mengikuti saran Mama, aku tidak sudi berdekatan dengan anakmu!" ketus Lia.


"Bukan maksudku begitu Mbak ...."


"Apa maksudmu? jelaskan! kau merasa senang karena aku tak kunjung punya anak, kan?" Lia marah.


"Lia sudahlah cukup. Jangan bertengkar nanti Papa marah!" bujuk Ambar.


"Hah aku tidak peduli!" Lia menarik tangan Janu untuk pergi. "Ayo Mas kita pergi aja darisini."


"Lia jangan marah!" teriak Ambar.


"Maafkan aku Ma. Gara-gara aku, mbak Lia jadi marah." ucap Iska.


"Ah tidak apa-apa jangan di pikirkan. Lia memang begitu orangnya," ujar Ambar.


Iska hanya mengangguk dan membawa Ana ke kamarnya untuk bermain di kamar.


Khawatirku berlebihan sampai aku menyakiti hati mbak Lia. Tapi, aku sangat takut kalau mas Janu sampai tahu dan mengambil Ana dariku. Maafkan Mama sayang, batin Iska.


Sebulan berlalu dan Lia tidak pernah datang lagi ke rumah itu. Mungkin Lia benar-benar marah dan sakit hati.


Karena Janu tidak ingin hubungan Lia dan keluarganya renggang maka Janu meminta Lia agar tetap mengunjungi orangtuanya.


"Lia. Mereka orangtuamu, kita kesana dan menengok mereka. Biasanya kita rutin menengok mereka seminggu sekali, kan? ini sudah sebulan," bujuk Janu.


"Mereka juga tidak mencariku. Aku di anggap tidak berguna di keluargaku sendiri karena aku belum bisa hamil!" jelas Lia.


"Mama setiap hari menelponmu, kan? bukannya kamu yang tidak ingin bicara?" ungkap Janu.


"Okey. Baiklah kita kesana!"


Lia setuju dan mereka pun pergi ke rumah Ken. Selain bertemu orangtuanya Lia, Janu punya tujuan lain yaitu ingin bertemu dengan Ana juga. Karena sangat merasa rindu pada Ana.


Perasaanku aneh. Kenapa aku begitu merindukan Ana? apa karena aku sangat menginginkan anak ya, makanya jadi keinget Ana terus! batin Janu.

__ADS_1


Saat sampai di rumah Ken. Ana baru saja pulang sekolah dengan diantar oleh Ambar.


"Hai kalian, akhirnya kalian kemari juga. Mama sangat merindukanmu!" ucap Ambar.


"Maafkan aku Ma. Aku baru datang kemari," ucap Lia.


"Hai tante cantik ..." Ana memeluk kaki Lia.


"Hai Ana!"


"Ayo masuklah!" Lia dan Ambar berjalan lebih dulu. Sedangkan Janu masih di mobil mengeluarkan bingkisan untuk Ambar. Ana membuka tasnya ingin mengambil permen yang di berikan ibu gurunya. Tapi, malah membuat tasnya jatuh dan bukunya berserakan.


"Hati-hati Ana. Apa yang kamu cari?" Janu menolong Ana merapihkan isi tasnya.


"Cari permen."


Janu melihat permen itu dan memberikannya pada Ana. lalu Janu memasukan kembali buku yang berserakan. Janu melihat secarik kertas berisikan biodata Ana dan membacanya.


"Mariana Qinan, lahir delapan Agustus 20xx ...." Janu berpikir sesuatu.


Agustus 20xx? bukankah pada tahun baru bulan itu aku melamar Iska? lalu Iska juga melahirkan di tahun itu. Apa jangan-jangan Iska hamil saat kita berpisah? batin Janu.


Iska datang menghampiri Janu dan Ana. Iska mengambil kertas yang Janu pegang dan memasukannya pada tas Ana. "Ayo sayang kita masuk!"


Iska meraih tangan Ana dan membawanya masuk ke dalam rumah.


"Iska tunggu ..." panggil Janu.


"Ana belajar apa hari ini?" tanya Iska sambil melihat kertas yang Janu baca tadi.


"Ana bernyanyi dan melipat kertas menjadi ikan ..." jawab Ana polos.


Iska kaget saat membaca kertas itu yang ternyata biodata Ana yang harus orangtuanya tandatangani.


Apa mas Janu sempat baca kertas ini? Aku harap mas Janu tidak membacanya, batin Iska.


"Mama kenapa bengong?" panggilan Ana menyadarkan Iska dari lamunannya.


"Ah ti-tidak sayang tidak apa-apa ...." Iska merapikan tas Ana dan mengganti baju Ana juga. "Setelah ini kamu main di kamar aja ya. Pasti kamu cape, kan?"


"Baik Mama ...." Angguk Ana.


Perasaan Iska menjadi tidak karuan bagaimana kalau Janu sampai membaca kertas itu dan bertanya-tanya tentang tanggal lahir Ana. Iska keluar dari kamar Ana dan menghampiri yang lainnya dan bersikap biasa saja.


Janu melirik pada Iska, tetapi Iska tidak menghiraukannya sama sekali. Apalagi Lia juga ada disana.


Lia bersikap sinis dan ketus kepada Iska. Iska paham betul apa yang di rasakannya dan memutuskan untuk pergi daripada harus mendengarkan ucapan Lia yang kecap kali menyindirnya.


Iska terlihat tidak sehat wajahnya sedikit pucat. Berjalan dengan perlahan tiba-tiba kepalanya pusing, Iska memegangi kepalanya dan terus berjalan. Kepalanya seperti berputar-putar dan Iska pingsan.


Bugh ... Iska terkulai lemas di lantai tidak sadarkan diri.

__ADS_1


"Iska ...." Refleks Janu berteriak. Mereka menghampiri Iska.


"Iska ... kamu kenapa sayang?" Ambar mengangkat kepala Iska ke pangkuannya.


"Dia kenapa Ma?" ketus Lia sambil menatap tajam ke arah Janu.


"Mama juga tidak tahu. Memang Iska bilang tadi pagi sedikit gak enak badan," jawab Ambar.


"Aku bantu bawa Iska ke sofa!" ucap Janu. Janu mengangkat Iska dan memindahkannya ke sofa.


"Sini mundur. Jangan jadikan kesempatan!" Lia menarik Janu.


Ambar panik dan langsung menghubungi Ken takut terjadi apa-apa pada Iska. Iska masih saja belum sadarkan diri sampai akhirnya Ken datang.


"Apa yang terjadi Ma?" tanya Ken. "Iska bangunlah sayang ...."


"Mama juga tidak tahu, tiba-tiba Iska pingsan."


"Biar aku bawa saja ke rumah sakit!" Ken menggendong Iska dan memasukkannya ke dalam mobil. Ken sangat panik dan melajukan mobilnya dengan ngebut.


"Sadar sayang. Kamu kenapa?"


Sesampainya di rumah sakit, Iska langsung di periksa oleh dokter. Dan tidak lama, Iska pun sadar. Memegangi kepalanya yang terasa pusing.


"Dimana aku?"


"Jangan bangun. Kamu di rumah sakit, tadi kamu pingsan!" jawab Ken.


Iska mengingat semuanya. "Ah iya. Mungkin aku kelelahan!"


"Tidak apa-apa dokter sudah memeriksamu,"


Dokter datang dan mengecek kembali keadaan Iska, "apa yang kamu rasakan?"


"Pusing dok. Emang dari kemarin udah gak enak badan, tadi pagi juga merasa mual-mual." Jelas Iska.


"Kapan terakhir kali datang bulan?"


"Emmh aku sudah telat enam hari dok," jawab Iska.


"Ah mungkin sepertinya Ibu sedang hamil sekarang. Tapi, biar lebih jelas lagi saya akan ambil darah Ibu dan nanti di cek di lab," ujar dokter dan mengambil darah Iska untuk di cek.


Iska dan Ken sudah sumbringah menantikan hasilnya keluar. "Kita akan punya anak lagi sayang ...." Ken memeluk Iska.


"Ah akan sangat senang kalau benar aku hamil," ucap Iska.


Ken mengelus-elus perut Iska yang masih rata itu. "Daddy menunggumu. Sehat selalu ya sayang ...."


Ken sangat antusias dan bahagia.


⬇️⬇️

__ADS_1


__ADS_2