Asmara Sang Pelakor

Asmara Sang Pelakor
Jaga jarak


__ADS_3

Hana akan pergi bersama Arga ke Jakarta. "Kamu baik-baik ya disini Iska. Kalau ada apa-apa hubungi aku jangan sungkan!"


"Bye Iska ..." Arga melambaikan tangannya.


Iska melihat kepergian Hana dan Arga. Karena hari ini hari libur Iska menggunakan waktu paginya dengan menyirami tanaman dengan mendengarkan musik menggunakan headset. Iska menikmatinya dan tidak sadar kalau ada Ken datang.


"Iska!" panggil Ken. Iska tidak menjawab bahkan menoleh pun tidak. Ken masih berpikir kalau Iska masih marah padanya.


"Iska jangan marah lagi padaku dong. Aku minta maaf kalau aku ada omongan yang salah, aku janji tidak akan membicarakan tentang nikah lagi!" ucap Ken.


Iska masih saja tidak menghiraukan Ken dan tetap fokus menyirami tanamannya.


"Iska ... plis maafin aku! Iska kenapa sih? apa benar-benar semarah itu padaku?" gumam Ken.


"Iska ..." Ken menepuk pundak Iska.


"Woy! ..." Iska berbalik karena kaget Iska malah menyiram Ken.


"Iska hentikan! apa yang kau lakukan. Aku sudah mandi di rumah," teriak Ken.


Iska kaget ternyata itu Ken kemudian mematikan keran airnya. "Ah maaf Pak maaf saya gak lihat kalau ada Pak Ken di belakangku!"


"Iska ya ampun aku jadi basah kuyup begini! aku bicara dari tadi memangnya kamu tidak dengar?" ucap Ken.


Iska melepaskan headsetnya. "Maaf Pak saya lagi dengerin musik."


"Hah pantas saja!" Ken mengibas-ngibaskan rambutnya yang basah. Iska terpana melihat ketampanan Ken dengan rambutnya yang basah.


"Emmmh biar saya ambilkan handuk sebentar Pak!" Iska berlalu ke dalam rumah tetapi tidak sengaja menginjak lantai yang terkena percikan air dan membuat Iska hampir terjatuh. Dengan sigap tangan kekar Ken menahan Iska sehingga Iska tidak terjatuh. "Iska hati-hati!"


Mata mereka bertemu bertatapan. "Biar aku gendong ke dalam!" Ken menggendong Iska, pandangan Iska masih belum lepas dari Ken.


"Lain kali hati-hati! kamu lagi hamil." Ken menurunkan Iska.


"Ah makasih Pak! tadi lantainya basah kena percikan air," ucap Iska. "Tunggu saja disini biar saya ambilkan handuk!"


Ken melepaskan bajunya karena basah sekarang Ken bertelanj*ng dada. Iska datang memberikan handuknya dan kaget melihat Ken tanpa baju kemudian menundukan kepalanya. "Ini Pak!"


"Eh maaf bajuku basah jadi aku buka." Ken menutupi tubuhnya dengan handuk.


"Emmh sepertinya saya punya hoodie yang ukuran besar mungkin bisa pak Ken pakai." Iska kembali ke kamarnya dan membawa baju untuk Ken.


"Ya ampun kenapa juga harus lihat pak Ken gak pakai baju sih?" gumam Iska.

__ADS_1


Iska mengambil hoodienya dan memberikannya pada Ken. "Ini Pak! karena terlalu besar makanya tidak saya pakai."


Ken memakainya. "Ya lumayanlah dari pada aku gak pake baju. Apa kata orang nanti!"


"Apa Pak Ken kesini mencari bu Hana? bu Hana sudah pergi dari pagi!" ucap Iska.


"Aku sudah tahu. Aku kesini ingin bertemu denganmu dan bicara penting juga," ucap Ken.


"Kalau untuk masalah kemarin maaf Pak saya tidak ingin membahasnya lagi!" tegas Iska.


"Oke Iska! aku gak akan pernah bahas-bahas itu lagi. Tapi, kamu jangan ngehindar dari aku. Lupakan yang kemarin dan kita seperti awal lagi dekat," jelas Ken.


"Emmmh baiklah Pak. Tapi sebenarnya saya juga tidak ingin selalu merepotkan Pak Ken saya tidak enak apalagi sama karyawan yang lain di kantor," jelas Iska.


"Jangan hiraukan omongan orang lain abaikan saja!" pinta Ken.


"Ya kita bisa dekat tapi sebaiknya Pak Ken jangan antar jemput saya lagi biar saya sendiri saja," pinta Iska.


"Tapi kenapa Iska?" tanya Ken.


Apa aku bilang saja kalau aku takut bu Hana jadi cemburu dan marah padaku! ah tidak aku takut salah juga. Batin Iska.


"Tidak apa-apa Pak serius saya hanya ingin mandiri saja disini," ucap Iska.


Pak Ken sangat peduli pada anakku. Aku senang tapi aku malah baper. Padahal Pak Ken mengajak menikah pun hanya karena demi anakku. Batin Iska.


"Apa Pak Ken mau sarapan biar aku siapkan?" ucap Iska.


"Ah tidak aku sudah sarapan. Kamu istirahat saja kalau ada apa-apa hubungi aku ya. Aku pulang dulu!" Ken pamit untuk pulang.


"Hati-hati pak!" pesan Iska.


Ken pergi. Iska membereskan handuknya kembali dan melihat baju Ken yang tidak di bawa. "Ah baju pak Ken ketinggalan. Biar aku cucikan saja!"


Iska berlalu ke tempat cuci pakaian sekalian mencuci pakaian kotornya juga.


***


Di dalam mobil Ken.


"Benar kata Hana aku jangan terburu-buru mengambil keputusan. Iska sepertinya memang punya luka lama yang dalam dan menutup hati untukku!" gumam Ken.


Kring ....

__ADS_1


Ponsel Ken berbunyi.


("Hallo kak! ada apa tumben banget nelpon?")


("Aku kangen sudah lama tidak bicara denganmu. Kapan ke Jakarta?")


("Belum tahu. Aku masih banyak pekerjaan yang tidak mungkin di tinggal")


("Soalnya kakak juga belum bisa ke Surabaya karena kakak iparmu juga sibuk")


("Kak aku sedang menyetir nanti kalau udah sampe aku telpon lagi")


Ken mematikan panggilannya. Itu adalah kakak perempuan Ken yang di jakarta mereka sangat dekat tapi harus terpisah karena kakaknya ikut suaminya ke Jakarta.


Ken kembali ke rumahnya mendapati Hari yang sedang bersantai di pinggir kolam renang.


"Kenapa Bos mukanya di tekuk?" tanya Hari.


"Susah sekali aku mendapatkan Iska!" ujar Ken.


"Jadi Bos serius sama Iska? atau karena kasihan saja pada anaknya nanti?" tanya Hari.


"Seriuslah! aku tertarik pada Iska. Cantik, baik, perhatian juga," Ken senyum.


"Tapi apa nanti kata orangtua Bos dan kakak-kakak Bos kalau tahu tentang Iska?" ucap Hari.


"Pastinya orangtuaku tidak akan pernah setuju kalau aku ingin menikah dengan Iska!" tegas Ken.


"Kalau udah tahu begitu kenapa Bos masih saja mendekati Iska bahkan berharap pada Iska? padahal itu akan menyakitkan bagi Iska kalau seandainya kalian menikah!" jelas Hari.


"Banyak omong banget sih kamu? lagian Iska juga tidak ingin menikah denganku sekarang!" ucap Ken.


"Ya aku hanya kasihan saja kalau nanti akhirnya dia bakal sakit hati!" ujar Hari.


"Suuut diam jangan banyak bicara lagi!" Ken pergi ke kamarnya.


"Si Bos gak bisa di bilangin!" ketus Hari.


Hari-hari mereka jalani seperti biasanya. Ken lebih jaga jarak dengan Iska sesuai permintaan Iska dan itu juga membuat Iska lebih tenang tapi kadang merasa rindu dengan kehadiran Ken di sisinya. Iska sedang tidak bekerja karena sedang cuti hamil tapi sesekali Ken masih datang mengunjungi Iska apalagi Hana yang selalu bawel untuk menjaga Iska.


Usia kehamilan Iska sudah menginjak 9 bulan tinggal menghitung hari sampai akhirnya nanti anaknya lahir.


Waktu menunjukan pukul 8 malam Iska hendak ke kamarnya dan berbaring merasakan perutnya yang tidak enak. "Kenapa perutku mules ya. Ingin buang air besar tapi tidak keluar. Apa aku akan melahirkan sekarang? tapi HPLnya masih seminggu lagi." Iska berjalan-jalan kecil di kamarnya sambil memegangi perutnya.

__ADS_1


⬇️⬇️


__ADS_2