
Hari-hari mereka lalui dengan sangat bahagia. Menuju pernikahan yang mereka impikan selama ini. Ken membawa Iska untuk membuat gaun, ke seorang dsaigner ternama di ibukota.
"Apa perlu membuat gaun disini? ini pasti sangat mahal, kan?" tanya Iska.
"Apa kamu tidak punya pernikahan impian? dan memakai gaun yang cantik dengan yang apa kamu inginkan?" tanya Ken balik.
"Yah punya. Tapi, apa semuanya perlu? aku pikir tidak usah terlalu mencolok juga," pinta Iska.
"Sudahlah. Jangan pikirkan itu! sekarang aku akan wujudkan gaun seperti apa yang kamu inginkan." Ken meraih tangan Iska menggandengnya masuk ke dalam butik.
Lumayan lama mereka disana, karena pengukuran dan pemilihan model dan bahan juga. Setelah selesai mereka pulang ke rumah Keluarga Ken karena memang ada yang harus di bicarakan.
Mereka sampai, disana juga sudah terparkir mobil Janu menandakan kalau Janu dan Lia juga ada disana.
"Ada mas Janu! apa kita tidak usah kesini saja?" tanya Ken.
"Kita sudah janji dengan orangtuamu. Biarlah! jangan hiraukan mereka saja," ucap Iska meyakinkan Ken.
"Okey kalau kamu tidak masalah." Ken keluar dari mobil di ikuti oleh Iska. Janu dan Lia dan Papa Mama Ken sudah berada di ruang keluarga. Ken memperhatikan Janu yang tidak melepaskan pandangannya dari Iska. Ken merangkul Iska berjalan menghampiri keluarganya. "Maaf menunggu kami lama!"
"Tidak apa-apa! Lia sama Janu juga baru datang kok," ujar Ambar.
"Dimana cucu Opa? apa tidak ikut?" tanya Hartanto.
"Tidak. Ana ada di rumah," jawab Iska.
"Padahal Papa kangen sekali pada Ana. Papa tidak sabar Ana tinggal disini dan Papa akan bertemu dengannya setiap hari," jelas Hartanto.
Lia memasang wajah masam karena tidak senang dengan kehadiran Iska di keluarganya. Apalagi sekarang Hartanto lebih perhatian pada Ana.
"Papa lebay deh!" cetus Lia.
"Papa tidak lebay. Papa bahagia akhirnya Papa punya cucu kandung, yang selama ini Papa nantikan!" tegas Hartanto.
Lia terlihat semakin marah mendengar ucapan Papanya yang terdengar menyakitkan hati karena Lia belum kunjung hamil setelah delapan tahun pernikahannya. Janu melihat dan merasakan apa yang Lia alami, Janu menarik tangan Lia dalam genggamannya mencoba menenangkan Lia. "Jangan di lanjutkan!" Janu menggelengkan kepalanya.
Lia mundur dan menyender pada sofa yang di dudukinya menatap tajam pada Iska tanda kalau dirinya sangat tidak suka.
"Pernikahan kalian akan di laksanakan pada hari minggu, dua minggu lagi!" ucap Hartanto.
"Apa tidak terlalu cepat?" tanya Iska.
"Papa sudah menanyakannya, itu adalah hari dan tanggal yang baik untuk kalian menikah," jelas Hartanto.
__ADS_1
"Okey, kami setuju Pah!" tatap Ken pada Iska.
Iska hanya tersenyum dan mengangguk.
"Kalian tidak usah memikirkan persiapannya, biar kami yang siapkan. Kalain sudah ukur untuk baju pernikahan, kan?" tanya Ambar.
"Sudah Mah. Kami tadi baru saja pulang dari sana. Tapi, kami belum beritahu tanggal pastinya. Jadi kami harus kesana lagi besok," jawab Ken.
"Semoga semuanya lancar ya sayang," ucap Ambar.
"Hahhh menyebalkan sekali!" gumam Lia pelan.
"Papa pergi dulu kalian lanjutkan saja berbincangnya." Hartanto pergi dengan di ikuti Tio di belakangnya.
"Kalian berbincang saja. Mama akan suruh bibi menyiapkan makanan untuk kalian." Ambar pergi ke dapur.
Suasana menjadi tidak nyaman. Sangat menegangkan! tatapan tidak suka Lia sangat terlihat jelas dari raut wajahnya itu. Apalagi setelah tahu kalau Papanya sendiri membela Iska sekarang gara-gara Ana.
"Aku tahu kisah kalian di masalalu. Aku harap semuanya sudah berlalu dan tidak akan pernah bersangkutan dengan sekarang atau masa depan," jelas Ken.
Lia terperangah mendengar ucapan Ken itu.
Ken tahu semuanya? batin Lia.
"Lelaki juga kalau gak di goda gak akan macam-macam!" ketus Lia.
"Kak Lia bilang apa? di goda? apa aku tidak salah dengar? Kak Lia jangan mau di bodohi suamimu yang pura-pura polos ini!" jelas Ken.
Janu berdiri beranjak dari duduknya. "Jangan bicara keterlaluan ya padaku! kamu jangan sok tahu. Kamu yang minta jangan bahas masalalu tapi kamu sendiri yang mengoreknya!"
"Apa? tidak terima?" ujar Ken.
"Sudahlah Ken. Jangan bahas lagi tentang ini," pinta Iska pada Ken.
Ken hanya mengangguk dan menghentikan debatnya dengan Janu. Tapi, masih menatap Janu dengan tidak suka.
"Itu adalah kenyataan Ken. Sekali penggoda dan pelakor, selamanya akan tetap begitu. Pelakor!" sinis Lia.
"Hentikan Mbak! semuanya sudah selesai. Tidak perlu ada yang di bahas lagi dan saya tekankan sekali lagi sama Mbak, kalau saya bukan pelakor!" Iska bicara.
"Terserah padamu! aku samasekali tidak peduli. Awas ya kalau sampai aku lihat kamu deketin suamiku lagi!" ancam Lia. Lia pergi dengan menarik tangan suaminya agar mengikutinya.
Iska merasa sakit hati dengan ucapan Lia. Apalagi kata Pelakor sering terngiang-ngiang di kepalanya.
__ADS_1
Ken menatap Iska. "Emmmh maafkan kak Lia ya. Kak Lia orangnya emang begitu, pendendam! dan sulit memaafkan orang lain."
"Apa aku akan sanggup kalau harus di hadapkan dengan mereka terus menerus. Apalagi kalau kita menikah akan bagaimana?" Iska merasa khawatir.
Ken menggenggam tangan Iska. "Tatap mataku! percayalah padaku. Aku akan selalu ada di sampingmu melindungimu, sebagaimana mestinya seorang suami bersikap."
"Terima kasih Ken!"
Ken dan Iska menghampiri semua orang di meja makan, Mereka makan bersama. Lia tidak banyak bicara hanya diam saja apalagi Ken dan Iska juga Ambar hanya pokus membicarakan soal Ana ... Ana ... dan Ana. Hati Lia terbakar cemburu mendengar itu semua, seharusnya Lia juga bisa seperti itu dengan Mamanya membicarakan soal anak.
Selesai makan bersama, Ken pamit untuk mengantarkan Iska pulang.
Ken merogoh saku-sakunya mencari sesuatu. "Ah sepertinya kunci mobilku tertinggal di meja makan. Kamu tunggu sebentar disini biar aku ambil dulu." Ken kembali ke ruang makan.
Janu tidak sengaja melihat Ken tanpa Iska. "Sepertinya Iska sedang sendirian?"
Benar! Iska berdiri di teras sendirian menunggu Ken.
Janu menepuk bahu Iska.
Iska membalikan badannya, "sudah ada Ken?"
"Ini aku Janu!"
Iska kaget dan melangkah mundur menjauhi Janu.
"Mas Janu?"
"Iya. Sebenarnya aku mencari kesempatan kita bisa bicara berdua saja," ucap Janu.
"Sana pergilah! aku tidak ingin isterimu yang cemburuan itu melihat ini!" ketus Iska.
"Okey aku akan pergi. Tapi biarkan aku bicara sebentar!" pinta Janu. "Aku ingin minta maaf soal kejadian tadi. Sikap Lia pasti sangat menyakitimu, kan?" tanya Janu.
"Kalau sudah bicaranya pergilah!"
"Satu lagi Iska," pinta Janu. "Untuk masalah lima tahun lalu, aku minta maaf Iska. Aku yang salah aku membohongimu waktu itu, tapi aku tidak ada niatan untuk sepeti itu!" mohon Janu.
"Maafmu terlambat Mas! sekarang biarkan aku bahagia dan jangan ganggu kehidupanku lagi!" tegas Iska.
Tidak lama kemudian Ken datang dan melihat Iska bicara dengan Janu. "Jadi gini Mas? kamu cari kesempatan dan berbicara dengan Iska?" tatap Ken tidak suka pada Janu.
⬇️⬇️
__ADS_1