
Karena sudah ada Ken dan Hari yang menjaga Iska, perawat yang sedari tadi menemani Iska pergi. Ken tertidur di sofa ruangan rawat Iska. Iska kebelet ingin buang air tapi tidak ingin membangunkan Ken kemudian berjalan sendiri ke kamar mandi.
Iska berjalan dengan pelan agar Ken tidak terbangun dan malah merepotkan Ken.
"Praaaang ...." Iska tidak sengaja menyenggol wadah stainles entah bekas apa. Iska mengernyitkan dahinya dan melihat ke arah Ken yang ternyata terbangun dan mengucek-ngucek matanya.
"Eh kamu mau kemana Iska? kenapa gak bangunin aku aja? kamu gak apa-apa, kan?" Ken menghampiri Iska.
"Saya tidak apa-apa Pak. Hanya ingin buang air saja kebelet," jawab Iska.
"Ya, sudah. Sini aku bantu kamu berjalan." Ken memapah Iska sampai ke pintu toilet dan menungguinya di depan pintu.
Iska bingung karena akan ganti pemb*lut tapi tertinggal di tasnya. "Aduh bagaimana ini pemb*lutnya tertinggal di tasku. Masa iya aku harus nyuruh Pak Ken untuk ambilkan? malu ih!" gumam Iska.
"Iska kenapa lama? apa ada masalah?" tanya Ken.
"Emmmh maaf Pak apa boleh minta tolong?" Iska memberanikan diri untuk meminta tolong pada Ken.
"Apa? bilang saja!" jawab Ken.
"Emmmh tolong ambilkan pemb*lut di tasku yang warna hitam," ucap Iska.
"Sebentar biar aku ambilkan!" Ken mencarinya tanpa rasa malu atau jijik Ken memberikannya pada Iska. "Ini! bukalah pintunya."
"Emmmh Pak Ken jangan lihat kesini!" pinta Iska.
"Baiklah!" Ken menyodorkan tangannya dan memalingkan wajahnya kemudian Iska mengambilnya dan menutup kembali pintunya. "Apa masih ada yang lain yang harus aku bantu?"
"Tidak Pak!" jawab iska.
"Baiklah! aku tunggu disini di depan pintu," ucap Ken dengan menguap merasakan kantuknya.
Tidak lama kemudian Iska keluar dan Ken membantunya kembali naik ke atas ranjang.
"Pelan-pelan Pak." Iska mencengkram bahu Ken.
"Ah maaf." Ken membaringkan Iska dengan hati-hati.
"Terima kasih Pak. Maaf merepotkanmu," ucap Iska.
"Tidak apa-apa. Aku senang kok!" senyum Ken.
Kenapa malah jadi kayak gini sih. Pak Ken semakin perhatian padaku dan aku juga merasa nyaman saat Pak Ken perhatian padaku. Bagaimana ini? Batin Iska.
__ADS_1
Ken seperti suami siaga bagi Iska membantunya dan menemaninya bahkan tidak merasa jijik saat Iska minta tolong di ambilkan pemb*lut.
Iska meraih ponselnya dan melihat kalau waktu masih menunjukan pukul 5 pagi. Perawat datang untuk memeriksa kondisi Iska, karena sudah baikan perawat itu melepaskan infusnya.
"Sus apa bisa saya melihat anak saya atau anak saya di bawa kesini?" tanya Iska.
"Sebentar ya Bu biar saya bawa kesini sekalian belajar menyusui juga." Perawat itu pergi mengambil bayinya.
"Ini Bu bayinya silahkan berikan ASInya. Biar belajar menyusu langsung," ucap Perawat itu.
"Haiii Ana ini ibu sayang ..." Iska mengajak bicara bayinya.
Iska menatap Ken dan merasa malu kalau harus di lihat Ken saat belajar menyusui.
"Ah saya mau keluar dulu nitip ya Sus." Ken berlalu pergi. Kemudian Iska berani membuka bajunya dan memberikan ASI pertamanya untuk Ana.
Dengan bimbingan perawat Iska belajar menyusui yang baik dan benar walaupun ASInya masih belum keluar banyak. "Nanti di buatkan resep untuk memperlancar ASI biasanya ada vitamin atau susu ada juga yang herbal. Tapi yang lebih mudah perbanyak aja makan sayuran hijau," jelas perawatnya.
Iska merasa sangat senang akhirnya bisa memeluk putrinya yang selama ini di nantikannya.
Ken kembali ke ruangan Iska. "Haiii cantiknya Daddy ...."
"Daddy?" Iska kaget.
"Tapi Pak itu tidak mungkin! jangan berikan harapan pada anak saya dengan menghadirkan sosok ayah tapi kalau nantinya akan pergi," jelas Iska.
"Makanya menikahlah denganku Iska! lagian aku tidak pernah ada niatan untuk meninggalkan kalian," tegas Ken.
Hana tiba-tiba datang. "Haiii my baby ...."
"Bu Hana ...."
"Ah Iska anakmu lucu sekali sih! sini aku ingin menggendongnya." Hana menggendong Ana.
"Hallo my baby cantiknya aunty ...." Hana merasa senang juga.
"Kalian sedang bicarakan apa? serius sekali sepertinya," tanya Hana.
"Ti-tidak bicarakan apa-apa Bu," gagap Iska.
"Aku memintanya untuk menikah denganku tapi Iska tidak mau Hana," jelas Ken.
"Tidak Bu. Tidak. Aku tidak akan menikah dengan Pak Ken. Bu Hana jangan salah paham aku tidak punya perasaan apapun pada Pak Ken," jelas Iska. Iska merasa khwatir kalau Hana akan membencinya.
__ADS_1
"Kamu bicara apa sih Iska aku tidak mengerti?" tanya Hana.
"Iya Iska apa maksudmu bicara seperti itu?" Ken juga bertanya.
"Emmmh kenapa Bu Hana tidak marah? dan kenapa Pak Ken juga berani bilang ingin menikahi saya di depan Bu Hana?" Iska merasa bingung.
"Coab jelaskan secara perlahan Iska. Apa maksudmu?" tanya Ken.
"Bukannya Pak Ken dan Bu Hana pacaran?" cetus Iska.
Hana dan Ken saling menatap dan seketika tawa pecah diantara mereka berdua.
"Hahaha ... hahaha ... jadi selama ini itu yang membuat kamu menjauhiku?" tanya Ken.
"Memangnya kenapa?" Iska bingung.
"Ya kita tidak ada hubungan apa-apa Iska. Mana ada kita pacaran!" jelas Hana.
"Tapi buku memories Bu Hana yang ada di rumah Bu Hana itu bagaimana? Bu Hana memberikan tanda love pada foto Pak Ken?" jelas Iska.
"Ya ampun Iska gara-gara itu. Itu hanya cinta monyet aja saat dulu masih SMA dan sekarang kita bersahabat baik," ujar Hana.
"Berarti sekarang semuanya sudah jelas ya Iska kalau kita tidak ada hubungan apa-apa. Kita bersahabat baik dan kita juga sering saling membantu dalam hal apapun," tegas Ken.
"Ah maafkan saya, berarti selama ini saya salah paham pada kalian. Saya hanya tidak ingin kalau Bu Hana sampai kecewa pada saya padahal Bu Hana begitu baik pada saya. Saya juga tidak ingin kalau masalalu terulang kembali, saat kata pelakor harus saya tanggung." Iska menghapus air matanya.
"Jangan menangis Iska. Harusnya kamu bahagia karena si cantik ini sudah lahir," ucap Hana. "Akan kamu berinama siapa?"
"Mariana Qinan Bu."
"Ah cantik sekali namamu sayang, pasti ayahmu akan menyesal." Hana keceplosan bicara.
"Bukannya ayahnya sudah meninggal?" heran Ken.
Hana dan Iska saling menantap siapa yang harus beralasan. Akhirnya Hana yang bicara meluruskan semuanya, "mmmh ya menyesal karena tidak mengakui sebelum meninggal dan keluarganya juga akan menyesal karena tidak menerima Iska gituh."
"Oh ... iya pasti mereka akan menyesal," ucap Ken. "Bagaimana sekarang apa masih tidak ingin menikah denganku?"
"Emmmh saya belum siap Pak. Maafkan saya! untuk sekarang saya akan fokus pada Ana." Iska menolak Ken.
Tidak semudah itu masalalu traumanya pada Janu luntur begitu saja. Apalagi Iska baru mengenal Ken hanya baru beberapa bulan saja walaupun baik dan sangat perhatian itu bukan jaminan. Seperti halnya Janu, Iska mengenalnya setahun lebih tapi masih saja bisa di bohongi. Trauma itu yang membuat Iska tidak ingin buru-buru menikah.
⬇️⬇️
__ADS_1