Asmara Sang Pelakor

Asmara Sang Pelakor
Hampir celaka


__ADS_3

Ken mendapati Ambar sedang menangisi Freya.


"Mama jangan nangis. Sana pergilah ke kamar Mama dan beristirahatlah!" suruh Ken.


"Mama sedih sekali. Apalagi Papa begitu marah dan tidak ingin peduli," isak Ambar.


"Istirahatlah! biar aku yang urus semuanya. Mama jangan khawatir." Ken memapah Ambar keluar dari kamar. Ken duduk di ujung kasur melihat Freya yang terlelap.


"Aku tidak bisa menjagamu! maaf. Aku percaya padamu dan mengizinkanmu melakukan apa yang kamu mau walaupun harus menentang Papa. Tapi, kamu malah merusak kepercayaanku sekarang," tatapnya pada Freya.


Ken merasa ngantuk dan berlalu pergi ke kamarnya untuk tidur. Ken melihat Iska yang tertidur lelap, "Selamat istirahat sayang. Muaaach ...." Ken mengecup kening Iska dan mengelus perutnya lalu berbaring di samping Iska kemudian tertidur.


Saat pagi tiba ....


Uweeek ... uweeek ... terdengar suara Iska muntah-muntah dari kamar mandi membuat Ken terbangun dan menghampiri Iska.


"Kamu baik-baik saja sayang?" Ken memijat leher bagian belakang Iska.


"Aku baik-baik saja. Ini biasa terjadi pada ibu hamil, kan? waktu hamil Ana juga begini," jawab Iska.


"Iya gak apa-apa ya. Kamu sabar. sebentar lagi pasti berlalu," ucap Ken. "Sayang ... kamu mau apa? jangan buat Mama muntah-muntah ya!" bisik Ken pada perut Iska.


"Apa bisa begitu Ken?"


"Kali aja janinnya denger Daddy-nya bicara." Ken tersenyum. "Tunggu ya aku bawakan minuman hangat untukmu!" Ken berlalu pergi.


Saat kembali, Ken membawa nampan dengan dua gelas minuman di atasnya. "Ambil satu, minumlah!"


"Kamu juga meminumnya?"


"Ah ini untuk Freya ...." Ken menceritakan apa yang terjadi pada Freya semalam.


"Ya ampun Freya ..." lirih Iska. "Biar aku saja yang antarkan minumannya."


"Apa kamu sudah merasa baik?"


"Sudah lebih baik sekarang. Lagi pula kamu akan pergi ke kantor, kan? sana siap-siaplah!" ucap Iska.


Iska membawa nampan itu dan masuk ke dalam kamar Freya. Dia masih belum bangun, masih tertidur lelap dengan selimut tebalnya.


"Freya ...." Dengan perlahan Iska membangunkannya.


Freya menggeliat membuka kelopak matanya dengan perlahan. "Apasih? ganggu aja!"


"Ini sudah pagi. Aku membawakan minuman hangat untukmu, biar badanmu lebih enakan." Iska menyodorkan segelas minuman.


"Hah kau mengganggu tidurku!" Freya memegang kepalanya dan bangkit dari tempat tidurnya.


"Bukannya kau akan pergi kalau pagi hari?"


"Sok tahu!" ketus Freya. Freya memegangi perutnya dan menutup mulutnya merasa mual dan berlari ke kamar mandi.


Uweeek ... uweeek ...


Iska kaget dan menyusul Freya ke kamar mandi. "Kamu kenapa Freya?" Iska memijat leher bagian belakang Freya.


"Lepaskan!" Freya mengibaskan tangan Iska. "Jangan banyak bicara. Sana pergilah!"


"Baiklah! aku keluar. Jangan lupa minuman hangatnya di minum biar badanmu lebih enakan." Iska berlalu pergi kembali ke kamarnya. Menyiapkan pakaian yang akan Ken pakai ke kantor.


"Freya sudah bangun?" tanya Ken yang baru keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


"Sudah!" jawab Iska. "Emmmh Freya muntah-muntah tadi sepertiku," ucap Iska sambil membantu mengancingkan kemeja Ken.


"Orang yang gak biasa mabuk emang begitu!"


"Oh! tau banget sepertinya ...."


"Aku pernah muda!" Ken mencubit pipi Iska. "Menggemaskan sekali!"


"Sakit Ken!"


"Istriku sangat menggemaskan soalnya. Muaaach ...."


"Ayo kita sarapan bersama!" ajak Iska.


Kabar kehamilan Iska sudah terdengar oleh Lia dan Janu. Membuat Lia semakin membenci Iska dan tidak terima itu semua.


Lia mengamuk dan melempar barang-barang yang ada di hadapannya saat membaca pesan dari Ambar.


"Aaargh ... kenapa malah Iska yang hamil? kenapa aku gak hamil-hamil?"


Vas bunga pecah, hiasan-hiasan di meja berantakan. Janu yang baru akan berangkat bekerja, mendengar keributan dan datang menghampiri Lia. "Kamu kenapa sayang?"


"Hiks ... hiks ..." Lia menangis. "Mama mengabariku kalau Iska hamil!"


"Lalu kenapa? apa masalahnya?" tanya Janu.


"Ya, ini masalah besar untukku. Pasti Papa akan lebih tidak menganggapku! pasti akan selalu meremehkan dan menyalahkanku. Aku cape Mas, selalu di pojokkan karena belum kunjung hamil."


"Sabar sayang ...."


"Apa? kamu malah bela wanita itu dan senang dia hamil?"


"Sayang! dengarkan aku. Anak itu adalah rezeki dari Tuhan, mungkin masih belum rezeki kita untuk punya anak." Janu mencoba menenangkan Lia.


"Lia ..." panggil Janu. "Jangan terlalu di pikirkan. Aku berangkat kerja dulu kalau begitu. Kamu baik-baik di rumah!" teriakan Janu tidak di hiraukannya.


"Mbak, nitip Lia ya. Takutnya kenapa-kenapa ...."


"Baik tuan." Angguknya.


Janu berlalu pergi ke kantor. Melajukan mobilnya, sebenarnya dari kemarin Janu masih terpikir tentang Ana. Masih menjadi pertanyaan besar siapakah Ana sebenarnya.


"Aku harus bertemu Iska dan menanyakan tentang kebenaran Ana!"


Saat siang hari, Lia datang ke kediaman keluarganya dengan wajahnya yang ketus.


"Hai sayang ... kamu kesini sendirian?" sambut Ambar.


Lia duduk di sofa tanpa menjawab Ambar.


"Kenapa?" Ambar heran.


"Mama tidak mengerti juga bagaimana perasaanku? mendengar Iska hamil membuat hatiku sangat sakit. Harusnya aku yang hamil, aku sudah dengan tulus mengurus Ana. Mana buktinya, omongan Mama tidak ada benarnya!" Lia marah.


"Maafkan Mama sayang, Mama gak maksud membuat hatimu sakit. Mama hanya ingin berbagi kebahagiaan saja dan siapa tahu kamu menyusul juga, kan?"


"Aku gak sudi bahagia buat perempuan itu!" ketus Lia.


"Sebenarnya ada apa sih denganmu? segitu bencinya pada Iska. Apa salahnya padamu?" tanya Ambar.


Lia tidak menjawab Ambar. Lia tidak ingin aib suaminya sendiri di ketahui oranglain dan malah membuat Hartanto semakin tidak menganggapnya.

__ADS_1


"Kamu tunggu disini ya sayang ... tadi Mama bikin kue, biar Mama ambilin dulu buat kamu!" Ambar berlalu pergi ke dapur.


Hah ... semua orang di rumah ini bahagia di atas kesedihanku! tidak pernah mengerti dengan perasaanku, batin Lia.


"Lihat saja nanti Iska, kau tidak bisa punya anak kalau aku juga tidak punya anak!" Lia melihat Iska baru keluar dari kamarnya. "Pasti dia akan turun. Aku harus lakukan sesuatu!"


Lia berlari ke dapur mengendap-ngendap mengambil minyak goreng tanpa sepengetahuan Ambar. Lalu menyiramkan minyak itu di tangga terakhir. Iska berjalan dengan pelan karena sambil menelpon. "Hah ... rasain!"


Lia bersembunyi di balik pintu ruang tv ingin menyaksikan Iska jatuh dan kehilangan janinnya. Di sisi lain ternyata Janu juga datang dengan niat ingin menemui Iska.


"Mas Janu ..." Lia kaget. Ingin menghampiri Janu, tetapi nanti bisa ketahuan Iska kalau keluar sekarang. Tinggal beberapa langkah lagi Iska akan menginjak minyak itu.


Janu melihat Iska menuruni tangga dan berniat menghampirinya. "Itu Iska ... aku harus bicara sekarang mumpung tidak ada Lia."


"Aaaaaa ... tolong!" Iska berteriak. hendak jatuh dan ponselnya terlempar. Janu melihatnya dan berlari kemudian menangkap Iska tepat di pelukannya.


"Iska hati-hati ..." ucap Janu.


Iska berpegangan erat pada pundak Janu dan mendongak kepada Janu. "Mas Janu ...." Dengan refleks Iska melepaskan pegangannya.


"Ya ampun Iska, kamu kenapa sayang?" tanya Ambar panik.


"Aku terpeleset Ma. Sepertinya itu licin," jawab Iska.


Ambar mengecek tangganya. "Ini minyak! kenapa bisa ada minyak disini?" Ambar begitu heran dan memanggil pelayan untuk membersihkannya.


"Minyak? untung saja aku tidak sampai jatuh!" ujar Iska kemudian mengambil ponselnya. "Yah ponselku mati!"


"Untung ada Janu. Makasih ya Janu udah nolongin Iska! Mama tidak tahu kalau tidak ada kamu, Iska akan bagaimana?" ucap Ambar.


"Ma-makasih Mas." Iska merasa memang harus berterima kasih.


Lia masih bersembunyi dan merasa kesal karena rencananya gagal. Malah di gagalkan suaminya sendiri. Dengan wajah tanpa dosa, Lia datang menghampiri mereka pura-pura merapikan bajunya.


"Ada apa ini rame-rame? mas Janu ngapain disini?" tanya Lia pura-pura tidak tahu.


"Iska hampir saja jatuh di tangga. Untung tidak apa-apa karena ada Janu," jawab Ambar.


"Saya tidak apa-apa mbak!" timpal Iska.


"Siapa juga yang ingin tahu keadaanmu? aku gak peduli," ketus Lia pada Iska dengan tatapannya yang tajam.


"Lia. Kita pulang sekarang!" Janu menarik tangan Lia dan menyeretnya. "Ma, aku permisi pulang!"


"Lepasin Mas. Ada apa buru-buru?"


Janu memasukkan Lia ke dalam mobil dengan kasar di susul oleh Janu. "Jujur padaku? kamu yang berusaha mencelakai Iska, kan?"


"Atas dasar apa kau menuduhku seperti itu Mas? berani-beraninya kau menuduhku seperti itu karena perempuan gatel kaya dia?" marah Lia.


"Stop Lia! jangan bicara seperti itu tentang Iska!"


"Oh jadi kamu masih cinta sama dia? belain dia segitunya! aku muak Mas. Muak! hentikan mobilnya. Kalau enggak aku loncat." Ancam Lia.


Janu menghentikan mobilnya dan Lia turun membanting pintu mobil Janu dengan sangat keras lalu mencegat taxi untuk pulang.


"Lia dengarkan aku ... Lia kamu salah paham!" teriak Janu. Lia tidak menghiraukan panggilan Janu kemudian Janu mengejar taxi yang Lia tumpangi.


Di sisi lain, Ken sudah pulang ke rumah dengan terburu-buru keluar dari mobilnya berlari ke dalam rumah.


"Iska ... apa yang terjadi denganmu? tadi kamu berteriak di telpon lalu ponselmu tidak bisa di hubungi lagi," Ken benar-benar merasa khawatir.

__ADS_1


Iska menjelaskan semuanya apa yang terjadi. Lalu Ken memeluk Iska dengan erat. "Syukurlah kamu dan bayi kita tidak apa-apa. Aku sangat khawatir, lain kali kamu harus hati-hati ya sayang."


⬇️⬇️


__ADS_2