
Hari demi hari Iska lewati, hari ini tepat 7 bulan kehamilan Iska. Iska merasa senang dan bersyukur karena selama ini kandungannya sehat dan Iska juga di beri kekuatan menjalani harinya bekerja setiap hari.
"Hari ini jadwal aku kontrol dan USG juga." Iska bersiap untuk ke dokter.
Ternyata Iska pergi bersama dengan Ken. Selama ini Ken menjadi lelaki yang siaga selalu menemani Iska setiap kali ke dokter dan bahkan sekarang Ken rutin antar jemput Iska ke kantor.
"Pak Ken sudah disini aja?" tanya Iska.
"Iya aku ingin melihat bayimu!" jawab Ken. "Ayo masuklah!"
Iska masuk ke dalam mobil Ken dan merekapun pergi ke dokter bersama. Mereka seperti sepasang suami isteri apalagi Ken yang begitu protektif pada Iska.
"Sudah sampai! hati-hati turunnya. Tunggu biar aku bantu." Ken berlari dan membukakan pintu mobil untuk Iska dan membantu Iska keluar.
"Makasih Pak." Iska berjalan masuk keruangan dokter tentunya dengan di gandeng oleh Ken.
Iska melakukan pemeriksaan dengan dokternya dan Iska merasa senang kalau kandungannya baik-baik saja. Iska melakukan USG juga, "Apa kalian ingin tahu jenis kelamin bayinya?"
"Mau tahu dok!" Ken antusias.
Iska sudah tidak heran melihat Ken seantusias itu karena seperti itulah Ken setiap kali mengantarkan cek ke dokter. Iska sendiri sudah tidak malu lagi perutnya di lihat oleh Ken saat pemeriksaan.
"Emmmh ternyata jenis kelaminnya perempuan. Selamat kalian akan punya putri," ucap dokter.
Ken meraih tangan Iska. "Ah kita akan punya anak perempuan."
Iska menatap Ken dan seakan minta pertanggungjawaban tentang apa yang di bicarakannya barusan.
"Ma-maaf dok aku terlalu senang." Ken melepaskan tangan Iska dan duduk kembali.
"Tidak masalah pak. Orangtua baru pasti akan selalu begitu," senyum dokter.
Iska turun dari ranjang dan duduk di samping Ken. Dokter menjelaskan juga hasil USGnya, setelah semuanya selesai mereka kembali pulang tanpa mampir kemana-mana dulu.
Di dalam mobil.
"Maaf soal tadi," ucap Ken.
"Tidak apa-apa Pak!" jawab Iska.
"Apa kamu keberatan kalau aku menganggap anakmu itu adalah anakku?" tanya Ken.
Ya ampun di saat ayahnya sendiri tidak peduli tapi ada orang lain yang mengharapkannya aku sangat sedih sekali. Batin Iska.
"Aku tidak keberatan Pak!" jawab Iska.
"Kamu serius?"
"Iya!"
"Ah makasih Iska. Kau tahu anak ini seperti energi baik untukku aku jadi semangat setiap ingat anakmu. Aku sunggu sangat menyayangi anakmu!" tegas Ken.
__ADS_1
Iska jangan pernah baper pada Ken karena Pak Ken hanya menyayangi anakku saja tidak dengan diriku sendiri. Batin Iska.
Mereka sudah sampai di rumah Iska. Mereka di kagetkan dengan datangnya Hana. Hana sudah ada di rumah dan menyambut Iska dan Ken.
"Bu Hana!" Iska kaget.
"Iskaaa ..." panggil Hana dan Hana memeluk Iska. Hana benar-benar menyayangi Iska seperti adiknya sendiri.
"Haiii Ken!" Hana juga memeluk Ken dan Ken juga terlihat begitu senang bertemu dengan Hana.
"Aku sangat merindukanmu Hana," ucap Ken.
Ya ampun apa pelakor tidak akan lepas dari diriku ini. Hampir saja aku melakukannya lagi dan kepada orang yang sangat baik padaku. Maafkan aku bu Hana aku baper pada Pak Ken tapi aku sadar kalau Pak Ken adalah milik Bu Hana dan kalian saling mencintai. Aku harus tahan diri dan jangan baper lagi. Batin Iska.
"Aku masuk duluan ya." Iska berjalan lebih dulu.
"Iska tunggu kita." Hana dan Ken juga masuk ke dalam rumah.
"Bu Hana mau makan apa biar aku masakin?" tanya Iska.
"Gak usah Iska nanti kamu kecapean," jawab Hana.
Ken beranjak dari duduknya dan menghampiri Iska dan melepaskan celemeknya. "Sana duduklah nanti kamu kecapean, biar aku yang masak untuk Hana. Aku akan memasak makanan kesukaan Hana sudah lama tidak pernah masakin."
"Ah aku kangen juga dengan masakanmu. Cepatlah buat aku sudah lapar," suruh Hana.
"Baiklah! apa tidak akan membantuku?" tanya Ken.
Mereka berdua memasak bersama dan Iska hanya duduk di kursi makan memperhatikan mereka.
Ya ampun kenapa hatiku tidak enak begini melihat mereka berdua dekat, sakit sekali rasanya. Jangan ada perasaan seperti ini dong aku tidak sanggup! Batin Iska.
"Pak, Bu. Aku ke kamar sebentar ya." Iska beranjak pergi.
"Hati-hati Iska!" ucap Hana.
Iska masuk ke dalam kamarnya dan berdiri di hadapan cermin dan berbicara dengan bayangannya sendiri.
"Kenapa nasibku selalu begini menyukai orang yang salah milik orang lain tepatnya. Apa sepantas itu sebutan pelakor untukku?" Iska hanya menatap wajahnya sendiri dengan nanar.
"Sepertinya akan lebih baik kalau aku menutup pintu hatiku untuk semua laki-laki dan fokus pada anakku. Ya itulah yang terbaik!" Iska menghapus airmatanya yang menetes di ujung matanya.
Iska keluar dari kamar dan bersikap biasa lagi tanpa memikirkan hal yang tidak-tidak.
"Bu Hana kenapa tidak bilang dulu kalau mau datang?" tanya Iska.
"Aku ingin buat kejutan untuk kalian. Ya benar kalian berdua terkejut, kan?" ucap Hana.
"Iya Bu Hana berhasil!" senyum Iska.
"Hana tidak pernah berubah dari dulu!" ungkap Ken. "Makanannya sudah selesai. Ayolah kita makan bersama!"
__ADS_1
Ken menyiapkan makanannya. "Ini punyamu tidak pakai brokoli dan aku ganti bayam sperti biasanya." Ken menyodorkan piring itu pada Iska.
"Makasih Pak!" ucap Iska.
"Ini untukmu Hana kesukaanmu. Makanlah! habiskan." Ken pun duduk ikut makan.
"Thank you Ken." Hana memakannya.
Mereka menikmati masakan yang Ken buat. Udah tampan jago masak juga pasti jadi idaman setiap perempuan.
"Emmmh masakanmu tidak pernah berubah selalu enak dan aku suka," puji Hana.
"Kamu bisa aja bikin aku happy di puji kayak gitu," senyum Ken.
"Sampai kapan Bu Hana akan di Surabaya?" tanya Iska.
"Paling 2 hari aja! lagian kesini juga sekalian ada kerjaan." Hana melanjutkan makannya.
"Emmmh iya."
"Eh waktu itu aku ketemu sama mbak Sarni dan bilang kalau Jan-- eh mbak Sarni merindukanmu," Hana hampir keceplosan tentang Janu.
"Oh iya Bu aku juga sangat merindukannya," jawab Iska.
"Siapa?" tanya Ken.
"Tetanggaku yang selalu baik padaku," jawab Iska.
Hana terlihat gugup karena hampir keceplosan.
"Ah ini sudah mau sore. Aku akan pulang dan kalian selamat melepas rindu." Ken beranjak dari duduknya.
"Terima kasih ya Pak sudah mengantar saya ke dokter," ucap Iska.
"Tidak masalah! bye my baby ..." ucap Ken.
Ya ampun pak Ken kenapa bilang gitu di depan bu Hana? tapi kenapa bu Hana biasa aja ya? Batin Iska.
"Bye Ken. Sampe ketemu lagi besok!" Hana melambaikan tangannya.
Ken pergi dan Hana berniat bermalam bersama Iska sebelum kembali lagi ke Jakarta.
"Soal tadi maaf aku hampir keceplosan menyebut nama Janu padahal aku sendiri yang bilang kalau suamimu meninggal," jelas Hana.
"Gak apa-apa bu. Emangnya kenapa dengan mas Janu?" tanya Iska.
"Iya Janu menanyakanmu dan mencarimu juga. Untung aku sudah bilang pada mbak Sarni sebelumnya untuk tidak memberitahukan Janu," jelas Hana.
"Ah terima kasih Bu." Iska memeluk Hana.
Terimakasih Bu selalu baik padaku. Tapi aku malah hampir jatih cinta pada orang yang Bu Hana cintai. Batin Iska.
__ADS_1
⬇️⬇️