Asmara Sang Pelakor

Asmara Sang Pelakor
Keputusan


__ADS_3

Keesokan harinya ....


Tio membawa serta keluarganya ke kediaman Hartanto sesuai yang di perintahkan. Hanya ibu dan adik perempuannya keluarga Tio saat ini, ayahnya sudah lama meninggal. Mereka berasal dari keluarga yang sangat sederhana, berpenampilan seadanya tertutup dan sopan.


"Ini rumah bosmu, kan?" tanya Murni-ibu Tio.


"Iya bu, aku akan menikahi anak bosku."


"Wah Kakak beruntung sekali bisa menikah dengan orang kaya seperti ini," Celetuk Tita-adik Tio.


"Suut jangan banyak bicara!" ujar Tio.


Mereka bertiga menunggu di ruang tamu. Hartanto dan Ambar datang lebih dulu menyapa keluarga Tio. "Selamat datang Bu di rumah kami." Ambar begitu ramah kepada calon besannya itu.


"Saya sudah membawa keluarga saya Tuan," ucap Tio.


"Iya, kami senang kalian bisa berkenan datang kemari. Silahkan di minum," Hartanto bersikap baik seolah-olah tidak ada masalah apa-apa.


Di sisi lain, Ken dan Iska masih berusaha membujuk Freya untuk turun bertemu dengan calon mertuanya.


"Ayolah Freya, kita ke bawah dan temui mereka. Tidak ada salahnya, toh Tio orangnyang sangat baik." Bujuk Ken.


"Aku tidak ingin menikah dengan Tio!"


"Lalu dengan siapa? dengan lelaki kurang ajar yang jelas-jelas kabur dan tidak mau bertanggung jawab!" Ken menaikan suaranya.


"Biarkan saja aku mati!"


"Freya, jangan berpikiran seperti itu terus. Ini demi kebaikanmu dan bayimu juga," Iska juga ikut membujuknya.


Dengan terpaksa Freya setuju dan menuruti kakaknya itu. Iska memakaikan pakaian bagus dan sedikit mendandaninya. Freya hanya diam dan pasrah menerima nasib buruknya itu sebagai hukuman atas kesalahannya.


Iska memapah Freya menuruni anak tangga dan di ikuti oleh Ken. Sudah ada keluarga Tio di ruang tamu.


"Wah calon istrimu cantik sekali," ujar Murni.


Tio hanya mengangguk dan melihat juga pada Freya yang menuruni tangga. Tidak ada senyuman sedikitpun darinya, Tio tidak heran tentang itu karena ini adalah sebuah keterpaksaan. Disini perannya hanyalah sebagai tameng keluarga Suardji dari hujatan orang sekitar.


Iska mendudukkan Freya dan ia duduk di samping Freya.


"Maaf lama menunggu ..." ucap Ken.


"Perkenalkan ini anak saya Freya calon istri Tio, dan ini anak laki-laki saya Ken dan Iska istrinya." Hartanto memperkenalkannya.


"Senang bertemu semuanya di kesempatan yang baik ini," ucap Murni dengan malu-malu.

__ADS_1


Murni duduk berpindah ke samping Freya. "Kamu cantik sekali Nak, Ibu senang akhrinya anak Ibu mau menikah setelah sekian lama Ibu membujuknya. Ibu ingin memberikan sesuatu padamu," Murni merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah kalung dengan liontin model zaman dulu. "Ini untukmu, ini pemberian mertua Ibu dulu."


Iska menggerakan tangan Freya agar mengambil kalung itu.


"Terima kasih," lirih Freya.


"Freya dan Tio sudah resmi bertunangan sekarang. Dan saya harap pernikahannya di percepat saja bagaimana?" tanya Hartanto.


"Saya ikut saja dengan keputusan bapak dan ibu," jawab Murni.


"Baiklah biar nanti saya kabari lewat Tio."


Tidak ada ekspresi bahagia dari Freya dan Tio. Membuat Tita merasa heran dan bertanya-tanya. "Kak, kenapa kakak ipar tidak tersenyum sama sekali seperti sedang sedih?" bisik Tita pada Tio.


"Jangan banyak bicara," pungkas Tio.


Ambar mengobrol bersama Murni, mencairkan suasana yang sangat tidak enak dan sangat menegangkan itu.


Tidak lama kemudian, Janu dan Lia datang. Tentu saja hal yang menegangkan itu akan menjadi sebuah masalah besar.


"Ah ternyata sudah berkumpul semua disini, maaf kami terlambat." Lia duduk dengan santainya di ikuti oleh Janu.


Raut wajah Hartanto semakin tidak enak di lihat, kedatangan Lia hanya akan menimbulkan masalah. "Perkenalkan ini putri pertama saya namanya Amalia dan suaminya Janu." Hartanto berusaha bersikap baik.


"Senang bertemu kalian," ucap Lia.


Semua orang pindah ke ruang makan dan makan bersama. Keluarga Tio merasa mimpi bisa menjadi besan dari keluarga terpandang dan kaya raya. Menyapu setiap sudut ruangan dengan antusias.


"Wah Kak, aku berasa mimpi ada di rumah sebesar ini. Ini seperti istana yang sering aku lihat di sinetron," kagum Tita.


"Jangan bicara terus!"


"Ih Kakak, emangnya kenapa sih?" keluh Tita.


"Sudah Nak. Turuti saja Kakakmu, jangan banyak bicara." Timpal Murni.


Mereka menikmati makanan yang terhidang di meja makan, memakannya dengan sangat lahap.


"Lihatlah calon mertuamu itu, kampungan sekali!" bisik Lia pada Freya dengan tertawa pelan. Ia hanya diam tidak bicara sama sekali dan tidak memakan makananya juga.


"Pasti kamu malu sekali, kan? hahaha ... seorang model cantik, mertuanya kampungan," celetuk Lia.


"Lia, hentikan! jangan bicara begitu pada Freya. Kalau tidak suka diam saja," bisik Janu yang merasa kesal pada Lia.


Freya tidak ingin Papanya itu lebih murka lagi dan memilih untuk diam.

__ADS_1


Setelah semuanya selesai, mereka kembali pulang. Tapi, tidak dengan Tio yang masih harus mengurusi pekerjaannya. Lia dan Janu juga masih ada disana.


"Harusnya kamu bersyukur, masih ada yang mau menikahimu walaupun terpaksa. Kalau tidak kau akan sangat mempermalukan keluarga ini," ketus Lia.


Freya berdiri beranjak dari duduknya. "Cukup ya Kak. Daritadi Kak Lia terus saja bicara memojokkanku seperti itu. Aku muak!" Freya berlalu pergi. Iska menyusulnya karena takut terjadi sesuatu yang tidak di inginkan.


"Sudahlah Kak. Jangan memojokkan Freya seperti itu. Mentalnya sedang tidak baik, dia selalu bicara ingin mati harusnya Kak Lia bisa mendampinginya. Bukan malah seperti itu!" timpal Ken.


"Hentikan! jangan bahas ini lagi. Semuanya sudah selesai, Freya dan Tio akan menikah satu minggu lagi." Pungkas Hartanto. "Lebih cepat lebih baik."


"Ayolah Mas kita pulang," ajaknya pada Janu.


"Duluan ke mobil. Aku ingin memberikan dulu hadiah pada Ana," ucap Janu.


"Jangan lama-lama!" Lia berlalu pergi terlebih dulu. Tanpa pamit pada orangtuanya.


"Semakin kurang ajar saja dia!" ujar Hartanto.


"Maafkan sikap Lia Pa."


"Papa harap kamu bisa lebih baik lagi dalam membimbing Lia." Hartanto berlalu pergi.


Janu meminta izin pada Ken untuk menemui Ana dan memberikan sebuah hadiah untuknya. "Apa boleh aku menemui Ana?"


"Ana ada di kamarnya bersama pengasuh. Masuk saja!" suruh Ken yang kemudian berlalu pergi menyusul Iska dan Freya.


Janu tidak sabar untuk menemui Ana. Membuka pintu kamarnya dan langsung berlari memeluk Ana. Perasaannya tenang dan damai saat berada di pelukan Ana. Sangat yakin kalau Ana adalah anak kandungnya.


"Paman Janu ..." Ana juga terlihat senang.


"Paman sangat merindukanmu," ucap Janu. "Ini paman punya hadiah untuk Ana."


"Makasih Paman baik. Ini apa isinya?" Ana mulai penasaran dan membuka hadiah itu dengan Antusias.


"Maaf Tuan, saya nitip Ana sebentar ingin mengambil makan siangnya," ucap pengasuh itu.


"Iya silahkan. Biar Ana sama saya main disini," ujar Ken.


Pengasuh Ana pergi dan Janu bermain bersama Ana membuka hadiahnya itu. Ternyata isinya pensil warna dengan warna yang sangat lengkap.


"Wah makasih Paman. Ana sangat suka sekali!"


"Ini paman juga punya jepit rambut. Paman Pakaikan ya ...." Janu memakaikan jepit rambut itu di kepala Ana.


Ternyata Janu punya niat lain, Janu mengambil sehelai rambut Ana dan memasukannya pada plastik kecil yang di keluarkan dari sakunya itu. Janu berniat melakukan tes DNA agar semuanya jelas dan tidak jadi pertanyaan yang selalu mengganggunya.

__ADS_1


Ini akan sangat akurat dan membantuku mengungkap siapa Ana sebenarnya, batin Janu.


⬇️⬇️


__ADS_2