Asmara Sang Pelakor

Asmara Sang Pelakor
4 tahun Ken harus menunggu


__ADS_3

Ken menarik nafas panjang dengan berat. "Baiklah Iska aku akan menunggumu sampai kamu siap. Tapi, tetap izinkan aku untuk dekat denganmu dan juga anakmu ya."


Iska hanya mengangguk tanpa bicara apa-apa.


Hana memegang pundak Ken menguatkan Ken. Kapan akan pulang?" tanya Hana pada Iska.


"Mungkin hari ini juga pulang. Tunggu keputusan dokter saja," jawab Iska.


"Sekarang sudah ada Hana disini, aku mau ke kantor dulu kalau mau pulang nanti kabarin aja biar aku jemput," jelas Ken.


"Oke sana pergilah. Biar aku yang menjaga Iska," kata Hana.


"Makasih ya Pak Ken sudah menemani saya," ucap Iska.


"Aku pergi. Bye ... anak cantiknya daddy." Ken berlalu pergi untuk ke kantor.


"Daddy ...." Hana hanya tertawa kecil.


"Bu Hana serius tidak punya perasaan pada pak Ken?" tanya Iska hati-hati.


"Engga Iska. Ya ampun itu udah hampir 10tahun yang lalu. Kita bersahabat ih!" jawab Hana. "Apa kamu punya perasaan pada Ken?"


"Tidak Bu. Aku akan pokus pada Ana dulu sekarang," jawab Iska.


"Iska kalau memang kamu suka sama Ken ya tidak apa-apa. Aku akan mendukungmu lagian Ken orang baik dan kamu juga orang baik," tegas Hana.


"Ya saya pikirkan nanti saja Bu. Mungkin kalau saatnya sudah tepat," ucap Iska.


"Baiklah Iska jangan di paksakan itu tidak baik," ucap Hana.


Hana dan Iska mengobrol tentang apa yang Iska alami saat akan melahirkan. Tidak lama kemudian Arga datang menjenguk Iska dan menemui Hana juga dengan membawakan hadiah untuk anak Iska.


"Hai hai ..." sapa Arga.


"Hai Arga kau sudah disini saja?" tanya Hana.


"Aku rindu padamu!" tatapnya pada Hana.


Iska hanya melihat mereka bicara tidak memahami apa yang terjadi di antara mereka.


"Iska ini untuk anakmu!" Arga menyodorkan bingkisannya entah apa isinya.


Iska menerimanya. "Terima kasih Pa Arga!"

__ADS_1


"Wah anakmu lucu sekali dan cantik." Arga melihat Ana. "Apa kalau kita nanti punya anak akan cantik juga? pasti akan cantik seperti dirimu!" tatapnya pada Hana.


Hana hanya tersenyum malu, "apasih?"


"Iska gimana kita cocok gak?" tanya Arga pada Iska.


"Maksud Pak Arga? jadi kalian bersama?" Iska masih merasa bingung.


"Belum! Hana menolakku terus." Bisik Arga.


Iska hanya menatap Hana dan tersenyum pada Hana.


"Aku hanya tidak ingin terburu-buru, kita baru saja kenal beberapa bulan. Kita berteman dan jalani semuanya sewajarnya!" tegas Hana.


"Ya aku paham!" angguk Arga.


Waktu menunjukan pukul 3 sore dan Iska serta bayinya sudah boleh pulang ke rumah. Hana menghubungi Ken dan Ken datang menjemput mereka untuk pulang ke rumah. Hana menggendong bayinya dan Ken yang memapah Iska. "Apa perlu aku gendong Iska?" Tanya Ken.


"Tidak perlu! aku sudah bisa berjalan." Iska terus berjalan.


"Baiklah biar aku bantu saja!" Ken memapah Iska.


Hana berjalan lebih dulu menuju kamar Iska. Hana juga sudah menyuruh mbak Mar untuk tinggal dan mengurusi Iska.


Ken yang melihat Iska kesulitan berjalan langsung menggendongnya berjalan menaiki tangga. Iska melingkarkan tanganya pada leher Ken. "Hati-hati Pak!"


"Tenang saja aku kuat. Apa kamu tidak merasakan otot-otot tanganku ini?" tanya Ken.


"Hmmm iya!" jawab Iska.


Sampai di kamar Iska, Ken dengan perlahan membaringkan Iska di kamar. "Terima kasih Pak!"


"Sama-sama."


"Kalian sweet sekali sih aku jadi iri," goda Hana.


"Apa sih Bu!" ucap Iska.


Ken hanya tersenyum pada Hana. "Aku ingin menggendong Ana dong."


Ken mengambil Ana dari ranjang bayinya. "Hai anak daddy yang cantik."


Hana duduk di kasurnya Iska. "Iska lihatlah betapa bahagianya Ken menggendong Ana. Dia seperti ayahnya sendiri, kamu harus pikirkan tentang Ana, Iska. Pertimbangkan lamaran Ken," tegas Hana.

__ADS_1


Iska hanya terdiam berusaha mencerna ucapan Hana.


"Sepertinya aku akan disini selama seminggu sambil ngurus pekerjaan juga sekalian ngurusin kamu sama Ana," ucap Hana.


"Baiklah Bu terima kasih sebelumnya. Bu Hana benar-benar membantu saya dalam segala hal dan selalu ada untuk saya. Saya selalu mendoakan Bu Hana mendapatkan jodoh yang terbaik dan menyayangi Bu Hana." Iska memeluk Hana.


Iska menikmati harinya sebagai seorang ibu baru. Serba tidak tahu dan serba tidak bisa apa-apa dalam hal mengurus anak hanya mengandalkan google dan bantuan dari mbak Mar. Tetapi di sisi lain Ken sangat perhatian dan siaga kepada Iska, ada di saat setiap kali Iska membutuhkannya.


6 bulan berlalu, cuti Iska sudah berakhir dan Iska harus kembali bekerja karena kalau tidak bekerja Iska tidak akan bisa menghidupi Ana. Selama Iska bekerja Ana di asuh oleh mbak Mar.


Ken sudah datang untuk menjemput Iska bekerja. "Ayo kita berangkat. Kamu sudah siap, kan?"


"Iya Pak." angguk Iska. "Bye ... anak cantik Mama. Baik-baik ya sama mbak Mar. Jangan rewel!" pamit Iska pada Ana.


"Bye cantiknya Daddy nanti Daddy beliin mainan untukmu," pamit Ken pada Ana.


"Mbak ASInya di kulkas ya. Lakukan seperti apa yang aku ajarkan ya." Iska pergi bersama Ken.


"Aku membayangkan kita menikah dan mengurus Ana bersama." Ken tersenyum pada Iska.


"Gak usah bahas itu sekarang Pak. Kasih saya waktu! kalau memang Pak Ken ingin segera menikah dan punya keluarga saya membebaskan Pak," jelas Iska.


"Ya sudah jangan di bahas kita pergi ke kantor saja," ajak Ken.


Begitu seterusnya sampai 4 tahun berlalu. Iska dan Ken semakin dekat dan Iska sudah mulai membuka hatinya untuk Ken.


Ana berlarian di halaman Rumah dan mbak Mar mengejar-ngejar Ana.


Iska dan Ken berbicara di kursi yang ada di halaman.


"Iska aku mohon untuk sekarang menikahlah denganku. Kita ke Jakarta dan menemui orangtuaku," bujuk Ken.


Iska menarik nafas panjang. "Hemmm sebenarnya aku merasa kamu memang lelaki terbaik. sabar menantiku, menyayangi Ana juga dan tidak ada kelelahan selama 4 tahun terakhir ini setia di sampingku. Mungkin ini sudah waktunya dan ini saat yang tepat untuk aku membuka hatiku untukmu," Iska tersenyum kepada Ken.


"Serius dengan apa yang kamu katakan itu?" tanya Ken.


Iska hanya mengangguk. Ken sangat bahagia dan memeluk Iska dengan erat. "Aku sangat menyayangimu Iska. Aku sangat senang akhirnya kamu ingin menikah denganku penantianku selama ini tidak sia-sia."


"Maafkan aku yang mengabaikanmu terlalu lama. Sampai aku berpikir kalau aku jahat padamu!" isak Iska.


"Sudahlah jangan menangis. Kita akan ke Jakarta secepatnya dan bertemu dengan keluargaku. Aku pikir mendingan kita pindah ke Jakarta untuk mengurusi usahaku yang baru. Bagaimana?" jelas Ken.


Jakarta? apa mungkin aku sanggup kembali ke kota itu dengan semua masalaluku yang kelam? batin Iska.

__ADS_1


⬇️⬇️


__ADS_2