Asmara Sang Pelakor

Asmara Sang Pelakor
Kecurigaan Janu


__ADS_3

Ken menjadi lebih protektif pada Iska. Melarangnya melakukan hal-hal berat dan memanjakannya lebih dari kehamilan sebelumnya.


"Ken aku tidak akan apa-apa. Aku baik-baik saja, akan bosan kalau kamu menyuruhku jangan melakukan apapun!" ucap Iska.


"Aku khawatir sayang ...."


"Jangan terlalu khawatir. Aku akan lebih hati-hati aku janji." Iska mengacungkan jari kelingkingnya.


"Okey ... tapi, jangan terlalu cape ya. Kalau merasa cape, beristirahatlah! sekarang aku akan kembali ke kantor." Ken mengecup kening Iska dan berlalu pergi.


"Hati-hati sayang ...."


Iska masih kepikiran soal minyak di tangga, kenapa bisa minyak dari dapur sampai ke tangga. "Siapa yang menaruh minyak di tangga? apa mbak Lia? dia sangat membenciku, kan? tapi, apa mungkin setega itu?" pertanyaan-pertanyaan muncul di kepala Iska.


Iska memilih untuk beristirahat berdiam di kamar.


***


Keadaan Freya masih lemas. Dia tidak pergi seperti biasanya hanya menghabiskan waktu seharian di rumah.


Tiba-tiba Tio menghampiri Freya yang sedang duduk di sofa ruang tv. "Non Freya sudah baikan?"


Freya menatap Tio dengan tidak suka. "Apa urusanmu?"


"Hanya bertanya saja!"


"Apa kamu tidak lihat kalau aku baik-baik saja. Kenapa juga kamu ingin tahu? siapa kamu?" ketus Freya beranjak dari duduknya hendak pergi. Saat berjalan, kaki Freya tidak sengaja menyenggol meja yang membuat Freya akan jatuh. Dengan sigap, Tio menahan tubuh Freya dan jatuh kepelukannya.


"Hati-hati Non ...."


Freya mendongak kepada Tio melihatnya dari dekat. Tio lumayan tampan dan badannya juga kekar. Freya melepaskan tangannya dan melangkah mundur. "Kamu sih berdiri disitu menghalangi jalanku jadinya aku hampir terjatuh. Sana minggir!" Freya berlalu pergi menaiki anak tangga menuju kamarnya.


Tio masih belum beranjak dari tempatnya berdiri memperhatikan Freya sampai tidak terlihat lagi.


"Sedang apa kamu disini?" tanya Ambar yang mengagetkan Tio.


"E-eh nyonya. Saya mau mengambil berkas di ruangan kerja Tuan," jawab Tio.


"Emmmh begitu."


"Saya permisi Nyonya. Lagipula harus kembali ke kantor." Tio berlalu pergi ke ruangan kerja Hartanto dan mengambil berkas, lalu kembali ke kantor.

__ADS_1


...----------------...


Di rumah Lia. Lia marah besar membanting semua barang yang di laluinya masuk ke dalam kamarnya.


Praaang ... praaang ... terdengar bising dari dalam kamar Lia. Mbak Sri panik dan langsung menghubungi Janu. Sri hanya mondar mandir di depan pintu kamar Lia karena khawatir kalau majikannya itu kenapa-kenapa.


Tidak lama akhirnya Janu datang, "Lia dimama Mbak?"


"Di dalam Tuan. Daritadi ngamuk dan membanting semua barang!" jelasnya.


Tok! tok! Janu mengetuk pintu kamarnya karena di kunci.


"Lia ... buka pintunya. Lia ...." Tidak ada jawaban dari Lia dan Janu mengambil kunci cadangan lalu membuka pintunya.


"Lia ..." Janu mendapati Lia menangis meringkuk di lantai. "Kamu kenapa sih? masih cemburu soal tadi?" Janu membangunkan Lia dan mendudukannya di ujung kasur.


"Aku tidak ingin kalah dari perempuan itu. Aku tidak ingin di kucilkan Papa, aku tidak ingin kamu selalu membela perempuan itu. Sakit hatiku Mas. Sakit! gak ada yang peduli dan mengerti perasaanku."


Janu menarik Lia ke dalam pelukannya.


"Maafkan aku sayang! aku bukan bermaksud membela Iska. Tapi, aku mohon padamu biarkan Iska bahagia bersama Ken dan jangan mengganggu mereka. Apalagi sampai kau tega ingin membuat Iska celaka dan kehilangan janinnya yang merupakan keponakanmu sendiri."


"plis sayang jangan begini terus! kamu harus sabar." Janu mencoba menenangkannya.


Lia terus saja menangis sampai akhirnya tertidur di pangkuan Janu.


Aku yakin sekarang kalau Ana adalah anakku. Aku sangat yakin ... Ana begitu mirip denganku dan Ana lahir di tahun yang sama saat kita berpisah. Aku sadar sekarang, mungkin Lia susah hamil karena aku punya dosa yang sangat besar pada Iska dan tidak tahu keberadaan Ana, batin janu.


Janu menidurkan Lia dengan perlahan. Kamarnya sangat berantakan.


"Mbak tolong beresin semuanya ya. Tapi, pelan-pelan jangan berisik biarkan Lia istirahat!" suruh Janu pada mbak Sri. "Saya mau pergi ada urusan."


"Baik Tuan." Angguk Sri.


Janu pergi melajukan mobilnya.


Aku harus menemui Iska dan bertanya tentang semuanya yang aku tidak tahu, batin Janu.


Janu menuju ke rumah Mertuanya dan berniat ingin bertemu dengan Iska. Saat sampai, Janu tidak kunjung keluar dari dalam mobil. Janu memikirkan, alasan apa agar bisa menemui Iska. Lama di dalam mobil Janu masih belum menemukan cara sampai akhirnya Janu melihat Iska keluar dari rumah bersama Ana.


"Itu Iska dan Ana ...." Janu keluar dari mobil dan mengikuti Iska yang menuju ke taman. Janu melihat sekitar untuk menghampiri Iska takutnya ada oranglain yang melihat.

__ADS_1


Iska menemani Ana bermain di taman. Sangat kaget saat melihat Janu mendekat menghampirinya. "Mas Janu!" seru Iska. "Ayo sayang kita main di dalam rumah aja. Disini cuacanya gak bagus!" Iska hendak berlalu pergi memegang tangan Ana.


"Iska tunggu ..." panggil Janu.


"Ada apa sih Mas? sana pergi nanti ada orang yang lihat!" suruh Iska.


"Paman baik ...." Ana berlari dan memeluk Janu.


"Haiii sayangnya Paman. Lagi main apa sih?"


"Ana lagi main boneka aja sama Mama," jawab Ana polos.


"Apa Paman boleh bicara dengan Mama?" pinta Janu.


"Sepertinya tidak perlu ada yang di bicarakan. Kemari Ana, kita masuk ke dalam!" Iska menarik tangan Ana. Janu menahan tangan Ana yang satunya lagi.


"Apa Ana anakku?"


Deg.


Sesuatu yang Iska takutkan selama ini, akhirnya terjadi juga. Janu mengetahui kalau Ana adalah anaknya. Jantungnya berdebar sangat kencang dengan bibirnya gemetar tidak sanggup mejawab pertanyaan dari Janu.


"Jawab Iska! aku ingin tahu semua kebenarannya."


Iska mengatur napasnya perlahan, menguatkan diri untuk bicara. "Bukan! Ana adalah anaknya Ken. Jadi pergilah jangan ganggu kami!"


"Iska tunggu ...."


"Apalagi Mas?" tanya Iska. "Ana duluan ya ... sana pergi masuk!" suruh Iska pada Ana.


"Iska aku lihat biodata Ana dan disana tertulis kalau Ana lahir bulan Agustus. Sedangkan kita berpisah pada bulan Februari, jangan-jangan kamu sedang hamil saat kita berpisah waktu itu?" tanya Janu.


Iska berpikir harus menjawab apa. Jawaban yang akan membuat Janu yakin kalau Ana bukanlah anaknya.


"Itu kesalahan dalam menulis. Tahun lahir Ana tertulis terlalu cepat satu tahun dan belum di perbaiki. Mas sudah mendapatkan jawabannya dan aku harap Mas jangan ganggu aku dan Ana lagi. Aku tidak ingin mbak Lia selalu salahpaham padaku!" Iska berlalu pergi meninggalkan Janu.


"Iska ... Iska ...." Panggilan Janu tidak menghentikan langkah Iska. Lalu Janu pergi meninggalkan rumah itu walaupun tidak mendapatkan jawaban yang pasti tentang Ana.


Iska terkulai lemas di lantai kamarnya. Sangat takut kalau sampai semua kebenarannya di ketahui banyak orang dan akan menimbulkan banyak masalah.


⬇️⬇️

__ADS_1


__ADS_2