
Dokter memberikan kertas hasil pemeriksaannya. Ternyata benar kalau Iska hamil.
"Selamat Pak. Istrinya sedang hamil sekarang, usianya baru enam minggu. Tolong di jaga jangan sampai terlalu cape," jelas Dokter.
Wajah Ken berbinar. "Akhirnya ... terima kasih ya dokter."
"Aku sangat senang Ken," ucap Iska merasa terharu.
"Pasti semua orang akan senang!" Ken memeluk Iska.
"Ini ada resep vitamin dan juga penambah darah untuk Ibu. Nanti bisa di ambil di depan!" suruh dokter. "Kedepannya harus cek rutin sebulan sekali untuk tahu perkebangan kehamilan Ibu."
"Terima kasih dokter. Kalau begitu kami permisi untuk pulang." Ken memapah Iska berjalan menuju mobilnya. "Awas hati-hati sayang. Apa perlu aku gendong sampai ke mobil?"
"Aku masih bisa berjalan Ken. Jangan terlalu khawatir!" jawab Iska.
"Wajarlah kalau aku khawatir. Aku sangat mengharapkan anak ini, biar nanti Ana ada temennya dan Papa sama Mama juga seneng." Ken membukakan pintu mobil untuk Iska dan melajukan mobilnya untuk pulang.
Di dalam mobil.
Ken tidak hentinya mengelus perut Iska yang masih rata itu.
"Fokuslah menyetir Ken."
"Iya. Ini juga Fokus!" jawab Ken tanpa melepaskan tangannya dari perut Iska.
Iska menggenggam tangan Ken. "Terima kasih ya, selalu siaga menjaga ku. Sampai kamu kembali meninggalkan kantor untuk membawaku ke rumah sakit."
"Kamu adalah istriku orang yang sangat aku cintai, mana mungkin aku bisa Fokus bekerja saat Mama menelpon mengabari kalau kamu pingsan. Jangan berterima kasih! ini kewajibanku sebagai suami. Apalagi sekarang ada buah cinta kita di perutmu, aku akan lebih siaga lagi." Ken mengecup tangan Iska.
Iska hanya tersenyum.
Terima kasih Tuhan. Memberikanku seseorang yang mencintaiku dengan tulus dan apa adanya, batin Iska.
Saat sampai di rumah, Ambar dan Ana sudah menunggu Iska karena sangat khawatir dengan keadaannya. Ken memapah Iska masuk ke rumah.
"Kamu kenapa sayang? apa kata dokter?" tanya Ambar panik.
"Mama kenapa?" tanya Ana juga.
"Sebentar. Biarkan Iska duduk dulu." Ken mendudukan Iska di sofa ruang tamu.
"Iska kenapa? jelaskan Ken." Ambar tidak sabar.
"Mama akan dapat cucu lagi ..." jawab Ken.
Ambar sumbringah. "Wah akhirnya kalian di percaya lagi untuk punya anak. Mama senang sekali dengernya."
"Iya Ma. Baru enam minggu," tutur Iska.
"Ana sebentar lagi akan jadi Kakak. Seneng gak mau punya adek bayi?" tanya Ken pada Ana. Karena walaupun akan punya anak kandung, Ken harus tetap menyayangi Ana.
"Asiiik ... nanti Ana punya temen main. Ana mau bayinya cewek ya Ma." Pinta Ana.
"Sayang, anak Mama yang cantik ... mau cewek atau cowok kamu harus tetep sayang ya," ucap Iska.
"Iya pasti Ma." Angguk Ana.
__ADS_1
Iska senang melihat orang-orang yang di cintainya begitu bahagia dengan kabar kehamilannya.
"Dimana Kak Lia? apa sudah pulang?" tanya Ken.
"Mereka sudah pulang. Katanya ada urusan mendadak," jawab Ambar.
"Kalau begitu aku bawa Iska ke kamar ya. Soalnya Iska harus banyak istirahat." Ken memapah Iska untuk ke kamar.
Saat makan malam tiba, Ambar sengaja belum memberitahu Hartanto tentang kehamilan Iska. Karena ingin melihat reaksinya secara langsung.
"Ada kabar gembira Pa," ucap Ken.
"Apa Ken?" jawab Hartanto mendengarkan dengan seksama.
"Iska hamil Pa."
"Akhirnya ... Papa bisa mendengar tangis bayi di rumah ini. Semoga anaknya laki-laki ya, seperti yang Papa harapkan!" cetus Hartanto.
"Mau laki-laki atau perempuan, yang penting janin dan ibunya sehat sampai nanti waktunya melahirkan!" jelas Ken.
"Ya, Papa harap laki-laki!"
Hartanto sangat berharap banyak kalau anak mereka adalah laki-laki. Karena sebagai penerus keluarga nantinya.
Semua orang sudah menyelesaikan makannya dan berlalu pergi ke kamar mereka masing-masing. Hartanto berlalu keruangan kerjanya karena ada pekerjaan yang harus di selesaikan.
Waktu menunjukan pukul sepuluh malam. Di kamar Ambar, "Kemana Freya jam segini belum pulang juga. Sudah beberapa hari selalu pulang larut malam?" tanya Hartanto.
"Freya bilang katanya lagi banyak pemotretan!"
"Sampai malam begini? Papa punya dua anak perempuan tapi tidak pernah nurut sama Papa. Keras kepala dua-duanya."
Saat mereka akan tidur, pintu utama di gedor-gedor. karena kamar Hartanto dan Ambar di lantai satu, makanya sangat terdengar jelas.
"Siapa itu Ma?"
Mereka berlalu untuk melihatnya. Pintu sudah di buka oleh pelayan. Ternyata itu adalah Tio yang datang dengan menggendong Freya.
"Maaf Tuan, saya menemukan Non Freya mabuk di sebuah club." Tio menidurkan Freya di sofa.
"Apa?" kaget Hartanto.
"Ya ampun sayang. Kenapa kamu jadi seperti ini, sejak kapan mabuk-mabukan?" Ambar mengecek keadaan Freya.
"Jelaskan apa yang terjadi?" pinta Hartanto.
Jadi begini Tuan ....
Flasback:
"Ngapain juga si Roy ngajakin ketemuan di club?" gumam Tio yang sedang menunggu Roy temannya. Di sebuah club ternama di tengah kota. Suara bising dan lampu redup sudah jadi trend sebuah club.
"Hei bro sorry lama!" sapa Roy.
"Gak apa-apa!" Tio meneguk minuman soda di gelasnya. "Ada apa mengajakku bertemu di tempat seperti ini?"
"Sebenarnya gue pengen bayar utang sama lo."
__ADS_1
"Kenapa gak transfer aja?"
"Gue minjemnya langsung. Masa balikinnya transfer, kan gue gak enak. Thanks ya udah minjemin gue duit, turun yu! kita joget-joget happy, banyak cewek cantik disana." Ajak Roy.
"Aku cape mau pulang. Aku ambil ya uangnya!" Tio berlalu pergi.
"Ah lu gak asik bro!" teriak Roy.
Tio berlalu pergi tanpa menghiraukan temannya itu lagi. Saat akan masuk ke dalan mobilnya, Tio melihat seorang gadis yang di papah seorang pria dengan sempoyongan. Tio tidak ingin menghiraukannya. Tetapi, Tio seperti mengenali gadis itu kemudian menghampirinya.
"Non Freya ...."
"Minggir lu. Jangan halangin jalan gue!" ucap pria itu.
"Aahhh ayo pergiii! ..." lirih Freya dengan kesadarannya yang sudah hilang.
"Non Freya kamu mabuk?" tanya Tio.
"Siapa sih lo? sana pergi. Gue pacarnya Freya, minggir! gue mau ke hotel sama pacar gue!" Pria itu juga setengah sadar.
Tio mendorong pria itu kemudian memukulinya sampai tidak sadarkan diri. Kemudian membawa Freya ke mobilnya lalu diantarkan pulang.
"Sejak kapan kamu begini Freya?" gumam Tio.
Sesampainya di rumah Freya, Tio menggendong Freya karena kesadarannya sudah benar-benar hilang.
Flasback off.
Hartanto menggebrak meja beranjak dari duduknya. "Kurang ajar! pasti lelaki itu yang bawa pengaruh buruk pada Freya."
"Sabar Pa!" Ambar hanya menangis.
"Lihat kelakuan anakmu? mabuk-mabukan seperti itu. aku sudah sering melarangnya untuk tidak masuk dunia hiburan, dia ngotot tetap ingin jadi model. Jadinya apa sekarang? dunia itu bawa pengaruh buruk bagi Freya!" Hartanto begitu marah.
"Sudah Pa. Jangan bahas itu sekarang!" ucap Ambar.
"Hah Papa pusing!" Hartanto berlalu pergi ke kamarnya.
"Tio bantu Tante angkat Freya ke kamarnya," pinta Ambar.
"Baik Nyonya!" angguk Tio.
Tio menggendong Freya menaiki anak tangga untuk memindahkannya ke kamar diikuti oleh Ambar. Dengan perlahan Tio menidurkan Freya.
"Kalau begitu saya pulang dulu Nyonya," pamit Tio.
"Makasih ya Tio. Tante tidak tahu kalau tidak ada kamu Freya akan bagaimana," ucap Ambar.
"Jangan berterima kasih! sudah kewajiban saya menjaga keluarga ini. Saya permisi nyonya!" Tio pergi untuk pulang.
Karena mendengar ribut-ribut, Ken keluar dari kamarnya yang berada tepat di samping kamar Freya.
"Kamu disini Tio?" tanya Ken menutup pintunya dengan perlahan karena Iska sudah tertidur. "Ada apa kesini malam-malam?"
Tio menceritakan semuanya pada Ken apa yang sebenarnya terjadi. Ken memukul dinding di belakangnya merasa kesal dan juga kecewa karena tidak bisa jadi kakak yang baik untuk menjaga Freya.
"Baiklah. Terima kasih Tio sudah membawa Freya pulang. Sekarang kamu boleh pergi," ucap Ken.
__ADS_1
"Baik Tuan. Saya permisi." Tio berlalu pulang dan Ken menghampiri Ambar di kamar Freya.
⬇️⬇️