Asmara Sang Pelakor

Asmara Sang Pelakor
Respon keluarga Suardji


__ADS_3

"Biarkan aku masuk dulu!" pinta Ken.


Iska mundur dan menjauh dari pintu tanda kalau mengizinkan Ken masuk.


Ken meraih tangan Iska dan mendudukannya. "Iska, kita bisa menikah. Papa mengizinkan kita menikah! aku tahu kamu tidak ingin menikah denganku bukan hanya karena mas Janu saja. Tapi, karena Papaku juga, kan?."


"Tapi, apa Papamu tahu tentang mas Janu?" tanya Iska lirih.


"Tidak! Papa tidak mengetahuinya dan tidak akan pernah tahu," tegas Ken.


"Tapi bagaimana mungkin Papamu bisa menerimaku apalagi Ana?" tanya Iska heran.


"Kamu tahu kalau Papa sangat ingin cucu. Kak Lia belum punya anak sampai sekarang makanya aku mengakui kalau Ana adalah darah dagingku anakku!" jelas Ken.


"Kamu sama saja menipu Papamu sendiri Ken!" Iska melepaskan tangannya dari genggaman tangan Ken.


"Ini yang terbaik Iska. Kita saling mencintai dan kita juga harus memperjuangkan cinta kita ini!" jelas Ken.


"Bagaimana kalau Papamu tahu? soalnya pak Tio sudah tahu kalau Janu adalah ayah Ana!" tegas Iska.


"Tio?"


"Iya!"


"Bagaimana bisa?"


"Selama ini pak Tio yang di suruh Papamu menyelidikiku. Pak Tio tahu semuanya karena dia yang bilang sendiri padaku!" jelas Iska.


Ken terlihat berpikir. "Tapi, kenapa Tio tidak memberitahukannya pada Papa?"


"Aku juga tidak tahu kenapa. Tapi, lambat laun pasti Pak Tio akan memberitahukan semuanya atau mungkin Papamu akan tahu dengan sendirinya!" Iska beranjak dari duduknya.


"Iska itu semua tidak akan terjadi ..." bujuk Ken.


"Ken, aku disini tidak hanya memikirkan diriku saja. Ada Ana! sekarang aku hanya memikirkan Ana. Aku takut kalau yang aku lakukan akan malah berimbas pada Ana," ucap Iska.


"Tidak akan terjadi Iska tidak! percayalah padaku, aku mohon." Ken menyatukan kedua telapak tangannya membujuk Iska.


Iska menggenggam tangan Ken. "Jangan begini Ken. Aku tidak sanggup sebenarnya harus selalu menyakitimu. Tapi--"


"Kamu mengkhawatirkan sesuatu yang belum terjadi Iska. Semuanya bisa kita tangani! dan kita hanya harus menutup mulut Tio saja!" Ken meyakinkan. "Sekarang bersiaplah. Papa mengajakmu dan Ana untuk makan malam bersama. Papa ingin bertemu dengan cucunya!"


Iska sedikit berpikir dan membuang napasnya dengan berat. "Baiklah!"


Ken memeluk Iska. "Terima kasih Iska. Aku sangat senang!"


Aku tidak bisa terus-terusan menyakiti Ken yang sudah baik selama ini padaku dan Ana. Aku yakin Ken tidak akan membiarkan aku dan Ana dalam masalah ke depannya, Batin Iska.

__ADS_1


Iska bersiap-siap untuk pergi dan menyiapkan Ana juga mendandaninya dengan memakaikan baju berwarna pink sangat lucu sekali.


"Anak Daddy cantik banget sih ...."


"Siapa dulu Daddy-nya," senyum Ana.


"Ini Daddy-nya. Tampan dan menawan!"


Iska senang melihat Ken yang begitu menyayangi Ana walaupun bukan Anak kandungnya sendiri. Mereka pergi menuju rumah keluarga Ken. Sepanjang perjalanan Ken bernyanyi-nyanyi bersama Ana menikmati perjalanan yang lumayan jauh.


Sesampainya di rumah Ken. Ana begitu senang tetapi tidak dengan Iska dengan perasaan was-wasnya.


"Asiiik aku akan ketemu Oma," sumbringah Ana.


"Ana senang?" tanya Ken.


"Aku senang sekali Daddy. Akhirnya Ana punya Oma seperti kak Jihan juga punya mbok," ucap Ana polos.


"Lihatlah Iska. Ana begitu senangnya akan punya Oma, apa kamu tega menghapus senyuman di wajah Ana itu?" tanya Ken.


"Baiklah! Tapi, aku minta padamu supaya Pak Tio tidak bicara apapun apalagi pada mas Janu dan kak Lia." Pinta Iska.


"Iya. Jangan khawatir!" angguk Ken. Ken menggenggam tangan Iska dan Ana berjalan memasuki kediaman keluarga Ken.


Hartanto dan Ambar sudah menunggu kedatangan mereka. Ambar berdiri beranjak dari duduknya memeluk Iska dan terisak menangis. "Maafkan anak Mama ya Iska. Pasti kamu sangat sedih karena Ken tidak ingin menikahimu saat itu."


Sementara itu, Hartanto menatap pada Ana. Cucu yang selama ini di nantikan akhirnya ada di hadapannya. "Cucu Opa ...." Hartanto merentangkan tangannya agar Ana masuk ke dalam pelukannya.


Ana tersenyum dan berjalan ke arah Hartanto. "Opa ...."


"Hahhh maafkan Opa karena tidak bisa melihat perkembanganmu sampai akhirnya kamu menjadi secantik dan selucu ini," ucap Hartanto.


"Opa menangis? cengeng sekali Opa ... kata Mama kita gak boleh cengeng apalagi Opa sudah tua." Semua orang tertawa mendengar ucapan polos Ana.


"Kalian segeralah menikah. Biar Ana mendapatkan hak-haknya sebagai anak dan cucu yang selama ini tidak dia dapatkan," ujar Ambar.


Iska hanya menatap Ken dan merasa bersalah karena membohongi orangtua Ken apalagi mereka terlihat sangat bahagia dengan kehadiran Ana.


Ken, ini orangtuamu. Bagaimana bisa kamu melakukan ini? membohongi mereka dan akupun terlibat. Aku tidak menyangka kalau mereka akan senang menerima Ana, Batin Iska.


"Secepatnya Ma! mungkin kami hanya akan menikah sederhana saja," jelas Ken.


"Tidak! kami akan membuat pesta mewah untuk kalian. Apalagi kamu anak lelaki Papa satu-satunya. Jangan di pikirkan, biar Papa yang urus semuanya," jelas Hartanto.


"Baiklah kalau itu mau Papa, aku ikut saja!" ucpa Ken.


Freya turun dari kamarnya dan penasaran dengan keributan di ruang keluarga. "Siapa sih? kayanya banyak orang."

__ADS_1


"Freya kemarilah bergabung bersama kami disini!" ajak Ambar.


"Ada acara apa ini?" tanya Freya heran.


"Kita makan malam bersama saja menyambut kedatangan cucu," ucap Ambar.


"Cucu? kak Lia hamil?" tanya Freya.


"Bukan sayang." Ambar menghampiri Freya. "Kenalin. Ini Ana keponakanmu!"


"Keponakan? bukannya dia Anaknya calon Isteri Kak Ken? berarti dia bukan keponakanku!" elak Freya.


"Dia keponakanmu Freya, cucu Papa sama Mama!" ujar Hartanto.


"Maksudnya? aku tidak mengerti!" seru Freya.


"Ini anakku Freya. Anak kandungku! Iska sebenarnya bukan janda. Iska belum pernah menikah!" jelas Ken pada Freya.


"Jadi maksudnya kalian tidak menikah tapi mempunyai Anak?" cetus Freya.


"Iya! dulu, aku belum siap untuk menikahi Iska!" jawab Ken.


"Hah sudah ku duga! perempuan macam apa? tidak bisa jaga diri. Apa jangan-jangan kamu genit sama Kak Ken? apalagi Kak Ken kaya, kan? murahan!" ucapan Freya penuh hinaan.


Iska tidak menjawabnya.


Apa sehina itu diriku ini? memang benar aku tidak bisa jaga diri. Tapi, perkataan Freya begitu menyakitkan hatiku, batin Iska.


"Sudahlah Freya jangan di perpanjang lagi. Ini semua sudah terjadi dan Ken sudah sadar akan kesalahannya," ucap Hartanto.


"Papa bela perempuan ini daripada Freya? apa Papa sadar kalau ini semua akan mencoreng nama baik keluarga kita?" ucap Freya lantang.


"Sudahlah Freya. Kamu harus menerima semuanya, suka atau tidak suka!" pungkas Ken.


Iska tidak bicara samasekali hanya diam merenungi semua dosa-dosanya di masalalu.


"Memalukan!" Freya kembali pergi ke kamarnya.


"Freya makan malam dulu sayang ...." panggil Ambar. Freya tidak menghiraukan panggilan Mamanya itu. "Ya sudahlah kita makan saja dulu sekarang. Semuanya makanannya sudah siap!"


Semua orang pindah ke ruang makan dan makan bersama. Semua orang senang pada Ana apalagi Papa dan Mama Ken yang berebut menyuapi Ana.


"Lihatlah betapa senangnya mereka. Senyuman mereka begitu manis," ucap Ken. "Jangan kamu pikirkan ucapan Freya tadi. Dia orangnya suka begitu ngomong ceplas ceplos tapi aku yakin nanti kalian bisa dekat."


Iska hanya mengangguk dan melanjutkan makannya.


Tapi, ucapan Freya masih terngiang di pikiranku ini Ken. Bagaimana mungkin aku bisa dekat dengan Freya? sepertinya itu adalah sesuatu yang sulit. Hati Iska.

__ADS_1


⬇️⬇️


__ADS_2