Asmara Sang Pelakor

Asmara Sang Pelakor
Tidak ada kesempatan


__ADS_3

Saat pulang kantor Ken langsung berlalu ke rumah Iska untuk bicara dengannya. Ken terlambat, karena Iska pergi naik taxi online bersama Ana.


"Iska mau kemana?" gumam Ken. Ken turun dan menanyakannya pada Sarni yang sedang berada di teras. "Maaf Mbak. Iska dan Ana mau pergi kemana?" tanya Ken.


"Oh mereka mau ke supermarket katanya," jawab Sarni.


"Terima kasih ya Mbak. Kalau gitu saya pergi dulu!" Ken kembali masuk ke dalam mobilnya dan berlalu pergi mengikuti Iska.


...----------------...


Di dalam taxi online ....


"Ana seneng pergi sama Mama jalan-jalan seperti ini?" tanya Iska.


"Seneng banget Ma! nanti Ana ingin beli coklat yang banyak ya," pinta Ana manja.


"Oke sayang. Tapi, nanti Ana harus sering gosok gigi ya kalau beli coklatnya banyak," ujar Iska.


"Ana selalu rajin gosok gigi Mama," jawab Ana.


Semangat hidupku adalah Ana. Sekarang aku hidup untuk Ana, aku tidak ingin masalaluku akan merenggut kebahagiaanku. Maafkan Mama sayang Mama malah menutupi siapa ayahmu sebenarnya. Maaf Mama egois Mama tidak ingin kamu terluka dan medapatkan hinaan dari mbak Lia. Batin Iska.


Mereka sampai di supermarket itu dan mulai berbelanja apa yang mereka butuhkan. Dengan tidak sengaja Iska bertemu dengan Janu yang sedang mengambil sesuatu dari rak minuman.


Mas Janu! dia tidak boleh melihatku dan Ana. Batin Iska.


Tapi, terlambat! Janu melihat Iska dan menghampirinya dan Iska tidak bisa pergi lagi.


"Iska ..." panggil Janu. Janu menghampiri Iska.


"Ada apa?" tanya Iska ketus.


"Aku mau minta maaf soal sikap dan perkataan Lia waktu itu," ucap Janu.


"Tidak ada yang perlu di maafkan!" Iska berlalu pergi.


"Mama siapa paman ini?" tanya Ana polos.


Iska menarik napas dengan berat khawatir bagaimana kalau Janu menyadari kalau Ana adalah anaknya. Kalau di telaah lebih teliti Ana sangat mirip dengan Janu apalagi mata da bibirnya yang begitu sama.


"Mama? kamu sudah punya anak?" tanya Janu heran.


"Iya!"


"Berarti kamu sempat menikah setelah kita berpisah? karena sekarang kamu akan menikah dengan Ken pasti kamu tidak punya suami, kan?" tanya Janu yang makin penasaran.


"Bukan urusanmu Mas! aku pikir kamu jangan pernah bicara ataupun dekat denganku lagi. Aku tidak ingin isterimu itu menghancurkan hidupku lagi!" tegas Iska.


"Apa jangan-jangan ini anak kita?" tebak Janu. Sepertinya Janu menyadari itu semua karena sedari tadi Janu memperhatikan Ana.


Tiba-tiba Ken datang, "dia anakku!"

__ADS_1


"Anakmu Ken?" tanya Janu heran.


"Memangnya kenapa? dia Ana adalah anakku darah dagingku!" tegas Ken.


"Tapi, kalian belum menikah!" ujar Janu.


"Apa yang salah? kita saling mencintai ..." ucap Ken yakin.


"Hah ternyata ... kalian kumpul kebo selama ini di Surabaya? menjijikan! bagaimana kalau Papa dan oranglain tahu? memalukan!" ketus Janu. "Dan kamu Iska, aku tidak menyangka!"


"Siapa yang menjijikan siapa yang memalukan? tukang selingkuh sepertimu tidak berhak bicara seperti itu!" Ken merasa marah.


"A-apa kamu tahu semuanya?" gagap Janu.


"Apa yang aku tidak tahu? aku tahu semuanya. Kak Lia memang bodoh mencintai lelaki sepertimu!" ucap Ken.


Mereka bertiga sudah menjadi tontonan orang-orang yang berbelanja disana. "Ken sudahlah! orang-orang memperhatikan kita."


"Aku akan bilang semuanya pada Papa kelakuan kalian!" ancam Janu.


"Silahkan! aku gak akan rugi. Begitupun sebaliknya aku akan bilang juga pada Papa kalau kamu hanyalah lelaki brengsek. Dan aku pastikan Papa mencabut saham di perusahaanmu!" ancam Ken balik.


Janu terlihat khawatir dan mencoba tenang. "Baiklah kita lupakan semuanya sampai disini jangan di bahas lagi!"


Janu berlalu pergi meninggalkan mereka dan orang-orang yang berkerumun menonton.


"Maaf semuanya saya buat keributan dan membuat kalian tidak nyaman!" Ken menggandeng Iska dan pergi.


"Mama, Ana ingin makan!" pinta Ana.


"Oh sayangnya Daddy kelaperan ya?" tanya Ken. "Ya udah kita makan dulu ya sebelum pulang."


Mereka makan bersama di restoran cepat saji yang ada di supermarket tersebut.


Iska memberanikan bicara pada Ken. "Terima kasih Ken. Sudah tidak memberitahu Janu tentang Ana."


"Aku mencintaimu, aku tidak ingin melihat orang yang aku cintai menderita karena masalalu. Aku juga sangat mencintai Ana, aku tidak ingin Ana menjadi korban," ucap Ken.


"Maaf aku tidak bisa membalas semua kebaikanmu selama ini," ujar Iska.


"Iska, aku mohon padamu beri aku kesempatan satu kali lagi. Kita hadapi semuanya sama-sama. Aku akan melindungi kalian dan tidak akan membiarkan mas Janu mendekat pada kalian. Kalau perlu kita kembali ke Surabaya dan hidup tenang disana," bujuk Ken.


"Ini terlalu berat dan rumit untukku Ken. Aku tidak sanggup sebenarnya kalau nanti kita menikah dan akan lebih sering bertemu dengan mas Janu atau mbak Lia. Apalagi kalau mereka tahu siapa Ana sebenarnya," jelas Iska.


"Ada aku Iska. Percayalah padaku!" bujuk Ken.


Masalahnya bukan hanya itu saja Ken. Tapi, Papamu juga adalah masalahnya. Dia tidak ingin kalau kita menikah. Apa harus aku bicarakan hal ini pada Ken? tidak! ini hanya akan memperumit keadaan. Batin Iska.


Di sisi lain Iska merasa senang melihat Ana nyaman bersama Ken. Benar-benar menjadi sosok ayah yang di idamkan setiap anak.


"Biar aku antar kalian pulang." Ken membantu membawakan belanjaan Iska.

__ADS_1


"Baiklah!" Iska setuju.


Di dalam mobil ....


Hening.


Keputusan apa yang harus aku ambil sebenarnya? aku tidak ingin jadi duri diantara Ken dan Papanya. Sepertinya keputusanku tidak jadi menikah dengan Ken adalah yang terbaik, batin Iska.


Ken menghentikan mobilnya karena sudah sampai.


"Sudah sampai!" Suara Ken menyadarkan Iska dari lamunannya.


"Ah iya." Iska turun dari mobil dan merapikan barang belanjaannya.


"Ana tertidur! Biar aku menggendongnya." Ken menggendong Ana dan menidurkannya di kamar.


Iska menyimpan barang belanjaannya.


"Pulanglah! ini sudah malam," suruh Iska.


Ken meraih tangan Iska. "Bagaimana keputusanmu? kamu ingin beri aku kesempatan, kan?"


Dengan perlahan Iska melepaskan tangan Ken. "Hemmm sepertinya kita memang tidak bisa bersama Ken. Ini terlalu sulit untukku, aku mohon kamu mengerti."


"Tapi, Iska ...."


"Nanti tutup pintunya kalau keluar," Iska berbalik dan masuk ke dalam kamarnya.


Ken memeluk Iska dari belakang sehingga menghentikan langkah Iska. "Iska aku mohon padamu beri aku kesempatan lagi. Aku janji padamu aku akan selalu melindungimu apalagi dari mas Janu."


Iska hanya terdiam dan tidak memperdulikan apa yang Ken bicarakan. Tidak terasa Air mata Iska menetes tepat pada tangan Ken. Ken memutar badan Iska, "kamu menangis?"


"Ken aku mohon padamu. Tinggalkan aku dan jauhi aku, kita tidak bisa bersama. Sesuatu yang di paksakan tidak akan baik Ken!" jelas Iska sambil menghapus air matanya itu.


Ken menatap Iska begitu dalam dan menariknya kedalam pelukannya. Ken memeluk Iska begitu erat.


Iska mendongak kepada Ken. "Ken ini keputusan yang terbaik!"


Ken hanya menatap mata bulat Iska dan dengan tiba-tiba ken mencium bibir Iska. Iska kaget, ini ciuman pertama mereka. Iska tidak melepaskannya anggap saja sebagai tanda perpisahan dengan Ken dan membiarkan Ken menikmatinya.


Dengan perlahan Ken melepaskan ciumannya.


"Pergilah!" Iska membuat Ken keluar dari rumahnya.


Bugh! Iska menutup pintu dan menguncinya.


"Iska ... Iska ... please beri aku kesempatan! Iska ...." Ken menggedor-gedor pintu rumah Iska.


Iska hanya menangis terkulai lemas di lantai.


"Maafkan aku Ken ... maaf ...."

__ADS_1


⬇️⬇️


__ADS_2