
Ken berdiri di hadapan Janu dan Iska terhalang oleh gagahnya tubuh Ken. "Mas gak usah ganggu Iska lagi!"
"Aku tidak mengganggunya Ken. Hanya berbicara sedikit, lagipula kita saling kenal, kan?" ucap Janu.
"Itu dulu! sekarang Iska adalah calon isteriku. Aku tidak ingin lihat lagi kalau Mas mengganggu Iska," tegas Ken.
"Okey! aku tidak akan pernah bicara lagi dengan Iska. Tadi aku hanya minta maaf saja pada Iska soal 5 tahun lalu," jelas Janu.
"Bagus!" Ken meraih tangan Iska menggenggamnya dan berlalu pergi.
Janu mengepalkan jari-jarinya menatap kepergian Iska dan Ken. Tidak di pungkiri, Iska yang tetap cantik walaupun sudah punya anak. membuat perasaan lama yang Janu coba hilangkan kembali dengan sendirinya apalagi sekarang lebih sering bertemu Iska.
"Ayo kita pulang Mas," seru Lia yang tiba-tiba datang menyadarkan Janu dari lamunannya.
"Ah iya ayo kita pulang," gagap Janu.
"Sedang melihat siapa sih?" tanya Lia.
"Tidak!" Janu membukakan pintu mobil untuk Lia.
Janu melajukan mobilnya berlalu pulang. Sepanjang perjalanan pulang itu, Lia tidak bicara hanya cemberut sepertinya banyak yang Lia pikirkan.
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Janu pada Lia.
"Aku memikirkan soal anak!" lirih Lia.
"Sudahlah jangan di pikirkan. Mungkin Tuhan belum memberikannya pada kita agar kita lebih sering pacaran berdua," rayu Janu.
"Kita ke dokter lagi yuk?" ajak Lia.
"Sudah berapa puluh kali kita ke dokter. Kata dokter kita berdua sehat tinggal tunggu Tuhan kasih aja," jawab Janu.
"Apa kita lakukan bayi tabung saja?" saran Lia.
"Sabar saja sayang!"
"Sampai kapan aku bisa sabar lagi Mas? apalagi sekarang ada anaknya si pelakor itu. Apa kamu tidak lihat bagaimana sikap Papa?" tanya Lia.
"Ya biarkan saja. Itu anaknya Ken, ya wajar saja kalau Papa menyayanginya!" ucap Janu.
"Sekarang aku merasa terpojokkan. Sindiran Papa Mama membuat hatiku sakit karena belum memberikan keturunan di keluarga. Sekarang ada anaknya Ken malah menjadi-jadi," keluh Lia.
Waktu delapan tahun lumayan lama bagi sebuah pernikahan. Bahkan teman-temannya sudah memiliki anak satu atau dua. Apalagi Hartanto begitu mengharapkan seorang cucu.
...----------------...
Ken mengantarkan Iska pulang ke rumahnya. Membelikan Ana mainan dan membelikan kebutuhan pokok juga untuk keluarga mbak Sarni.
"Daddy ..." panggil Ana berteriak.
Ken berlutut di lantai dan merentangkan tangannya agar Ana masuk ke dalam pelukannya. "Haiii cantiknya Daddy ... kemarilah!"
Mereka berpelukan, mereka saling menyayangi juga layaknya ayah dan anak kandung. Iska merasa terharu melihat itu karena dua orang yang di cintainya tersenyum begitu bahagia. Akan sangat berdosa kalau sampai pernikahannya harus batal apalagi hanya karena lelaki seperti Janu.
__ADS_1
"Ini Daddy bawakan mainan untuk Ana." Ken menyodorkan sekantong penuh mainan.
"Daddy ini terlalu banyak. Aku kasih kak Jihan sebagian ya," ucap Ana polos.
"Iya boleh sayang!" angguk Ken.
Ana berlari pergi kembali ke rumah Sarni untuk memberikan mainan pada Jihan.
"Didikanmu luar biasa ya. Ana sudah ingin berbagi sejak kecil, aku salut padamu!" ucap Ken yang tersenyum pada Iska.
"Kamu berlebihan Ken. Masuklah!" Iska masuk lebih dulu di ikuti oleh Ken.
Ken duduk di sofa menunggu Iska mengambilkan minum.
"Ini minumlah!" Iska juga duduk.
Emmmh sebenarnya aku tidak nyaman kalau harus bertemu dengan mas Janu terus," ucap Iska.
"Apa kamu masih punya perasaan sama mas Janu?" tanya Ken.
"Bu-bukan begitu maksudku. Hanya saja tidak nyaman apalagi seperti tadi malah mengajak ngobrol, bagaimana kalau mbak Lia lihat?" jelas Iska.
"Tenang saja. Nanti setelah menikah kita tinggal di apartement punyaku saja," jawab Ken.
"Apa orangtuamu tidak apa-apa?" tanya Iska.
"Tidak! selama ini aku tinggal di Surabaya dan jarang pulang juga," jawab Ken.
Iska hanya mengangguk mendengar ucapan Ken itu.
Gluk ... gluk ... gluk ....
"Kamu haus? sampai menghabiskan satu gelas sekali teguk," tanya Iska.
"Iya sepertinya cuaca terlalu panas hari ini." Ken membuka jasnya.
Iska beranjak dari duduknya mengambil gelas minum Ken. "Biar aku ambilkan lagi ya."
Dengan refleks Ken menarik tangan Iska dan membuat Iska jatuh kepangkuan Ken. "Tidak usah!"
Mereka begitu dekat, mata mereka saling bertemu bertatapan seakan saling bicara. Ken melingkarkan tangannya pada pinggang Iska menariknya lebih dalam ke dalam pelukannya. Wajah mereka lebih dekat sekarang, Ken mendaratkan bibirnya pada bibir Iska. Mereka menikmatinya sekarang, Iska lebih santai dan merespon ciuman dari Ken. Itu semua terhenti saat mendengar teriakan Ana yang hendak masuk ke dalam rumah.
"Daddy ... Daddy ...." Ana berlari memanggil Ken.
Iska dan Ken terkejut dan melepaskan ciumannya, Iska beranjak dari pangkuan Ken dan sedikit menjauh.
"Jangan lari-lari sayang ..." ucap Iska.
"Daddy sama Mama lagi ngapain sih?" tanya Ana polos.
"Emmmh Daddy sama Mama lagi ngobrol aja," jawab Ken senyum.
"Daddy gerah ya? ini kancing bajunya di buka?" tanya Ana.
__ADS_1
Ken memengang dada bidangnya itu dan teringat kalau tangan Iska bermain disana tadi.
"Ahhh iya Daddy gerah banget," ucap Iska dan mengambil gelas minum Ken. "Ini makanya Mama mau ambil minum lagi untuk Daddy ...." Iska berlalu pergi ke dapur.
"Disini emang gerah Daddy, karena gak ada AC di ruangan ini hanya ada di kamar saja. Tidak seperti di rumah Opa enak dingin," ucapan Ana dengan nadanya khas anak kecil yang manja.
"Iya sebentar lagi Ana tidak akan kegerahan lagi. Nanti kita tinggal di gedung yang tinggi disana ada AC-nya juga banyak," jelas Ken.
"Yang bener Daddy? Ana tidak sabar ...."
"Anak Daddy emang paling pinteeeer!" Ken memeluk Ana.
"Siapa dulu Daddy-nya ..." Ana mengelus pipi Ken.
Tidak lama kemudian Iska datang dengan minuman di tangannya. "Ini minumannya dateng!"
Ken meraih gelasnya dan minum. Iska dan Ken terlihat salah tingkah merasa malu satu sama lain.
"Mama aku mau rapihkan mainanku di kamar ya ...." Ana berlari pergi.
"Jangan lari sayang!" ucap Iska.
Ken merapihkan baju dan memakai kembali jasnya, beranjak dari duduknya karena akan pulang. "Aku pulang dulu yah. Besok aku jemput jangan naik ojol ke kantornya."
"Baiklah. Emmmh kamu hati-hati ya di jalan," pesan Iska.
"Ah sepertinya Ana sedang asik bermain. Bilangin ya aku pulang dulu. Bye ...." Ken berlalu pergi.
Iska tidak beranjak dari berdirinya dan memperhatikan mobil Ken sampai tidak terlihat lagi dan tersungging senyuman di bibir Iska. "Ken. Aku harap kamu memang pelengkap kebahagiaan yang Allah kasih untukku dan Ana."
Iska berbalik dan hendak menutup pintunya tapi seseorang menahannya. "Mas Janu? ngapain kesini?" Iska keluar dari rumah dan menutup pintunya dengan rapat agar Janu tidak bertemu Ana.
"Aku masih tidak tenang kalau kamu belum memaafkanku," ucap Janu.
"Okey. Aku maafkan, sana pergilah!" ucap Iska dan hendak masuk ke dalam rumah tapi tangan Janu menahan Iska.
"Apalagi? bukankah hanya kata maaf yang mas inginkan? sana pergilah!"
"Emmmh tapi aku ingin kita bisa bersikap biasa saja. Maksudku kamu jangan menghindar atau menjauhiku," pinta Janu.
"Siapa kamu? beraninya mengatur-ngaturku. Terserah itu hakku bersikap seperti itu padamu!"
"Nanti Papa mertua curiga. Apa kamu mau kalau Papa sampai tahu kalau kita dulu punya hubungan?" ancam Janu.
Iska hanya terdiam menatap Janu dengan marah. Tapi, ucapan Janu ada benarnya juga sehingga mengganggu pikiran Iska.
"Sana pergilah! apa perlu aku teriaki maling?" ancam Iska.
Janu melihat sekeliling dan khawatir Iska akan melakukan ancamannya itu. "Okey aku akan pergi! tapi, pikirkan lagi kata-kataku tadi!"
Janu berlalu pergi dan Iska masuk ke dalam rumahnya membanting pintu dengan sangat keras. Iska menyender pada pintu menatap langit-langit rumahnya.
Kenapa mas Janu malah datang kemari dan berbicara seperti itu? sekarang hatiku benar-benar tidak tenang. Batin Iska.
__ADS_1
Iska sangat mengkhawatirkan semuanya. Sesuatu yang di sembunyikan pasti suatu saat akan terungkap juga, hanya tinggal menunggu waktu yang tepat untuk terungkap.
⬇️⬇️