Asmara Sang Pelakor

Asmara Sang Pelakor
Malam pertama


__ADS_3

"Maafkan aku Papa. Gosip tentangku membuat namamu menjadi tercoreng. Tapi, perlu Papa tahu kalau yang semua orang bicarakan itu tidaklah benar. Dulu aku hanya terjebak lelaki yang kurang ajar, mengaku bujang ternyata sudah menikah. Dimana letak kesalahanku Papa? toh aku juga pergi meninggalkanya. Pelakor adalah orang yang merebut suami orang lain walaupun tahu sudah menikah. Aku tidak begitu! hanya kesalahan telah mengenal lelaki kurang ajar seperti itu." Penjelasan Iska harusnya di mengerti semua orang kalau Iska hanyalah korban.


Sindiran Iska membuat raut wajah Lia muram. Sedangkan Janu hanya terdiam dan memalingkan wajahnya.


"Ya, penjelasanmu Papa terima. Itu masuk akal! memang banyak lelaki seperti itu. Tidak setia dan mencoreng harga diri kaum lelaki," ucap Hartanto.


Ken menggeratkan genggamannya pada tangan Iska dan menatap Iska kemudian tersenyum. Iska juga merasa lega karena bisa melewatinya dengan mudah tidak seperti yang di bayangkan sebelumnya.


"Papa kenapa sih malah memaafkannya begitu saja? apa tidak dengar tadi orang-orang begitu menghina keluarga kita?" timpal Lia.


"Sudahlah Lia!" bisik Janu.


"Papa bisa menghandle semuanya itu!" jawab Hartanto.


Lia semakin menekuk wajahnya benar-benar merasa kesal dengan kemenangan yang Iska dapatkan.


"Sekarang kalian beristirahatlah. Papa dan yang lainnya akan pulang lebih dulu," ucap Hartanto.


"Baiklah Pa!" angguk Ken.


"Tapi, Ana ..." ucap Iska.


"Kamu jangan khawatir. Ana biar sama Mama aja ya! kalian bersenang-senanglah," ucap Ambar. "Ana mau tidur sama Oma dan Opa, kan?"


"Mauuu ... Ana mau Oma," jawab Ana polos.


"Ana jangan nakal ya, sama Oma dan Opa!" pesan Iska.


"Mama jangan khawatir. Ana anak baik tidak akan nakal," senyum Ana. Iska dan Ken memeluk Ana.


Hartanto dan Ambar pergi lebih dulu bersama Ana juga.


"Kalian tidak akan pergi?" tanya Ken.


Lia berdiri beranjak dari duduknya menarik tangan Janu. "Aku mau pergi. Ngapain juga disini?"


"Baguslah!" ucap Ken. "Eh iya Kak tolong jaga suaminya supaya gak ganggu atau deketin isteriku!"


"Heh yang ada tuh, kamu jagain isterimu ini jangan genit dan gatel sama suami orang!" timpal Lia. "Ayo mas kita pergi." Lia menarik tangan Janu dan berlalu pergi meninggalkan Ken dan Iska.


"Hari ini sangat melelahkan! tadinya aku sangat takut tidak bisa melewati masalah ini," keluh Iska.


"Jangan di pikirkan lagi. Semuanya sudah selesai! sekarang kita nikmati malam pertama kita," ucap Ken nakal.

__ADS_1


"Apasih?" senyum Iska. Ken menggendong Iska dan membawanya ke kamar pengantin yang sudah di sediakan pihak hotel.


"Ken turunkan aku! nanti ada yang lihat malu ih!" pinta Iska.


"Tidak ada orang lain disini." Ken terus berjalan.


Kamar pengantin terbuka. Suasana romantis yang terasa saat memasuki kamar, dengan lampu-lampu yang redup lilin-lilin di setiap sudut dan bunga-bunga yang bertaburan di lantai. Apalagi dengan ranjangnya yang bertabur kelopak mawar merah juga. Ken menidurkan Iska di tempat tidur penuh bunga.


"Ken ... aku mau mandi gerah!" ucap Iska.


"Ah kamu merusak suasana romantis ini." Ken menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur.


"Harus bersih-bersih dulu sebelum tidur. Masa tidur mau pakai gaun?" tanya Iska.


"Apa mau mandi bareng?" goda Ken.


"Tidaaakkk ...." Iska berlari masuk ke dalam kamar mandi dan Ken hanya tersenyum.


Ken juga bersiap untuk mandi dan membuka pakaiannya karena merasa badannya lengket tidak enak. Tidak lama Iska keluar dari kamar mandi dengan handuk kimononya karena lupa membawa baju gantinya ke kamar mandi.


"Haaahhh ...." Iska berteriak kaget dan menutup wajahnya dengan kedua tangan.


Ken mendekati Iska dan meraih tangan Iska dari wajah. "Sekarang aku suamimu!"


"Mau tetap berdiri disana? aku mau masuk ke kamar mandi," ucap Ken.


"E-eh maaf ...." Iska berjalan ke samping pintu dan merasa salah tingkah. "Sana mandilah!"


Iska membuang napas dengan lega kemudian membuka kopernya untuk memakai baju. "Ini baju siapa? kemana bajuku?" Iska mengeluarkan setiap baju dari kopernya dan hanya ada lingerie dengan berbagai warna.


"Apa aku harus memakai lingerie ini? Ah aku yakin ini perbuatan Ken." Iska melihat ke sekeliling dan tidak mendapati ada koper lain selain koper itu. "Kemana semua koper-koperku?"


Ken menyelesaikan mandinya dengan cepat dan melihat Iska masih dengan handuknya. "Apa yang kamu cari? cepatlah pakai bajumu nanti masuk angin."


"Akan lebih masuk angin kalau aku memakai lingerie ini." Iska menunjukan lingerie warna merah pada Ken.


"Iya itu bagus. Pakailah itu, nanti malam pasti akan sangat panas!" senyum Ken.


"Iiih serius. Kemana semua bajuku?" tanya Iska.


"Sudah di rumahku semuanya!" jawab Ken datar.


Dengan terpaksa Iska harus memakai lingerie itu. Masuk ke dalam kamar mandi dan memakainya. Tidak lama Iska keluar lagi dengan perasaan malu karena bajunya begitu seksi dan menerawang. Ken sudah di atas tempat tidur dan tersenyum melihat Iska.

__ADS_1


Dengan perlahan Iska naik ke tempat tidur, menarik selimutnya sampai ke leher berbaring menatap langit-langit dan mengabaikan Ken yang sedari tadi terus menatapnya.


"Jangan menatapku seperti itu! aku merasa tidak enak," ucap Iska.


Ken bergeser dan semakin lebih dekat dengan Iska. "Kita sudah sah sekarang!"


Mata mereka saling bertemu bertatapan seakan saling berbicara. Ken menarik selimut yang Iska pegang itu sehingga terlihat tubuh Iska dengan lingerie merahnya. Tangan Ken sudah mulai bergerak membelai dari rambut sampai ke seluruh bagian tubuh Iska, tidak ada yang terlewat. Iska tidak melepaskan pandangannya dari Ken seperti tersihir dengan ketampanan dan kegagahan Ken.


Suasana romantis sepertinya akan membuat malam mereka menjadi panjang. Beradu di bawah selimut menyatukan cinta mereka berdua.


Keesokan harinya ....


Cahaya sudah masuk ke dalam kamar mereka. Tapi, masih tidak ada pergerakan dari dua insan itu. Masih berbalut selimut dan tertidur dengan saling berpelukan.


Ken terbangun dari tidurnya karena suara alarm yang berbunyi. "Hmmm sudah terang!" Ken merasakan berat pada lengannya dan melihat kalau Iska tertidur di lengannya yang kekar itu. "Ah aku sampai lupa kalau sekarang sudah menikah!" tatapnya pada Iska.


Ken hanya menatap Iska dan menunggunya sampai terbangun dengan senyuman di bibirnya.


Tidak lama kemudian Iska juga terbangun membuka matanya dan mendapati Ken di hadapannya.


"Selamat pagi isteriku sayang ..." sapa Ken lembut.


Iska tersenyum. "Pagi ...."


"Tidurmu nyenyak?" tanya Ken.


"Sangat nyenyak!" Iska bangun. "Ah maaf aku tidur di lenganmu. Apa kamu sudah bangun dari tadi?"


Ken hanya mengangguk.


"Kenapa tidak membangunkanku?" tanya Iska.


"Sepertinya kamu sangat kelelahan. Makanya aku membiarkanmu tidur lebih lama," jawab Ken. "Jangan beranjak dulu. Aku masih ingin di kasur bersamamu!" Ken memeluk Iska dari belakang.


"Bukannya kita harus pulang Ken?"


"Nanti saja pulangnya sore dan langsung ke tempat makan malam. Aku ingin seharian ini kita menghabiskan waktu disini bersama di atas kasur," ucap Ken.


"Tapi Ken, ini sudah terang!"


Ken malah mengeratkan pelukannya dan menarik Iska kembali tidur dalam pelukannya. Iska terjatuh di atas tubuh Ken dengan keadaan tubuh tanpa sehelai kain. Ken memulai aksinya lagi, di pagi hari lebih bersemangat dan bergairah.


(Author tidak pandai merangkai kata saat adegan ranjang. Mohon di maafkan ... biar kalian berimajinasi sendiri ... 🤭🤭😁)

__ADS_1


⬇️⬇️


__ADS_2