Asmara Sang Pelakor

Asmara Sang Pelakor
Lahirnya Baby Ana


__ADS_3

Semakin lama perutnya semakin tidak enak. Iska memutuskan untuk pergi kerumah sakit dan membawa barang yang sebelumnya sudah Iska siapkan.


"Apa aku harus hubungi pak Ken untuk mengantarku ke rumah sakit? tidak! jangan! aku bisa sendiri aku tidak ingin merepotkan orang lain. Bu Hana juga tidak akan aku beritahu sekarang karena pasti bu Hana akan menghubungi pak Ken. Aku akan memesan taxi online saja!" Iska memesan taxi online dan menunggunya di ruang tamu.


Tiiit ... Tiiit ... suara klakson mobil, sepertinya taxi yang Iska pesan sudah datang. Iska berlalu keluar rumah dengan menahan rasa sakitnya kemudian mengunci pintu. Supir taxi yang melihatnya langsung turun dan membantu Iska membawakan barangnya.


"Ya ampun Mbak kemana suaminya?" tanyanya.


"Lagi di luar kota Pak!" jawab Iska berbohong.


"Baiklah biar saya bantu bawa barangnya ke taxi," Bapak supir itu membawakan barang Iska dan membantu Iska masuk ke dalam mobilnya.


"Terima kasih Pak!" ucap Iska. "Ke rumah sakit Cempaka Pak!"


"Baiklah Mbak! apa tidak ada sodara atau orangtua?" tanyanya.


"Tidak Pak. Semuanya di Jakarta," jawab Iska.


"Bertahan ya Mbak sebentar lagi sampai kok!" sepertinya Pak supir panik melihat kondisi Iska yang akan melahirkan.


Iska menahan rasa sakitnya yang luar biasa. Sesampainya di rumah sakit Pak supir langsung memanggil perawat karena Iska sudah benar-benar akan melahirkan.


Iska memberikan ongkosnya. "Terima kasih Pak sudah mengantarkan saya."


"Semoga lancar dan sehat ya Mbak!" ucapnya.


Iska langsung mendapatkan penanganan dan dokter yang sering Iska datangi yang menanganinya. "Kemana suami ibu?" tanya Dokter Yuni.


"Emmh lagi di luar kota dok," jawab Iska bohong.


"Oh baiklah tidak apa-apa biar saya cek ya." Dokter mengecek semuanya. "Detak jantung bayinya bagus, dan udah pembukaan 8 juga. Ibu rileks ya jangan banyak pikiran macem-macem harus setenang mungkin."


Nak ibumu ini siap menyambut kehadiranmu. Semoga kita berdua selamat dan sehat. Batin Iska.


"Dokter ... aku sudah tidak tahan lagi," teriak Iska.


"Ayo bu, tarik nafas ... buang ... terus lakukan seperti itu bu." Suruh dokter.


Iska menuruti apa yang dokter katakan. "Aaahhh ...."


"Ya terus begitu Bu bagus. Ayo sedikit lagi Bu!" ucap Dokter.

__ADS_1


Dengan sekuat tenaga Iska mencengkram pegangan pada ranjang dan tidak bisa menahan tangisnya. "Aaahhh ...." teriakan Iska berbarengan dengan tangisan bayi.


"Selamat Bu, bayinya lahir dengan selamat. Bayinya perempuan, biar saya periksa dulu ya." Dokter membersihkan bayinya dan mengecek semua keadaannya.


Iska tidak bisa menahan air matanya dan terus menangis. Tangisan kebahagiaan dan kesedihan juga. Karena merasa benar-benar sendirian tidak ada yang menemani seorangpun.


Mama ... aku juga sekarang jadi seorang ibu. Nak selamat datang di dunia ini ibu akan selalu menyayangimu dan juga menjagamu sepenuh hati ibu. Batin Iska menangis.


Perawat memberikan bayinya pada Iska dan menempelkannya di dada Iska. "Ini bayinya Bu."


"Ah anak ibu yang cantik selamat datang di dunia sayang," Iska hanya bisa menangis dan seketika bayipun berhenti menangis saat berada dalam dekapan ibunya.


"Ibu kasih nama kamu Mariana Qinan. Baby Ana!" senyum Iska.


Perawat mengambil kembali bayinya untuk di pindah keruangan bayi. Dokter juga sudah selesai membersihkan Iska.


"Terima kasih dok!" ucap Iska.


"Ini sudah kewajiban saya Bu. Selamat ya," ucap Dokter. "Biar nanti saya suruh seorang perawat untuk menemani ibu disini ya. Saya permisi dulu!" Dokter pun pergi.


Iska meraih ponselnya yang terletak di meja samping ranjang bekas tadi mengambil foto bayi.


[Bu saya sudah lahiran. Maaf baru ngasih tahu karena ini mendadak padahal perkiraan lahirnya juga seminggu lagi. Sekarang saya di rumah sakit Cempaka, saya dan bayi saya selamat dan sehat.] Isi pesan Iska untuk Hana.


Tidak lama kemudian perawat datang. "Saya temani disini ya Bu, kalau ada apa-apa atau mau apa-apa bilang saja pada saya."


"Makasih ya Suster. Maaf jadi merepotkan karena keluarga saya tidak ada," ucap Iska.


"Tidak apa-apa Bu. Sudah tugas saya juga kok," senyum perawat itu.


Iska merasa lelah dan tertidur, ponselnya berbunyi pun tidak Iska angkat. Pukul 12 tengah malam Ken datang mencari Iska di rumah sakit. Sampai akhirnya menemukan Iska di ruangannya.


"Iska ...." Ken langsung memeluk Iska dan menangis. Iska pun terbangun. "Pak Ken!"


"Kenapa kamu tidak menghubungiku? apa kau sendirian ke rumah sakit? kamu pasti kesakitan sekali?" ucap Ken terbata-bata.


"Maaf Pak! saya tidak ingin merepotkan Pak Ken," lirih Iska yang juga menangis.


Ken melepaskan pelukannya dan menatap Iska. "Bagaimana mungkin Iska. Kamu tidak merepotkanku, aku akan dengan senang hati mengantarmu ke rumah sakit, menemanimu merasakan sakit tapi kamu melewati itu sendirian." Ken menggenggam tangan Iska.


Iska hanya menangis dan tidak bisa membalas tatapan Ken.

__ADS_1


"Dimana anaknya?" tanya Ken.


"Di ruangan bayi. Tanya saja pada perawatnya," jawab Iska.


"Aku akan melihatnya. Akan aku adzani juga." Ken berlalu keruangan bayi bersama perawat yang menjaga Iska.


"Di saat ayahmu sendiri tidak menginginkanmu tapi disini ada orang yang menginginkanmu dan sayang padamu, begitu menantikan kelahiranmu sampai seantusis itu ingin bertemu denganmu dan mengadzani juga. Tapi, sayang sekali nak dia milik orang lain tidak akan bisa jadi milik kita!" gumam Iska.


Di ruangan bayi. Ken begitu antusias melihat bayi Iska yang lucu mungil dan sangat cantik.


"Haiii cantiknya daddy ..." sapa Ken.


Ken menggendongnya dan mengadzaninya. Tidak terasa air mata mengalir di pipi Ken. Ken merasakan kalau itu adalah putrinya sendiri bagaimana tidak Ken menyayanginya saat masih dalam kandungan.


Ken menjaga Iska di depan ruangannya bersama Hari tentunya.


"Emmmh Bos seantusias itu?" tanya Hari.


"Aku merasa senang Hari! aku seperti menunggui anak dan isteriku sendiri," Ken tertawa kecil.


"Jadi ... Bos akan menikahinya?" tanya Hari.


"Akan aku tanyakan nanti pada Iska," jawab Ken.


"Emmmh orangtua Bos?" tanya Hari.


"Biar itu urusan belakangan!" jawab Ken.


"Aku pikir Bos harus benar-benar mempertimbangkannya dengan matang. Jika nanti orangtua Bos tidak menerima mereka bukan hanya Iska yang akan sakit tapi anaknya juga," Hari menasehati. Hari tahu betul bagaimana orangtua Ken yang semuanya harus sempurna. Mana nungkin akan menerima Iska yang sudah memiliki anak bahkan belum menikah.


"Itu urusan belakangan Hari. Orangtuaku pasti akan mengerti dengan keputusanku dan aku akan yakinkan mereka agar menerima Iska," jelas Ken.


"Aku hanya mengingatkan Bos saja!" ucap Hari.


"Kamu jangan rusak kebahagiaanku ini Hari. Diamlah!" suruh Ken.


Hari hanya terdiam dan tidak berkata lagi.


"Hana besok pagi juga langsung kesini," ucap Ken.


⬇️⬇️

__ADS_1


__ADS_2