Asmara Sang Pelakor

Asmara Sang Pelakor
Calon keluarga baru


__ADS_3

Iska setuju untuk pergi dan bersiap-siap tentunya menyiapkan Ana juga.


"Wah anak Daddy udah cantik. Sini sama Daddy pangku!" Ana di pangku Ken.


"Aku sudah siap! ayo kita berangkat." Iska keluar dari kamarnya sudah rapih dengan penampilannya yang sederhana membuatnya tetap cantik.


"Ayo kita ke mobil." Ken tersenyum dan berjalan lebih dulu menggandeng Ana.


Iska pamit pada Sarni yang masih berada di rumah Iska dan menitipkan rumahnya pada Sarni. "Mbak aku pergi dulu ya, aku titip rumah sama Mbak."


"Pergilah dan bersenang-senang. Mbak ikut bahagia kalau kamu juga bahagia." Sarni menghapus air matanya karena merasa terharu.


Iska menghapus airmata di pipi Sarni. "Sudahlah Mbak jangan sedih gitu nanti aku juga jadi sedih."


"Maafkan Mbak ya Ka. Mbak hanya merasa terharu aja dan senang jadi ini bukan airmata kesedihan tapi air mata kebahagiaan." Tegas Sarni.


"Kalau begitu aku pergi dulu ya!" Iska pergi ke mobil Ken menyusulnya juga Ana. "Maaf aku lama!" ucapnya pada Ken.


"Tidak apa-apa! ayo kita pergi." Ken melajukan mobilnya. "Kita mampir di toko kue ya! kita belikan kue kesukaan Mamaku dulu." Ken turun dari mobilnya dan mampir ke toko kue bersama Iska juga tentunya.


"Apa yang Mamamu suka?" tanya Iska.


"Mama suka bolu jadul," jawab Ken.


"Emmmh baiklah! yang ini, kan?" tunjuk Iska.


"Wah bener. Itu kesukaan Mamaku bolu jadul yang original, emmmh calon mantu yang luar biasa." Puji Ken.


Iska hanya tersenyum mendengar pujian Ken itu. Ken mengambil kuenya dan membayar itu kemudian mereka melanjutkan perjalanannya ke rumah Ken untuk menemui keluarga Ken. Wajah Iska terlihat khawatir dan gelisah dan Ken melihat itu. "Kamu kenapa? jangan tegang santai saja!" ucap Ken.


Iska menatap Ana yang terduduk di kursi belakang, "apa mereka akan menerima Ana? aku tidak ingin kalau mereka hanya menerimaku saja!"


Ken hanya tersenyum dan menatap Iska dengan penuh harapan. "Tenang saja Iska. Aku sudah ceritakan semuanya pada Mamaku kalau kamu single parent yang punya anak. Mamaku tidak masalah setelah mendengar ceritaku!"


Iska sedikit lega mendengar jawaban dari Ken itu dan hanya tersenyum pada Ken.


Bagaimana kalau sebenarnya kamu tahu kalau Ana masih mempunyai Ayah dan kita tidak pernah terikat dalam pernikahan. Bagaimana kalau Ken tahu kalau selama ini aku berbohong aku belum pernah menikah? Batin Iska.


Iska hanya tersenyum walaupun sebenarnya hatinya tidak nyaman gelisah dan tidak karuan seperti akan menghadapi perang di depan mata.

__ADS_1


Ken menghentikan mobilnya di sebuah perumahan mewah di depan pagar sebuah rumah yang tinggi dan megah. Pagar itu di buka oleh seorang penjaga dan mobil Ken pun masuk ke dalamnya. Sungguh luar biasa dengan apa yang ada di balik pagar tinggi itu sebuah rumah mewah dan megah bernuansa putih dengan halaman yang luas dan banyak bunga-bunga cantik.


"Ini rumah siapa Daddy?" tanya Ana polos.


"Ini rumah Mamanya Daddy. Keluarga Daddy tinggal disini," jawab Ken.


"Wah rumah keluarga Daddy besar sekali bagus dan banyak bunganya juga," ucap Ana polos.


"Kalau Daddy sama Mama menikah nanti Ana juga bisa tinggal di rumah ini," jelas Ken dengan tersenyum.


"Wah pasti akan sangat menyenangkan sekali," Ana sumbringah.


"Aku deg-degan aku takut," tatap Iska pada Ken.


Ken meraih tangan Iska. "Santai saja jangan takut gitu. Keluargaku tidak akan menggigitmu."


"Siapa saja yang ada di rumahmu?" tanya Iska.


"Hanya Mama Papaku dan adik perempuanku. Kakakku sepertinya belum datang karena tidak ada mobilnya." Jawab Ken.


Iska menarik napas panjang dan turun dari mobil bersama Ana mengikuti Ken. Ken meraih tangan Iska dan mereka masuk ke dalam rumah bergandengan. Di depan rumah banyak penjaga berseragam hitam dan mereka hanya mematung saja.


"Menyeramkan Daddy. Mereka semua menyeramkan!" ucap Ana polos.


"Wah kayak di kartun-kartun rumahnya banyak penjaganya seperti kerajaan." Ana masih bicara.


"Ayo kita masuk!" ajak Ken.


Mereka bertiga masuk ke dalam rumah mewah itu dan Iska merasa semakin minder melihat kondisi keluarga Ken yang kaya raya jauh berbeda dengan dirinya tidak punya keluarga dan hanya seorang yatim piatu. Mereka sudah di sambut oleh seorang wanita berusia setengah abad tapi masih cantik dan berpenampilan modis dengan berbagai merek terkenal yang di pakai di badannya.


"Hai kalian sudah datang?" tanyanya.Ternyata itu Mamanya Ken yang bernama Ambar.


"Iya Ma. Kenalkan ini Mariska," tunjuknya pada Iska.


"Oh ini yang namanya Mariska. Cantik!" Ambar memeluk Iska dan tentu saja itu membuat Iska kaget.


"Iya Tante senang bertemu dengan Tante," Senyum Iska.


"Ini pasti Ana ya? wah cantik sekali dan lucu." Ambar juga memeluk Ana.

__ADS_1


"Hai Oma namaku Ana. Aku memang anak cantik tapi Oma juga gak kalah cantik dari Ana," Ana berceloteh.


"Ya ampun kamu pinter juga ternyata. Ah Oma senang kalau ada kamu disini sayang pasti jadi seru tidak sepi lagi," Ambar sumbringah.


Iska sedikit lega melihat sikap Mamanya Ken kepada Ana dan tersenyum melihat itu semua.


"Ayo duduk semuanya disini." Ambar mendudukan Ana di sampingnya. Di ikuti oleh Ken dan Iska yang juga duduk berdampingan, para pelayan menyajikan minuman dan makanan di meja ruang tamu membuat Ana menjadi senang.


"Kamu suka semua makanan ini Ana?" tanya Ambar.


"Suka Oma," jawab Ana dengan melahap makanan yang tersaji. Iska tersenyum kepada Ken dan merasa senang karena kekhawatirannya selama ini terlalu berlebihan.


Saat sedang bercengkrama, tidak lama kemudian Papa Ken muncul dengan seorang pria di belakangnya. Berumur sekitar 65 tahun dengan kacamatanya masih berjalan gagah tidak terlihat seperti lelaki berumur. Hartanto Suardji seorang pengusaha sukses dan kaya raya, duduk di sofa singgasananya.


"Pah. Makasih bersedia menemuiku dan Iska, kenalkan ini Mariska orang yang ingin Ken nikahi." Ken bicara hati-hati. Iska sadar dengan sikap Ken yang berubah dan hanya terdiam.


"Kamu tahu kalau Ken adalah anak laki-laki satu-satunya keluarga Suardji?" tanya Hartanto pada Iska.


"Iya Pak. Ken sendiri yang menceritakan semuanya," jawab Iska.


"Kamu tahu kalau Ken pewaris kekayaan keluarga Suardji, penerus perusahaan-perusahaan yang saya pimpin sekarang," tambahnya.


Iska hanya mendengarkan Papa Ken berbicara. "Saya tidak ingin mendengar kalau kamu hanya ingin harta anak saya saja!"


"Jangan bicara begitu Pah," ucap Ken.


"Papa orang yang to the point. Papa gak suka sebenarnya kalau kamu harus menikahi seorang janda apalagi punya anak. Bagaimana nanti kata keluarga besar dan kolega-kolega Papa?" tegas Hartanto.


"Papa jangan bicara keras-keras. Nanti Iska dengar aku tidak enak. Papa harus percaya padaku kalau Iska memang wanita terbaik pilihanku. Aku mohon Pah kita sudah bahas ini sebelumnya jadi jangan bahas lagi," mohon Ken.


Hartanto beranjak dari duduknya. "Kalian makan saja bersama Mamamu. Papa masih ada pekerjaan penting!" Hartanto pun pergi bersama asisten pribadi di belakangnya menuju ruang kerja yang tidak jauh dari ruang tamu.


"Kita makan siang aja yu sekarang. Sepertinya menunggu kakakmu juga tidak akan datang dan adikmu juga masih belum pulang," Ambar mencairkan suasana.


"Ayo Iska." Ken meraih tangan Iska dan mereka makan bersama di meja makan.


Setelah selesai makan Iska di ajak berkeliling rumah mewah itu oleh Ambar. Ana berlarian kesana kemari karena rumah yang begitu luas. Sepertinya Ambar menyukai Iska yang apa adanya. Ana berlari sendirian dan menjatuhkan bonekanya di kaki Hartanto kemudian Hartanto mengambilnya. "Opa ... ini boneka Ana," ucap Ana polos.


Hartanto memberikannya pada Ana tanpa sepatah katapun. "Makasih Opa baik. Ana senang akhirnya akan punya Opa sama Oma ...." Ana mencium tangan Hartanto dan berlalu pergi berlari.

__ADS_1


Hartanto hanya memperhatikannya, hatinya sepertinya tak tersentuh sedikitpun oleh Ana dan berlalu pergi entah kemana.


⬇️⬇️


__ADS_2